14 Jenis Baru Cecurut di Sulawesi Jadi Temuan Spektakuler

Reading time: 3 menit
Salah satu jenis cecurut yang BRIN ditemukan dari ekpedisi di Sulawesi. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama rekan mitra penelitiannya berhasil menemukan 14 jenis baru cecurut di Sulawesi. Penemuan sekitar satu dekade ini merupakan penemuan terbesar dari kelompok mamalia yang terpublikasi sejak tahun 1931.

Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN Anang S Achmadi bersama rekannya Jake Esselstyn, ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU), Amerika Serikat dan Kevin C. Rowe, ahli mamalia dari Museum Victoria Australia berhasil menemukan 14 jenis baru cecurut di Sulawesi.

Cecurut adalah kelompok mamalia yang sangat beragam. Sejauh ini 461 spesies telah teridentifikasi. Fauna ini memiliki distribusi yang sangat luas dan mendunia. Hewan pemakan serangga ini adalah kerabat dekat dari landak dan moles daripada jenis mamalia lainnya

Anang yang saat ini menjabat Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Riset Biologi BRIN mengatakan, penemuan 14 cecurut di Sulawesi ini menjadi sangat penting sebagai langkah untuk terus mendapatkan informasi dan inventarisasi jenis fauna, khususnya mamalia di Indonesia.

“Penemuan ini terungkap saat kami bersama tim memeriksa hampir 1.400 spesimen cerurut secara intensif,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (20/12).

Ia menjelaskan, penemuan ini juga melalui konfirmasi data molekular dan morfologi spesimen baru yang dikoleksi sejak tahun 2010 dan 2018. Selain itu juga dengan spesimen lama yang BRIN koleksi sejak tahun 1916.

“Kami berhasil mengidentifikasi sekitar 21 jenis cerurut dari Sulawesi. Total 14 cerurut di antaranya termasuk jenis baru. Penemuan ini menambah keanekaragaman cecurut Sulawesi menjadi tiga kali lebih banyak daripada yang diketahui dari pulau lain mana pun,” ungkapnya.

Penemuan Jenis Baru Cecurut Sangat Menarik

Tak hanya itu, Esselstyn juga mengakui bahwa penemuan ini sangat menarik. Walaupun terkadang membuat frustrasi. “Biasanya, kami menemukan satu jenis baru pada satu waktu dan mendapatkan suatu sensasi yang luar biasa dari penemuan tersebut,” ujar Profesor dari Departemen Ilmu Biologi LSU ini.

Tetapi, dalam kasus ini lanjutnya menjadi luar biasa. Sebab selama beberapa tahun pertama, tim tidak dapat mengungkapkan berapa banyak spesies sebenarnya yang telah diperoleh. Esselstyn menambahkan, taksonomi berfungsi sebagai ilmu dasar dari begitu banyak penelitian biologi dan upaya konservasi.

“Ketika kita tidak mengetahui berapa banyak jenis yang ada atau dimana mereka hidup, kemampuan kita untuk memahami dan melestarikan kehidupan sangat terbatas. Sangat penting bagi kami untuk mendokumentasikan dan mengungkap keanekaragaman tersebut,” kata Esselstyn.

Anang juga menambahkan, saat ini peneliti masih terus melakukan penelitian dan mendeskripsikan jenis baru dari kelompok mamalia. “Dengan penemuan ini, yang sesungguhnya dapat merefleksikan kekayaan hayati yang berasal dari kelompok fauna kecil atau mikroskopis yang belum terungkap. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti BRIN di masa depan,” papar Anang.

Para peneliti mengungkap temuan 14 jenis cecurut di Sulawesi ini sangat menarik. Foto: BRIN

Penemuan Jadi Tonggak Penelitian

Penemuan ini merupakan tonggak utama dalam penelitian Professor Jake Esselstyn. Dirinya tertarik untuk menguji hipotesis secara ekologi dan evolusi yang mungkin dapat menjelaskan keragaman cecurut di Indonesia.

Bersama dengan Achmadi, Esselstyn memulai penelitian kelompok tikus di pulau Sulawesi sejak tahun 2010. Ternyata mereka menyadari terlalu banyak jenis yang belum terungkap untuk menguji hipotesis tersebut.

Beberapa tim lain yang juga terlibat dalam ekspedisi penelitian ini yakni Heru Handika, mahasiswa Doktoral LSU, Mark Swanson alumnus dari LSU dan Thomas Giarla dari Siena College New York.

Sebagai informasi, temuan ini telah terpublikasi pada Buletin American Museum of Natural History, 454(1) : 1- 108, dengan judul “Fourteen New Endemic Species of Shrew (Genus Crocidura) from Sulawesi Reveal a Spectacular Island Radiation.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page