Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penemuan spesies baru tanaman hias dari genus Rhododendron subgenus Vireya yang berasal dari Sulawesi Tengah. Spesies baru tersebut bernama Rhododendron yombuwurii Hutabarat, Bandjolu & Zulfadli.
Temuan tersebut terpublikasi dalam jurnal internasional bereputasi, Taiwania Volume 71 Nomor 2 tahun 2026. Judul penelitian ini yaitu Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian Prima Wahyu Kusuma Hutabarat dan Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Mereka bekerja sama dengan peneliti dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung, serta Universitas Hasanuddin.
Spesies ini pertama kali dijumpai sebagai tanaman hidup yang dipelihara di sekitar kawasan wisata Air Terjun Saluopa, Tenten, Sulawesi Tengah pada Juni 2023. Kemudian, peneliti menelusuri lebih lanjut. Terungkap bahwa spesimen epifit ini aslinya berasal dari hutan pegunungan di Pegunungan Tokorondo, Tentenan bagian barat, dan Danau Poso. Keberadaannya pada ketinggian sekitar 1000-1800 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum akhirnya jatuh dan diselamatkan oleh warga lokal.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Prima Wahyu Kusuma Hutabarat menerangkan secara morfologi, Rhododendron yombuwurii memiliki karakteristik khas berupa semak epifit ramping. Misal, bunganya berbentuk corong sempit berwarna jingga cerah yang tumbuh semi-tegak atau horizontal. Ia menjelaskan bahwa secara kekerabatan morfologi, tanaman ini paling dekat dengan Rhododendron celebicum.
“Namun, Rhododendron yombuwurii memiliki perbedaan yang sangat nyata. Di antaranya ukuran daun yang lebih kecil, susunan bunga yang semi-tegak bukan menggantung. Ukuran bunga yang jauh lebih kecil dan berwarna jingga cerah. Berbeda dengan R. celebicum yang bunganya berukuran besar dan berwarna merah muda hingga merah,” kata Prima dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/6).
Gunakan Teknologi Mutakhir
Sementara itu, untuk memperkuat penentuan status taksonomi tersebut, BRIN tidak hanya melakukan pengamatan fisik secara konvensional. Namun, mereka juga menggunakan teknologi mutakhir.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN lainnya yang juga ikut terlibat penelitian, Muhammad Rifqi Hariri mengatakan bahwa analisis pencitraan struktur mikroskopis daun menggunakan Focused Ion Beam Scanning Electron Microscope (FIB-SEM) Aquilos 2 di laboratorium genomik BRIN Cibinong. Alat ini untuk mengidentifikasi bentuk sisik (scales) spesifik pada daun.
Selain itu, peneliti juga melakukan pendekatan integratif berbasis analisis DNA molekuler pada wilayah Internal Transcribed Spacer (ITS) ribosomal nukleus. Tujuannya untuk memastikan bahwa tanaman ini merupakan garis keturunan yang terpisah dan sah sebagai spesies baru.
“Nama epitet yombuwurii merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri. Ia seorang tokoh agama dan adat dari Suku Pamona yang terkenal sangat gigih dalam menyuarakan kelestarian dan konservasi keanekaragaman hayati di wilayah Poso,” terang Rifqi.
Secara ekologis, wilayah Pegunungan Tokorondo tempat asal spesies ini memiliki potensi biodiversitas yang sangat tinggi. Namun, secara historis masih minim dieksplorasi karena keterbatasan akses.
Berdasarkan kajian konservasi awal menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies baru ini dikategorikan ke dalam status Data Deficient (DD) atau Kekurangan Data. Hal tersebut dikarenakan populasinya yang belum pernah diobservasi secara langsung di habitat aslinya di dalam hutan interior. Dengan demikian, perlu survei lapangan sistematis lebih lanjut di masa mendatang.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































