Pencemaran Udara Intai Generasi Muda, Bonus Demografi Terancam

Reading time: 2 menit
Pencemaran udara mengancam generasi muda yang masuk dalam kategori bonus demografi. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Bonus demografi Indonesia yang berisi generasi muda dan usia produktif terancam dampak pencemaran udara. Berdasarkan studi Organisasi Kesehatan Dunia WHO di Amerika Serikat, peningkatan konsentrasi 25 mikrogram/m3 pada PM2.5 dapat menyebabkan kematian pada usia produktif.

Pengamat Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sukamdi mengatakan, usia produktif merupakan penduduk dengan usia 15-64 tahun. Sementara usia tidak produktif yaitu penduduk dengan usia kurang dari 15 tahun dan lebih dari 65 tahun ke atas. Ia sependapat generasi muda sangat rentan berpotensi terpapar pencemaran udara.

“Di usia-usia ini mereka sangat aktif dan kerap beraktivitas di luar ruangan dan ini membuat mereka rentan, termasuk pada pencemaran udara. Dikhawatirkan kondisi ini juga berdampak pada tingkat kesehatan dan produktivitas mereka ke depannya,” katanya kepada Greeners, Senin (11/7).

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut usia produktif mendominasi 70,72 persen dari total 270 juta penduduk di Indonesia. Sementara generasi Z yang lahir pada usia 1997-2012 merupakan generasi dengan porsi terbesar, yakni 27,94 persen dari total jumlah penduduk produktif.

Sukamdi menyatakan, perlu optimalisasi posisi generasi muda sebagai usia produktif dengan memastikan tingkat kesehatan dan peluang mendapatkan kesempatan kerja.

“Jika langkah ini tak dilakukan maka kita tak bisa optimal dalam memanen dan memanfaatkan bonus demografi kita di tahun 2030 nanti,” imbuhnya.

Pernyataan Sukamdi ini sekaligus menjadi pengingat peringatan Hari Populasi Sedunia pada 11 Juli 2022. Menurut PBB, Hari Populasi Sedunia mengingatkan cara mensejahterakan penduduk di seluruh dunia.

Maksimalkan Potensi Bonus Demografi

Sukamdi menyebut, peringatan Hari Populasi Sedunia hendaknya menjadi momentum untuk memaksimalkan potensi bonus demografi di tahun 2030. “Ini harus dilakukan sebelum nanti setelah fase ini habis maka kebanyakan penduduk kita ada di usia tidak lagi produktif (lebih dari 65 tahun) dan menyebabkan ketergantungan,” ungkapnya.

Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Budi Haryanto mengatakan, pencemaran udara menyebabkan kematian prematur, kanker paru-paru, serangan jantung, gangguan pernapasan, berkurangnya fungsi paru-paru serta kelahiran prematur.

Ia menegaskan, berbagai sumber pencemaran udara mulai dari polusi kendaraan bermotor, industri, debu jalanan, pembakaran sampah, hingga proses konstruksi. Sebagai kontribusi sumber pencemaran terbesar, kendaraan bermotor menghasilkan polusi yang salah satu kandungannya yaitu partikulat PM2.5.

Ia menyatakan, pentingnya upaya preventif dengan mendorong generasi muda agar selalu melindungi diri pakai masker, utamanya bila berkegiatan di luar ruangan. Selain itu, pemerintah harus memastikan peraturan untuk menekan sumber pencemaran udara.

“Pemerintah harus melakukan terobosan-terobosan yang revolusioner dan cepat seperti membatasi penggunaan kendaraan bermotor. Karena di sini sudah jelas sangat berdampak pada produktivitas mereka,” paparnya.

Generasi Muda Dorong Kampanye Lingkungan

Sementara itu aktivis Lingkungan dari Drivers Clean Action Swietenia Puspa Lestari menilai, sebagai generasi yang terdampak pencemaran udara, generasi muda harus menjadi garda terdepan menyuarakan kampanye dan edukasi terkait dampak pencemaran udara. Misalnya, dalam pemilihan gaya hidup yang tidak berkontribusi terhadap pencemaran udara.

“Kita butuh lebih banyak anak muda yang bisa menyuarakan terkait permasalahan ini, seperti pencemaran udara ini kepada masyarakat luas,” imbuhnya.

Ia mendorong aksi ini harus merata generasi muda lakukan di seluruh Indonesia. Sudah seharusnya lanjutnya, program-program yang melibatkan generasi muda secara meaningful engagement, bukan sekadar seremonial. Terlebih, generasi muda dapat berkontribusi dalam upaya perubahan perilaku.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page