Arumdalu, Mekar Malam dan Aroma Tajam

Reading time: 3 menit
Cestrum nocturnum. Foto: Shutterstock

Ketika belajar mengenai ilmu pengetahuan alam semasa sekolah, kita mengetahui bahwa ada hewan yang aktif pada siang (diurnal) ataupun malam hari (nokturnal). Namun, ternyata ada juga tumbuhan yang aktif memamerkan kecantikannya ketika malam, yaitu Arumdalu. Menyadur dari penelitian arumdalu oleh Amin Shaista dan Parle Amrita, berikut adalah kisah si tumbuhan semak dengan daun mengkilap.

Mengenal Arumdalu

Cestrum nocturnum adalah nama latinnya. Ia memiliki rambatan seperti batang, bunga berbentuk tabung berwarna putih kehijauan dan berbuah beri. Buah berinya berwarna putih marfil atau ungu terong. Nama spesies nocturnum mengacu pada kebiasaan spesies memekarkan bunganya yang kecil dan beraroma harum saat malam hari. Bunganya mengeluarkan aroma kuat dan manis seperti parfum pada malam hari. Ketika mekar, aromanya terkenal sebagai bau terkuat di dunia, yang bisa mencapai 165 kaki dari lokasi tanaman. Bahkan kekuatan baunya bereaksi alergi terhadap beberapa orang.

Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 80% populasi negara berkembang bergantung pada tumbuhan obat-obatan untuk kebutuhan perawatan kesehatan. Semak ini adalah salah satu obat tradisional sejak dahulu. Di India, orang Malasar mengolahnya menjadi jus untuk mengobati katarak. Kandungannya sangat bermanfaat, terdapat saponin, flavonoid, glikosida jantung, alkaloid, steroid, dan tanin.

Budidaya

Budidayanya tersebar di berbagai negara, seperti China, Hongkong, Irak, Indonesia, Jepang, Singapura, Myanmar, Pakistan, Filipina, Meksiko, Amerika Serika, Hindia Barat, dan India. Namun, sifat invasifnya berdampak negatif bagi ekosistem asli suatu daerah. Reproduksinya cepat dan banyak melalui biji yang kecil serta mudah terangkut oleh pergerakan tanah, banjir, dan pembuangan vegetasi. Sehingga, terjadi pembentukan semak-semak padat yang sulit ditembus oleh flora asli yang seharusnya memainkan peran pada ekosistem daerah tersebut.

Baca juga: Empat Puluh Persen Flora Dunia Terancam Punah

Tips Menanam Arumdalu

Arumdalu merupakan tanaman hias yang tumbuh subur di hutan lembab atau basah, hutan dataran rendah yang lebat atau biasanya orang-orang budidayakan di kebun. Tumbuhan ini tidak mentolerir iklim yang terlalu dingin ataupun terlalu kering, pertumbuhan optimalnya terjadi pada suhu 80˚F. Meskipun ia mekar saat malam hari, arumdalu tetap membutuhkan setidaknya 6 jam sinar matahari, di area yang terlindungi dari paparan sinar matahari secara langsung. Paparan sinar matahari yang berlebihan bisa menyebabkan daunnya layu.

Ia dapat tumbuh dengan baik di tanah lembab yang ringan dan berpasir dengan pH netral 6,6 hingga 7,5. Namun, flora ini juga bisa beradaptasi dengan berbagai jenis dan kondisi tanah dengan toleransi yang rendah terhadap garam dan genangan air. Tumbuhan ini dapat dibuahi setiap 2 minggu dengan pengenceran rumput laut dan pupuk emulsi ikan.

Tumbuhan ini dapat dengan berkembang secara optimal di ketinggian rendah hingga menengah. Di Nikaragua, spesies ini tumbuh di antara 40-1000m. Di Antioquia, Kolombia, spesies ini bertumbuh di ketinggian 1000-1500 m. Spesies ini tumbuh di antara 1500 dan 1999m, dengan iklim lembab di Madagaskar. Selain itu, spesies ini pun berkembang pada ketinggian di bawah 100 m dan di atas 2500 m.

Kita dapat memperbanyak aramandalu dengan menabur benih, cara ini mudah dan hemat biaya. Benihnya tak banyak, terbungkus dalam beri putih yang berdiameter 8-10mm. Produksi buahnya membutuhkan waktu sekitar 18 bulan dan bisa tidak aktif di tanah selama bertahun-tahun. Perendaman benih dalam air selama 24 jam dapat meningkatkan perkecambahan. Spesies ini menyebar dengan mudah melalui stek akar dan batang.

Kegunaan Arumdalu

Dalam pengobatan tradisional, daunnya dapat berguna untuk memulihkan luka bakar dan bengkak. Selain itu, bisa juga mengobati epilepsi. Flora ini juga bisa meredakan nyeri dan membunuh bakteri. Olahannya dapat berguna sebagai pengusir nyamuk, maka dari itu tanaman ini dapat mencegah malaria di beberapa tempat di Afrika. Tumbuhan ini juga bisa berguna untuk anestesi lokal, bahkan esktraknya dapat menghambat pertumbuhan tumor.

Puspa ini juga digunakan sebagai alat untuk ritual-ritual adat. Misalnya, sebagai persembahan dan minuman keras di Kathmandu, dupa dan olahan rokok bagi dukun di Nepal, jimat di Hindia Barat, bahkan campuran air hangat, daun, dan bunganya untuk mandi masyarakat suku maya.

Efek samping

Orang-orang dengan asma atau sensitif pernapasannya, telah melaporkan kesulitas bernapas, iritasi pada hidung dan tenggorokan, sakit kepala, mual, atau gejala lain saat menghirup aroma kuat flora ini. Selain itu, mengonsumsinya juga bisa memberikan efek kenaikan suhu badan, kecepatan denyut nadi, air liur berlebih, halusinasi, bahkan kelumpuhan. Maka dari itu Anda harus konsultasi terlebih dahulu dengan dokter jika ingin merasakan khasiat dari tanaman ini.

Penulis: Agnes Marpaung.

Top
You cannot copy content of this page