Burung Gereja, Si Kecil Lincah yang Tidak Takut Manusia

Reading time: 3 menit
burung gereja
Burung Gereja, Si Kecil Lincah yang Tidak Takut Manusia. Foto: Shutterstock.

23Burung Gereja atau disebut juga Burung Pingai merupakan salah satu spesies burung kecil berfamili Passeridae yang populasinya sangat banyak di Indonesia. Para ahli percaya, jenis unggas yang satu ini mendominasi total populasi burung yang ada di seluruh dunia, lho!

Secara umum, tingginya populasi pingai berbanding lurus dengan keanekaragaman jenisnya. Hewan ini mempunyai puluhan ragam varian, yang masuk ke dalam empat genus besar.

Pembagian genus berdasarkan pada habitat dan peta persabarannya, seperti Passer, Carpospiza, Montifringilla, dan genus Petronia yang banyak hidup di kawasan Iberia sampai Tiongkok.

Di Tanah Air, Burung Gereja-Erasia (Passer Montanus) adalah salah satu jenis pingai yang paling banyak kita temukan. Hewan ini beterbangan di area persawahan, sungai hingga pemukiman warga.

Klasifikasi Burung Gereja

Burung gereja memang unik, selain dari namanya hewan ini juga cukup bersahabat dengan manusia. Ia tinggal berkoloni dan tidak takut berada dekat di sekitar lingkungan masyarakat.

Spesies unggas yang warga Internasional namai Tree Sparrow ini sering awam kira masuk dalam kelompok Burung Pipit. Padahal, kedua spesies tersebut jelas-jelas berasal dari keluarga yang berbeda.

Seperti yang telah saya sebutkan, tree sparrow datang dari suku Passeridae sedangkan burung pipit berasal dari suku Ploceidae. Agar lebih mengenal burung gereja, simak klasifikasinya berikut ini:

1. Morfologi dan Ciri-Ciri

Burung pingai umumnya bertubuh mungil, memiliki ekor yang pendek, serta berparuh tebal-pendek. Ukuran tubuh burung ini berkisar 14-15 cm (sedang), dengan mahkota berwarna cokelat beragan.

Bulu dagu, tenggorokan, bercak pipi dan setrip mata fauna ini berwarna kehitaman. Tubuh bagian bawah berwarna kuning-tua keabu-abuan, dengan bintik cokelat pada bagian atas tubuhnya.

2. Habitat dan Persebaran

Pada mulanya, burung pingai hanya bisa kita temukan di benua Afrika, Eropa dan Asia. Namun seiring berjalannya waktu, peta persebaran burung tersebut meluas hingga Australia dan Amerika.

Di Indonesia sendiri, unggas bersuara merdu tersebut bisa kita jumpai di berbagai daerah. Populasi terbesarnya berada di kawasan Bali, Jawa, Sumatera dan Pulau Kalimantan.

3. Makanan Burung Gereja

Ada alasan mengapa burung gereja sangat menyukai area pertanian dan peternakan. Hal ini karena banyaknya sumber penganan hewan tersebut pada lokasi-lokasi di atas.

Seperti yang kita ketahui, tree sparrow memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memakan biji-bijian dan serangga. Mereka bersarang di dataran rendah hingga ketinggian 1.500m dari permukaan laut.

4. Siklus Hidup dan Reproduksi

Passeridae berkembang biak pertama kali pada usia satu tahun. Jumlah telur per individu bisa mencapai 5-6 butir. Meski begitu, tidak semua telur pada akhirnya berhasil menetas.

Pada umumnya, burung pingai hanya menghasilkan 2-3 keturunan sekali berkembang biak. Menurut penelitian, waktu lepas sarang anak-anak Passer Montanus antara usia 15-16 hari.

Perbedaan Burung Gereja Anakan dan Dewasa

Mengindentifikasi burung gereja-erasia memang susah-susah gampang. Fauna itu sendiri tergolong sebagai monoformik, sehingga sulit membedakan jenis kelamin burung dewasa dan anak.

Kendati demikian, berdasarkan penilitian Lina Kristina Dewi, dkk. dari Institut Pertanian Bogor, berikut beberapa perbedaan antara pingai muda dan pingai dewasa yang dapat kita lihat.

Ciri-Ciri Burung Gereja Anakan

  • Bagian lunak di pangkal paruh (gape) berwarna kuning;
  • Memiliki bulu-bulu yang masih berbentuk jarum;
  • Bertekstur bulu sangat halus;
  • Bentuk ujung bulu ekor meruncing; dan
  • Terdapat bulu jarum pada penutup sayap primernya.

Ciri-Ciri Burung Gereja Dewasa

  • Warna bulu terlihat lebih mengilat;
  • Warna kuning pada pangkal paruh sudah hilang;
  • Ujung bulu ekor membulat; serta
  • Bagian dagu tampak berwarna hitam.

Bukan cuma itu, secara garis besar perbedaan antara pingai jantan dan betina juga tidak terlalu terlihat. Bulu keduanya cenderung mirip, meski sang betina mempunyai warna yang lebih pucat.

burung gereja

Fauna itu sendiri tergolong sebagai monoformik, sehingga sulit membedakan jenis kelamin burung dewasa dan anak. Foto: Shutterstock.

Asal-Usul Penamaan Burung Gereja

Anda pasti penasaran, mengapa satwa kecil bertubuh gempal ini disebut sebagai burung gereja? Jawabannya terletak pada kebiasaan, serta lokasi migrasi dari burung tersebut.

Menurut cerita yang beredar, saat bermigrasi kawanan Passer Montanus akan mencari bangunan tinggi sebagai tempat tinggal. Ia juga senang untuk sekedar beristirahat dan hinggap di atasnya.

Pada zaman dulu, perkembangan arsitektur tentu tidak sebaik sekarang. Gedung-gedung tinggi yang bisa kita temukan saat itu hanyalah tempat-tempat beribadatan seperti gereja.

Sebab orang-orang banyak menemukan burung ini bersarang di loteng dan langit-langit gereja, mulai dari situlah sebutan ‘burung gereja’ mulai populer di kalangan masyarakat.

Di luar cerita di atas, ada poin penting yang perlu kita ingat. Meski Passeridae termasuk memiliki populasi terbanyak, alangkah bijaknya bila kita tidak acuh tak acuh terhadap hewan tersebut.

Menjaga dan melestariakan ekosistem burung ini sangat penting. Anda bisa memulainya dengan cara tidak menangkap ataupun melakukan segala aktivitas yang tidak ramah lingkungan.

Walau sering dianggap sepele, nyatanya keberadaan burung pingai begitu dibutuhkan. Selain menjaga keseimbangan alam, satwa ini bisa jadi indikator alami kebersihan dan mutu lingkungan.

Taksonomi Passer montanus

burung gereja

Referensi:

Andika Saputra, Universitas Islam Negeri Alauddin

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page