Burung Tekukur, Bunyi Kicaunya Unik seperti Namanya

Reading time: 3 menit
Burung tekukur yang ada di Indonesia, keturunan burung tekukur asal China. Foto: Freepik

Siapa sih yang enggak kenal burung tekukur? Satwa dengan nama asing spotted dove ini populer karena kemerduan kicaunya. Selain itu, tekukur juga mempunyai corak bulu yang indah, sehingga menjadi salah satu peliharaan favorit bagi para kicau mania.

Walau ukurannya relatif kecil, spotted dove sejatinya termasuk keluarga burung merpati. Hewan ini ahli gabungkan ke dalam famili Columbidae, serta tergolong sebagai salah satu anggota genus Streptopelia.

Secara klasifikasi, famili atau suku Columbidae terdiri atas 31 genus. Ini menyebar ke berbagai daerah di seluruh dunia, meliputi wilayah India sampai Asia Tenggara, Afrika, Australia, dan juga Karibia.

Melansir berbagai sumber, tekukur yang ada di Indonesia merupakan keturunan dari tekukur yang ada di daratan China. Mereka dibawa oleh para pedagang sebagai hewan ternak maupun peliharaan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Tekukur

Burung tekukur mempunyai nama ilmiah Spilopelia chinensis. Burung ini dapat kita tandai dari ukuran tubuhnya yang kecil, berparuh runcing, berekor agak panjang, berdarah panas, serta bersifat ovipar.

Jika diukur, panjang tubuh tekukur hanya mencapai 30 cm. Warna bulu punggung cokelat kemerah-jambuan, sedangkan ekornya terlihat lebih tebal dengan corak putih pada bagian pinggirnya.

Bulu punggung atau sayap cenderung lebih gelap daripada bulu badan. Ada bercak hitam putih yang khas pada bagian lehernya. Sementara iris berwarna jingga, paruh hitam, dan kaki-kakinya berwarna merah.

Jenis jantan dan betina spotted dove juga memiliki sejumlah perbedaan. Burung betina umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan jantan, kemudian iris matanya pun terlihat kekuningan alih-alih jingga.

Sang betina juga tidak memiliki bercak putih-hitam di bagian lehernya. Sementara pejantan dapat berkembang biak sampai seberat 130 gram, lalu bulu di bagian bawah tubuhnya berwarna merah anggur.

Habitat dan Distribusi Burung Tekukur

Burung tekukur hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dapat kita jumpai di kawasan hutan, agroforest, perkebunan, pemukiman dan persawahan, serta biasa mencari makan di atas permukaan tanah.

Tidak cuma habitat, distribusi burung yang hidup secara berpasangan ini juga terbilang sangat luas. Populasinya mencakup wilayah Wallacea, mulai dari Kepulauan Talaud, Sangihe, Siau, Sulawesi, sampai ke Flores.

Selain itu, burung Columbiformes ini juga dapat kita temukan di Pulau Komodo, Sumbawa, Timor, Tidore, dan Ambon. Mereka sangat populer di Jawa dan Bali, bahkan telah diperkenalkan hingga ke Amerika Serikat.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi S. chinensis berada pada level “least concern” atau berisiko rendah. Tren populasinya pun meningkat, sehingga tidak tergolong sebagai satwa dilindungi oleh negara.

Di tanah air, tekukur jamak dimanfaatkan sebagai burung sangkar dan atau burung kontes. Kicauannya cukup merdu dengan iramanya yang diulang-ulang, terdengar seperti ter-kuk-kur atau der-kuk-ku.

Perilaku dan Kebiasaan Burung Tekukur

Burung tekukur memiliki kebiasaan berdiam diri dengan pasangannya di jalan-jalan terbuka dan sepi dari lalu lintas. Ia bersarang sepanjang tahun pada ranting yang disusun di semak-semak yang rendah.

Untuk menarik burung betina, tekukur jantan biasanya mengeluarkan kicauan yang nyaring sambil menganggukkan kepala dan menari-nari. Sang betina dapat menghasilkan dua butir telur dalam sekali berbiak.

Spesies S. chinensis mencapai kematangan seksual pada umur 6 bulan, sedangkan usia produktifnya mencapai 5 tahun. Waktu pengeraman telur-telurnya bervariasi, tetapi biasanya tak lebih dari 14 hari.

Umur anak disapih sekitar 1 bulan. Namun sekitar 14 hari sesudahnya, induk sudah dapat bertelur kembali. Karena itu, jarak antara dua masa bertelur sekitar 45–50 hari, bahkan bisa lebih cepat yakni 30–40 hari.

Menariknya bila merasa terganggu, spotted dove akan terbang rendah di atas tanah dengan kepakan sayap yang pelan. Burung ini menyukai kedamaian dan ketenangan, sehingga cukup mudah untuk dipelihara.

Taksonomi Spilopelia Chinensis

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page