Sambut HCPSN 2017, KKP Suarakan Pentingnya Konservasi Dugong dan Padang Lamun

Reading time: 2 menit
padang lamun
Duyung atau dugong (Dugong dugon) di padang lamun. Foto: flickr.com/ruthanddave

Jakarta (Greeners) – Dalam rangka menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap tanggal 5 November, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut menyuarakan kepada semua pihak tentang pentingnya upaya konservasi/perlindungan terhadap ekosistem padang lamun yang menjadi habitat mamalia laut eksotik Duyung (Dugong dugon).

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Brahmantya Satyamurti Poerwadi mengatakan, pada dasarnya padang lamun memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Ekosistem ini menunjang keberlangsungan sumber daya perikanan di Indonesia. Sebagai contoh, berbagai jenis komoditas perikanan, seperti ikan baronang (samandar), kepiting rajungan, dan kerang-kerangan banyak ditemukan di padang lamun.

Selain bermanfaat bagi perikanan, padang lamun juga membantu mengurangi laju perubahan iklim dengan menyerap emisi karbondioksida. Padang lamun juga dapat menahan gelombang serta menangkap dan menyetabilkan sedimen, sehingga air menjadi lebih jernih. Masyarakat, katanya, sesungguhnya mampu untuk berkontribusi sesederhana mungkin dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membeli produk berbahan dasar duyung seperti air mata maupun taring, serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kolaboratif untuk meningkatkan kesadartahuan terhadap fungsi dan peran habitat lamun bagi ekosistem pesisir.

“Masyarakat sudah harus sadar untuk lebih bertanggung jawab terhadap ekosistem pesisir/padang lamun yang notabene juga merupakan habitat duyung,” jelas Brahmantya, Jakarta, Jumat (03/10).

BACA JUGA: KKP Masukkan 20 Spesies Laut Terancam Punah dalam Rencana Aksi Nasional

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dirhamsyah, mengatakan, duyung dan lamun merupakan dua biota yang tidak dapat dipisahkan. Padang lamun merupakan habitat penting bagi duyung yang memakan daun dan rizoma lamun terutama dari spesies pionir seperti genus Halophila dan Halodule.

Berdasarkan data LIPI, dari 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia hanya 5 persen yang tergolong sehat, 80 persen kurang sehat, dan 15 persen tidak sehat. Padang lamun dihadapkan pada ancaman alih fungsi kawasan pesisir, penurunan kualitas air laut, dan praktik perikanan yang merusak.

Namun, kendati merupakan salah satu satwa yang dilindungi, duyung adalah salah satu mamalia laut eksotik yang belum banyak mendapat perhatian mengenai upaya perlindungannya. Kehilangan habitat utama yaitu padang lamun, merupakan salah satu ancaman serius bagi keberlanjutan populasi duyung. Di sisi lain, status populasi duyung dapat menjadi indikator dari kesehatan ekosistem pesisir secara umum.

“Hilangnya habitat duyung tersebut, antara lain akibat aktivitas manusia di daratan seperti polusi, reklamasi, sampah dan sebagainya,” tambahnya.

BACA JUGA: Dugong dan Habitatnya Butuh Upaya Konservasi Terpadu

Sebagai informasi, hasil survei kesadaran publik yang dilaksanakan oleh WWF-Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa 92 persen responden belum sepenuhnya sadar dan tahu secara penuh keterkaitan antara duyung dan lamun. Padahal, melindungi duyung berarti harus memperhatikan kondisi habitatnya, yaitu padang lamun. Dan laju kerusakan habitat lamun yang disebabkan oleh faktor manusia (anthropogenic stress) dapat ditekan bila masyarakat sadar akan keterkaitan antara dua biota tersebut.

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor akan menggalang partisipasi aktif berbagai pihak dalam upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan habitat duyung dan lamun, khususnya di lokasi-lokasi strategis yaitu Bintan, Alor, Tolitoli, dan Kotawaringin Barat.

Penulis: Danny Kosasih

Top
You cannot copy content of this page