Bakung Paskah, Tanaman Hias yang Erat dengan Ajaran Kristen

Reading time: 3 menit
Selain punya makna dalam keagamaan, bunga ini juga memiliki fungsi antiracun. Foto: Shutterstock

Bakung paskah merupakan salah satu tanaman hias paling cantik dan terkenal di dunia. Spesies bunga lili ini dapat kita temukan di Kepulauan Ryukyu, Jepang. Namun, namanya terbilang sangat populer di seluruh dunia karena sering dilibatkan dalam acara keagamaan.

Lilium longiflorum atau bakung paskah termasuk dalam ordo Liliales dan famili Liliaceae. Spesies ini berkerabat dengan L. formosanum, spesies lili putih lain yang berasal dari wilayah Taiwan.

Seperti yang telah disinggung, spesies L. longiflorum memiliki kelopak berwarna putih dengan bentuk menyerupai terompet. Mereka dijuluki juga sebagai lili putih, atau Teppouyuri bagi masyarakat Jepang.

Dalam agama Kristen, lili putih dikenal sebagai salah satu bunga suci yang menjadi simbol kebangkitan Kristus. Nama tumbuhan ini bahkan disebutkan dalam salah satu ayat Injil, yakni Lukas 12:27.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bakung Paskah

Bakung putih tergolong sebagai tanaman terna tahunan yang tumbuh setinggi 0,5–1,3 meter. Tumbuhan ini memiliki umbi lapis yang besar dengan diameter mencapai 5–10 cm.

Di ujung umbi ada batang semu dengan tunas samping yang tingginya mencapai 9–75 cm. Daunnya sendiri berbentuk pita atau lanset, dengan panjang antara 3–120 cm dan lebarnya berkisar 3–18 cm.

Menariknya, terdapat 10–40 kuntum bunga dalam satu individu bakung paskah. Buahnya sendiri berbentuk bulat telur terbalik, memiliki kulit yang tipis, serta merekah menjadi dua rongga bila sudah masak.

Di dalam buah biasanya tersimpan 1–5 biji berukuran besar. Biji-bijinya itu berbentuk bundar tapi agak gepeng. Sedangkan kulitnya berwarna cokelat kehitaman dengan permukaan yang dilapisi oleh lendir.

Lili putih berbunga pada bulan April dan Juni. Saat itu terjadi, bunga ini mengeluarkan aroma semerbak yang sangat harum. Karena itu, spesies ini sangat cocok jika dipelihara sebagai tanaman hias.

Habitat dan Budi Daya Bakung Paskah

Setidaknya ada 100 jenis lili yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari wilayah Asia, Eropa, hingga Amerika Utara. China merupakan pusat budi daya kelompok ini, dengan jumlah spesies mencapai 55 varian.

Khusus bakung paskah, populasinya cuma dapat kita jumpai di wilayah Jepang. Tanaman ini memang bersifat endemis, tetapi bibitnya jamak dihibridisasi dan dibudidayakan di berbagai negara.

Di Amerika Serikat, kultivar lili putih mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ia ditanam oleh pekebun lokal di daerah California barat laut sampai Oregon barat daya, khususnya di kota Smith River, California.

Di negara kecil seperti Bermuda pun nama bakung ini terbilang sangat masyhur. Setidaknya terdapat 200 perkebunan lili yang berkembang di negara itu, terutama pada periode 1890 hingga awal 1900-an.

Saking masifnya, budi daya dan perdagangan bakung Bermuda menjadi komoditas utama penyokong ekonomi wilayah tersebut. Ini sebelum wabah kutu menyerang tanaman lili setempat pada tahun 1923–1928.

Kegunaan dan Manfaat Bakung Paskah

Selain penghias, bakung paskah dimanfaatkan sebagai tanaman potong untuk membuat karangan bunga. Produk ini ramai dicari oleh khalayak, terutama sebagai kado ketika perayaan Paskah.

Menurut sejarah, setelah kematian dan kebangkitan Yesus, sejumlah lili putih tumbuh di Taman Getsemani. Bunga-bunga ini muncul di tempat jatuhnya tetesan keringat Yesus saat berdoa sebelum penyaliban.

Karena erat dengan kisah-kisah kristiani, tidak heran jika lili ini dinamai “bakung paskah.” Di beberapa gereja, flora itu bahkan berguna sebagai penghias mimbar di sepanjang musim hari besar tersebut.

Di luar latar belakang sejarahnya, tanaman terna ini juga bermanfaat sebagai antiracun (antidot) pada luka yang diakibatkan oleh gigitan ular, sengatan serangga, hingga keracunan makanan.

Bagi hewan seperti kucing, tanaman ini punya sifat toksik yang memicu terjadinya gangguan ginjal. Ini juga dapat terjadi bila kucing menjilati serbuk sari bunga yang telah menempel pada bulu mereka.

Taksonomi Spesies Lilium Longiflorum

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page