Genggehek, Dulu di Sungai Kini di Waduk

Reading time: 2 menit
Ikan genggehek (Mystacoleucus marginatus). Foto: Ist.

Sisik ikan satu ini nampak berkilauan ketika cahaya matahari menerpa tubuhnya. Warnanya nampak keperakan dengan sirip punggung dan sirip ekor bermargin kehitaman. Ikan ini adalah ikan Genggehek.

Ikan genggehek adalah jenis ikan air tawar yang dapat ditemukan di kawasan daerah aliran sungai. Ikan dengan nama ilmiah Mystacoleucus marginatus ini dibeberapa daerah memiliki sebutan yang berbeda, diantaranya keprek di Jawa Timur, kapyah di Lampung, dan lalawak di Banten.

Tubuh ikan ini berukuran kecil hingga sedang dengan rata-rata panjang mencapai 200 mm. Tinggi tubuh dari awal sirip punggung sekitar 2,7-3 kali berbanding panjang tanpa sirip ekor. Pada tubuhnya terdapat gurat sisi berjumlah sekitar 26-29 buah.

Genggehek memiliki duri kecil sebagai proteksi dirinya terhadap para predator di alamnya, duri tersebut terletak pada sirip punggung di belakang tubuhnya dengan bentuk gerigi tajam, mengarah ke depan di muka sirip punggung (procumbent dorsal spine). Duri yang terdapat pada sirip tersebut merupakan jari-jari terkeras dibandingkan dengan sirip dubur, dada, dan perut.

Habitat Genggehek berada di kawasan perairan tawar di Indochina dan Kepulauan Sunda seperti sungai-sungai bagian dalam, waduk dan danau. Makanan utama spesies ini bergantung pada kondisi lingkungannya, terkadang berupa tumbuhan air, serangga, krustasea, zooplankton dan fitoplankton.

Genggehek memiliki kekerabatan dengan spesies ikan bilis (Mystacoleucus padangensis) yang merupakan hewan endemik Danau Singkarak, Danau Maninjau, dan Sungai Kuantan di Pulau Sumatera.

Perubahan ekosistem genggehek dari aliran sungai yang dangkal dan deras ke waduk yang relatif dalam dan tenang jelas memengaruhi keberadaannya saat ini karena Genggehek merupakan spesies ikan introduksi atau ikan pendatang/tebaran asal Sungai Citarum.

Dalam laman resmi IUCN Red List yang dirilis pada tahun 2012, Genggehek terklasifikasi dalam kategori Least Concern di habitat aslinya. Meski demikian, genggehek sudah semakin jarang ditemui, termasuk di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Dalam catatan penelitian Pusat Riset Perikanan Tangkap, Endi Setiadi pada tahun 2008, terjadi penyusutan dalam kurun waktu 40 tahun (1977-2007) yang awalnya tercatat sebanyak 34 spesies asli, kini hanya sekitar 20 spesies ikan.

Dalam laman IUCN Red List, populasi ganggehek di pulau Jawa tidak diketahui karena banyak sungai yang terkena dampak pencemaran air tingkat tinggi.

Penulis: ANP/G32

Top