Burung Gereja, Burung Mungil yang “Bandel”

Reading time: 3 menit
burung gereja
Burung gereja-erasia (Passer Montanus). Foto: chingazo/flickr.com

Berdasarkan data Burung Indonesia tahun 2015, Indonesia memiliki 1.672 jenis burung yang sekitar 427 jenisnya endemik atau hanya ada di Indonesia. Posisi ini mendapuk Indonesia dalam empat besar negara di dunia yang memiliki kekayaan jenis burung terbanyak selain Kolombia, Peru, dan Brasil.

Burung gereja-erasia (Passer Montanus) atau dalam bahasa Inggrisnya disebut tree sparrow, merupakan burung yang paling sering dijumpai di lingkungan sekitar kita. Uniknya, cerita dibalik penamaan burung ini pun cukup beragam.

Menurut cerita yang beredar mengapa burung ini dikenal sebagai burung gereja karena pada saat mereka bermigrasi burung ini mencari bangunan yang arsitekturnya tinggi. Pada saat itu hanya gereja yang memiliki arsitektur tinggi sehingga burung ini mulai bersarang di langit-langit gereja. Sejak saat itulah burung ini dijuluki sebagai ‘Burung gereja’. Namun belum ada penjelasan dan penelitian yang lebih mendalam mengapa burung spesies Passer Montanus dikenal dengan istilah burung gereja.

Di sisi lain, banyak orang terkecoh dan menganggap jenis yang tersebar luas di dunia ini berasal dari suku Ploceidae (manyar dan pipit). Padahal, burung-gereja erasia adalah milik suku Passeridae. Seperti dilansir Mongabay.co.id, Suku Plocidae dan Passeridae memang mirip, sama-sama mungil, berekor pendek, berparuh tebal-pendek, dan sama-sama Passeriformes (burung dengan ordo terbesar, dimana lebih dari setengah 10.000 spesies burung dunia ada dalam ordo ini). Bedanya hanya pada unsur genetik. Suku Passeridae yang awalnya ditempatkan sebagai anak suku, kini sejajar dengan Plocidae.

burung gereja

Foto: pixabay.com

Burung gereja-erasia memiliki ukuran tubuh sedang (14-15cm). Burung gereja-erasia juga merupakan hewan yang monoformik (jenis kelamin dari burung dewasa dan anak sangat sulit untuk dibedakan). Mahkotanya berwarna coklat berangan, dagu, tenggorokan, bercak pipi, dan setrip mata hitam. Tubuh bagian bawah kuning-tua keabu-abuan, adapun tubuh pada bagian atas berbintik-bintik coklat dengan tanda hitam dan putih. Pada burung muda berwarna lebih pucat dengan tanda khas yang kurang jelas.

Burung ini berkembang biak pertama kali pada umur satu tahun dan menghasilkan lima hingga enam telur. Sayangnya burung geraja-erasia hanya menghasilkan dua hingga tiga keturunan saja yang akan lepas sarang pada umur 15-16 hari.

Burung gereja-erasia diklasifikasikan sebagai keluarga burung pemakan biji-bijian. Mereka tersebar secara global hampir di seluruh dunia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatera dan Bali. Burung ini pun hidup di dataran rendah hingga ke dataran tinggi (1500 meter diatas permukaan laut).

Burung gereja-erasia yang bagi sebagian orang dianggap biasa, mempunyai kelebihan tersendiri yaitu dikenal dengan istilah ‘human dominated ecosystem’, yang berarti memiliki kemampuan berkoloni dan “bandel” karena tidak takut berada dekat dengan manusia. Oleh sebab itu, tidak jarang burung ini ditemukan di permukiman jarang penduduk maupun padat penduduk. Selain itu, burung gereja-erasia juga sering ditemukan berkelompok di sekitar lahan peternakan dan lahan pertanian (terutama yang dekat dengan beras dan biji-bijian).

Meskipun burung gereja-erasia termasuk memiliki populasi terbanyak, alangkah bijaknya apabila kita tidak acuh tak acuh dan turut serta dalam menjaga dan melestarikan ekosistemnya, seperti tidak menangkap atau melakukan segala aktifitas yang tidak ramah lingkungan. Karena ekosistem fauna ini dapat menjadi sebuah petunjuk atau indikator alami kebersihan dan mutu lingkungan sekitar kita.

burung gereja

Penulis: Sarah R. Megumi

Top