Pendanaan Masih Jadi Kendala Rehabilitasi Mangrove di Indonesia

Reading time: 3 menit
Mangrove punya kemampuan menyerap emisi yang tinggi. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Mangrove punya peran menekan dampak perubahan iklim karena kemampuannya menyerap emisi. Indonesia pun menargetkan rehabilitasi mangrove yang rusak mencapai 600.000 hektare (ha) hingga tahun 2024. Namun sayangnya, Indonesia masih punya sejumlah kendala merehabilitasi mangrove salah satunya pendanaan.

Peringatan Hari Mangrove Sedunia setiap 26 Juli menjadi momentum khususnya untuk Indonesia agar terus merehabilitasi hutan mangrove. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah membuat arahan dan target rehabilitasi hutan mangrove hingga tahun 2024.

Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Satyawan Pudyatmoko mengatakan, pada Agustus 2022 nanti akan merehabilitasi 11.000 hektare  (ha) area hutan mangrove. Pada tahun 2021, BRGM telah berhasil melakukan rehabilitasi 35.000 ha lahan mangrove.

Ia menjelaskan, selain mampu mengurangi dampak kenaikan air laut dan angin badai di pesisir akibat perubahan iklim, mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon lebih besar jika kita bandingkan dengan ekosistem lain.

“Rata-rata karbon yang tersimpan pada mangrove di biomassa dan di tanah kira-kira mencapai 1.000 ton CO2 ekuivalen. Empat hingga 5 kali lebih besar dibanding tipe ekosistem lain,” katanya kepada Greeners, Selasa (26/7).

Oleh karena itu penting untuk memastikan penanaman dan tumbuh kembangnya mangrove. Termasuk juga meningkatkan jumlah dan kerapatannya. “Memulihkan keberadaannya sangat strategis untuk melindungi cadangan emisi sekaligus menangkap karbon di udara,” ucapnya.

Pendanaan Rehabilitasi Mangrove Rp 25 Juta Per Hektare

Lebih jauh ia menyatakan rehabilitasi mangrove BRGM lakukan di 9 provinsi yakni, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua dan Papua Barat. Adapun dananya menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Satyawan menyebut, beragam tantangan, utamanya terkait masalah pendanaan dan sosial ekonomi sangat berdampak pada keberlanjutan rehabilitasi mangrove ini. “Kalau masalah teknis, seperti teknologi itu relatif mudah diselesaikan, tapi masalah pendanaan dan sosial ekonomi lebih krusial,” ujar dia.

Menurutnya, kendala rehabilitasi kawasan mangrove antara lain penyiapan lahan serta keterbatasan dukungan pendanaan. Ia menambahkan, rehabilitasi satu ha lahan mangrove sekitar Rp 20 juta hingga Rp 25 juta.

Ia menegaskan, saat ini BRGM membutuhkan dukungan pendanaan dari berbagai sumber. Sumber tersebut antara lain dana rehabilitasi dari pinjam pakai kawasan hutan, kerja sama dengan perusahaan swasta, filantropi hingga pinjaman dari luar negeri.

Aspek yang tak kalah penting, sambung Satyawan yaitu payung hukum untuk perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Utamanya untuk kawasan yang berada di luar kawasan hutan.

Selain itu berbagai tantangan lain yang memengaruhi keberhasilan rehabilitasi mangrove, yaitu ketepatan dalam pemilihan tempat dan jenis spesies mangrove. Selanjutnya kesiapan dan kesediaan masyarakat setempat untuk mendukung rehabilitasi mangrove dan dukungan pemerintah daerah untuk merehabilitasi mangrove.

Restorasi mangrove memegang peranan penting. Sebab mangrove berpotensi besar menyerap emisi karbon. Foto: Shutterstock

Keterlibatan Masyarakat Sekitar Pegang Peran Kunci

Pakar karhutla dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo menilai, pentingnya informasi tentang kondisi mangrove dan kondisi ekosistemnya. Misalnya, kondisi pasang surut, jenis mangrove yang tumbuh di lokasi terkait dan kondisi tanahnya.

“Sebab ini akan sangat berpengaruh dengan kelanjutan pertumbuhan mangrove yang akan ditanam. Jangan sampai sehari setelah ditanam kemudian mangrove tersebut hilang disapu ombak,” imbuhnya.

Bambang juga mengingatkan, pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar, utamanya dalam mengawal keberlanjutan mangrove. Ia menilai kegiatan pemulihan mangrove perlu dapat dukungan kesadaran dan peran masyarakat.

“Ini merupakan modal yang baik dalam keberhasilan mangrove ke depan. Sebab pertumbuhan mangrove setelah ditanam perlu dikawal, jadi tidak bisa ditinggal begitu saja,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top