Jakarta (Greeners) – Material daur ulang dari sampah menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk yang unik dan bernilai. Hal ini dibuktikan oleh desainer produk asal Tokyo, Kenji Abe, yang menciptakan lampu artistik dari kaleng soda bekas.
Alih-alih memurnikan aluminium hasil daur ulang hingga menyerupai material baru, Kenji justru mempertahankan berbagai ketidaksempurnaan yang muncul selama proses pengolahan. Kerutan, gelembung udara, hingga bekas tinta dari kaleng asli dibiarkan tetap terlihat sebagai bagian dari karakter material.
Tinta yang tersisa pada permukaan kaleng meresap ke dalam logam saat proses peleburan. Hasilnya menghadirkan tekstur yang lebih menyerupai batuan atau tulang lapuk dibandingkan aluminium yang diproduksi secara massal. Karakter inilah yang membuat setiap lampu memiliki tampilan berbeda dan sulit untuk direplikasi.
Pada hasil akhirnya, material tersebut tampak seperti bahan alami. Permukaannya menampilkan lekukan, tonjolan tak beraturan, serta garis-garis halus yang jauh dari kesan logam hasil proses industri. Jejak asal-usul kaleng soda masih tersimpan dalam material tersebut, meski hampir tidak lagi terlihat dalam bentuk akhirnya.
Terinspirasi Organisme Laut Mikroskopis
Keunikan lampu ini tidak hanya terletak pada materialnya, tetapi juga pada bentuknya. Kenji mengambil inspirasi dari foraminifera, organisme laut mikroskopis yang memiliki cangkang berpori dengan banyak lubang dan rongga kecil.
Bentuk tersebut kemudian dipadukan dengan karakter batuan yang terkikis oleh alam. Melalui proses penambahan dan pengurangan elemen geometris secara cermat, terciptalah struktur organik yang berongga dan penuh detail.
Saat lampu menyala, cahaya memantul di dalam ruang kosong tersebut sebelum keluar melalui lubang-lubang kecil di permukaannya. Efek yang dihasilkan menciptakan permainan cahaya yang lembut sekaligus memperkuat kesan alami pada objek tersebut.
Lampu ini bernama Aperire, yang berasal dari bahasa Latin dan berarti “membuka”. Nama tersebut berkaitan dengan aperture pada kamera, yaitu mekanisme yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke lensa. Selain itu, kata Aperire juga memiliki hubungan dengan bulan April, musim ketika bunga-bunga mulai bermekaran.
Melalui karya dari buah tangan Kenji ini menunjukkan bahwa desain berkelanjutan tidak harus mengorbankan nilai estetika. Sebaliknya, material bekas yang sering dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk dengan karakter visual yang kuat dan fungsi yang tetap relevan.
Inovasi tersebut menjadi inspirasi bagi para desainer dan pegiat seni untuk melihat sampah dari perspektif berbeda. Dengan kreativitas dan pendekatan yang tepat, barang-barang bekas dapat bertransformasi menjadi karya yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghadirkan nilai artistik untuk mengisi ruangan lebih memukau.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































