Tahun 2016 Tercatat Sebagai Rekor Tertinggi Bencana Sejak 2012

Reading time: 3 menit
catatan bencana
Foto : pixabay.com

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.342 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2016. Jumlah ini dinyatakan sebagai rekor tertinggi catatan bencana di Indonesia sejak tahun 2012.

Sebagai perbandingan pada tahun 2016 (2.342 bencana), 2015 (1.732 bencana), 2014 (1.967 bencana), 2013 (1.674 bencana), 2012 (1.811). Dibandingkan dengan kejadian bencana tahun 2015, tahun 2016 terjadi peningkatan sebesar 35 persen.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB memaparkan, dari 2.342 bencana tersebut sekitar 92 persen adalah bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh banjir, longsor dan puting beliung. Banjir adalah bencana yang paling banyak tercatat. Sedangkan longsor tercatat sebagai bencana yang paling mematikan selama 2016. Lalu, untuk bencana geologi, selama tahun 2016 terjadi 5.578 gempa bumi atau rata-rata 460 gempa setiap bulan, dan 12 gempa diantaranya merusak.

“Untuk bencana letusan gunung api, hingga saat ini terdapat 16 gunung api aktif dari 127 gunung api yang statusnya di atas normal,” paparnya kepada Greeners,” Jakarta, Jumat (30/12).

BACA JUGA: Puncak Musim Hujan Diprediksi Meningkatkan Bencana Hidrometeorologi

Secara kumulatif, menurut catatan BNPB selama 2016, telah terjadi 766 bencana banjir, 612 longsor, 669 puting beliung, 74 kombinasi banjir dan longsor, 178 kebakaran hutan dan lahan, 13 gempa, 7 erupsi gunung meletus, dan 23 gelombang pasang dan abrasi. Dampak yang ditimbulkan bencana sendiri telah menyebabkan 522 orang meninggal dunia dan hilang, 3,05 juta jiwa mengungsi dan menderita, 69.287 unit rumah rusak dimana 9.171 rusak berat, 13.077 rusak sedang, 47.039 rusak ringan, dan 2.311 unit fasilitas umum rusak.

Untuk banjir, longsor dan puting beliung, dikatakannya, jika dibandingkan dengan tahun 2015, kejadian banjir meningkat 52 persen, longsor 19 persen, putting beliung 15 persen dan kombinasi antara banjir dan longsor meningkat 139 persen. Selama 2016 terjadi 766 kejadian banjir yang menyebabkan 147 jiwa meninggal dunia, 107 jiwa luka, 2,72 juta jiwa mengungsi dan menderita, dan 30.669 rumah rusak. Daerah rawan banjir pun meluas seperti adanya kejadian banjir besar yang sebelumnya belum pernah terjadi seperti banjir di Pangkal Pinang, Kota Bandung, Kota Bima dan lainnya.

Sedangkan longsor telah menyebabkan 188 jiwa meninggal dunia. Tingginya kerentanan longsor menyebabkan longsor menjadi bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa. Ada 40,9 juta jiwa masyarakat terpapar dari bahaya sedang-tinggi dari longsor. Selanjutnya, bencana gempa bumi pun berdasarkan kekuatannya terjadi sebanyak 181 kali gempa di atas Magnitude (M) 5, 10 kali  gempa dengan kekuatan M 6 sampai 6,9 dan 1 kali  gempa berkekuatan M 7,8 (pada 2/3/2016).

“Gempa paling merusak adalah gempa Pidie Jaya M 6,5 pada 7/12/2016 yang menyebabkan 103 jiwa meninggal dunia, 267 jiwa luka berat, 127 jiwa luka berat, 91.267 jiwa mengungsi, 2.357 rumah rusak berat, 5.291 rumah rusak sedang, 4.184 rumah rusak ringan dan kerusakan lainnya. Kejadian gempa M 7,8 dan tsunami kecil pada 2/3/2016 memberikan pembelajaran bahwa peringatan dini sudah berjalan dengan baik. Namun masih ada masalah di hilirnya yaitu respon Pemda dan masyarakat saat terjadi peringatan dini tsunami,” tambahnya.

BNPB sendiri menekankan pentingnya pengarusutamaan budaya sadar bencana. Menurut Sutopo, pengetahuan masyarakat mengenai bencana mulai tumbuh pascabencana tsunami Aceh 2004 lalu. Pengetahuan kebencanaan meningkat signifikan. Namun, pengetahuan tersebut belum menjadi sebuah sikap dan perilaku.

Secara umum, katanya, budaya sadar bencana di masyarakat masih rendah. Masyarakat masih sering mengabaikan aspek risiko bencana dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya masih sangat minim kontruksi rumah tahan gempa yang dibangun masyarakat maupun swasta. Saat terjadi gempa korban berjatuhan dan dampak ekonominya besar.

Ia memberi contoh Gempa M 6,5 di Pidie Jaya yang termasuk gempa menengah. Tapi korbannya 103 jiwa meninggal, ratusan luka, lebih dari 11 ribu rumah rusak dan kerugian ekonomi mencapai Rp 2,94 trilyun. Bandingkan dengan gempa M 7,8 dengan epicentrum di darat di New Zealand tetapi hanya menimbulkan korban 2 jiwa meninggal dunia karena pemerintah dan masyarakat sangat taat terhadap building code bangunan tahan gempa.

“Kita perlu mewujudkan budaya sadar bencana, mengingat jutaan masyarakat Indonesia terpapar potensi bahaya yang berujung bencana,” pungkasnya.

Penulis : Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page