Jakarta (Greeners) – Polusi udara masih menjadi permasalahan lingkungan yang serius di berbagai kota, termasuk Tangerang Selatan. Masalah ini tidak bisa dianggap sepele dan perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan manusia.
Urban and Environmental Health Lead Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Wisya Aulia Prayudi, mengatakan bahwa Tangerang Selatan masih menjadi salah satu kota dengan polusi yang tinggi di Indonesia. Hal ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular akibat polusi udara.
Ia mengungkapkan bahwa PM2,5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai. Sebab, bisa menurunkan kualitas kesehatan dalam jangka waktu yang lama karena bisa masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber utama pencemaran udara di Tangerang Selatan dan wilayah lain di Jabodetabek.
“Polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Selain memicu gangguan pernapasan, polusi udara turut memengaruhi produktivitas kelompok usia muda dengan mobilitas tinggi,” kata Wisya dalam acara diskusi publik Health Inc, Sabtu (13/6).
Wisya menjelaskan, Tangerang Selatan merupakan salah satu wilayah kota satelit Jakarta yang terus mengalami pertumbuhan mobilitas. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Banten, Wisya menuturkan pertumbuhan kendaraan bermotor di Tangerang Selatan cenderung meningkat, yaitu sebanyak 1,63 juta unit pada 2025.
Angka ini berkorelasi langsung dengan aktivitas harian masyarakat yang berkontribusi pada meningkatnya emisi, salah satu sumber utama polusi udara. Ia juga menambahkan wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya kerap mencatatkan konsentrasi PM2.5 melebihi ambang batas aman, yaitu di atas 50 µg/m³. Nilai ini lebih tinggi dari target interim WHO tertinggi (Interim I) sebesar 35 µg/m³.
“Dampak polusi udara sering kali tidak kita sadari karena sifatnya tidak kasat mata, menjadikan polusi udara sebagai silent stressor dalam kehidupan perkotaan,” ujar Wisya.
Benahi Sistem Transportasi
Sementara itu, isu polusi udara juga tidak bisa hanya tampak dari aspek lingkungan, tetapi juga dari perspektif kesehatan. Maka dari itu, pemerintah penting untuk melakukan upaya serius untuk mengatasi permasalahan ini.
Program Director Bike2Work Indonesia Dimas Gilang mengatakan bahwa pemerintah perlu menyediakan sistem transportasi yang lebih sehat serta ramah lingkungan, khususnya di wilayah kota satelit seperti Tangerang Selatan.
Ia bersama komunitasnya juga telah menyuarakan pembenahan sistem transportasi agar semua moda transportasi bisa saling terhubung. Mereka juga mendorong tersedianya parkiran sepeda agar pesepeda bisa mengakses transportasi umum dengan nyaman.
“Sistem transportasi yang saat ini membuat kita jadi malas bergerak. Maka dari itu, kita bisa memulai perubahan dari hal-hal kecil dan sederhana, kalau jaraknya dekat bisa berjalan kaki saja dan konsisten,” ujarnya.
Di sisi lain, paparan polusi udara juga bisa berpengaruh pada psikologis manusia. Psikolog klinis dari organisasi Noutrisi Jiwa Winona Lalita mengatakan, tekanan akibat perjalanan panjang, paparan polusi selama mobilitas, dan tuntutan aktivitas sehari-hari dapat memperburuk tingkat stres dan kelelahan, khususnya pada mahasiswa dan pekerja muda.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan mental di tengah kondisi lingkungan yang menantang bisa dilakukan dengan mengambil rehat sejenak.
“Kalau dari sisi psikologisnya, kita bisa mulai dengan menyadari nafas kita. Dengan memberikan jeda, kita dapat mengurangi kecemasan. Kecemasan yang timbul akibat berada di lingkungan berpolusi juga dapat kita kurangi. Caranya, mengawali kegiatan dengan melihat tanaman setelah bangun tidur,” kata Winona.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































