Terdampak Madden Julian Oscillation (MJO), Puluhan Ribu Warga Sulawesi Terkena Banjir

Reading time: 3 menit
Foto : BNPB
Jakarta (Greeners) – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) memicu banjir di beberapa wilayah Sulawesi pada awal Juni 2019.
 
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) banjir di wilayah Sulawesi ini disebabkan oleh Intensitas hujan tinggi karena fenomena aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation yang memasuki wilayah Samudera Hindia.
 
Kepala Bidang Perubahan Iklim BMKG Kadarsah mengatakan aktivitas MJO ini berpotensi cukup signifikan mendukung pembentukan awan hujan di Indonesia bagian tengah dan timur yang diprakirakan akan berlangsung hingga 5 hari ke depan, antara 11 – 15 Juni 2019.
 
Osilasi ini dihasilkan dari sirkulasi sel skala besar di ekuatorial yang bergerak ke timur dari laut Hindia ke Pasifik Tengah.
 
 
Lanjutnya, pergerakan awan ke arah timur inilah yang diasosiasikan dengan osilasi Madden Julian Oscillation. Anomali angin Zonal dan kecepatan potensial di troposfer atas yang sering menyebar untuk melakukan siklus mengitari bumi.
 
Proses tersebut ditandai dengan perubahan tekanan permukaan dan momentum relatif angular atmosfer. Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan variasi intraseasonal (kurang dari setahun) yang terkenal di daerah tropis,” ujarnya saat dihubungi oleh Greeners hari Selasa (11/6) melalui telepon.
 
Banjir Melanda Beberapa Provinsi di Sulawesi
 
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (10/6) terdapat 4.815 KK atau puluhan ribu warga terdampak karena banjir di sejumlah kebupaten terdampak banjir di Provinsi Sulawesi Selatan (2.900 KK), Sulawesi Tenggara (1.091 KK), dan Sulawesi Tengah (824 KK).
 
Bencana di beberapa provinsi tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sektor pemukiman, pertanian, perikanan serta fasilitas umum.
 
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB mengatakan perkembangan situasi per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi di enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.
 
“Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan  72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha,” ujar Sutopo dalam keterangan pers, Senin (10/05/2019).
 
 
Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentfikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah dan fasilitas kesehatan. BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit dan puskesmas pembantu (Pustu) 2 unit.
 
Sedangkan banjir di Sulawesi Selatan, Sutopo mengatakan korban jiwa berdampak pada 1.452 KK, Kelurahan Tanru Tedong 1.002 KK dan Desa Salobukkang 450 KK. Sejumlah 200 unit rumah terendam. Total lahan sawah rusak di 15 desa mencapai 3.676 ha. Kerusakan infrastruktur mencakup bangunan sekolah, tanggul, jalan dan jembatan.
 
“Bencana banjir lainnya di Sulawesi Tengah, BPBD Kabuapten Morowali telah melakukan upaya penanganan darurat. Banjir menyebabkan 561 KK di Desa Lele (263 KK) dan Dampala (298 KK) mengungsi. Pascabanjir, kerusakan materiil teridentifikasi sebagai berikut rumah rusak berat 7 unit, rumah terendam 45 unit, dan jembatan putus 1 unit,” jelasnya.
 
Merespon kondisi di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara telah menetapkan status tanggap darurat terhitung 2 Juni 2019 hingga 16 Juni 2019. Upaya penanganan darurat yang telah dilakukan antara lain pengoperasian pos komando penanganan darurat banjir yang berada di rumah jabatan bupati, evakuasi dan penyelamatan, penanganan warga terdampak, pendataan serta pengaktifan jaringan komunikasi untuk penanganan darurat.
 
 
Penulis : Dewi Purningsih
 
 
Top