Jangan tembak Koak Malam!

Reading time: 4 menit
Jangan tembak Koak Malam!

Kebisingan serta aktifitas kota membuat otak dan badan kita lelah, tentunya tempat-tempat yang tenang guna relaksasi menjadi pilihan untuk disinggahi. Mengunjungi Taman kota merupakan salah satu alternatif baik untuk berehat sejenak. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa, melepas lelah di alam terbuka hijau setelah seharian berkegiatan akan membuat tubuh kita kembali bugar.

Oleh Ferry Perdinan | Artikel ini diterbitkan pada edisi 07 Vol. 1 Tahun 2006

 

Di Bandung terdapat beberapa taman kota yang bisa disinggahi, Taman Ganesha misalnya. Taman yang memiliki luas kurang lebih sebesar lapangan bola itu terletak di jalan Ganesha, tepatnya di depan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana kita bisa menghirup udara yang relatif lebih bersih dan segar, serta melihat rindangnya pepohonan dan indahnya warna-warni bunga yang membuat kita lupa sejenak dengan kepenatan kota.

Suasana teduh nan tentram itu seolah membawa kita ke alam lain. Alunan irama yang dilantunkan kicauan burung terdengar merdu bersahutan satu sama lain dan suara tongeret melengkapi suasana alam dan membuat kita tenang dalam buayan.Banyak burung yang bisa kita lihat di taman itu, diantaranya adalah Koak Malam yang akrab disebut burung Blekok bagi orang sekitar jalan Ganesha.

Burung yang mempunyai nama latin Nycticorax nycticorax ini bersarang di pepohonan besar di sekitar lingkungan kampus ITB seperti pohon Angsana (Pterocarpus indica), Mahoni (Sweitenia mahagoni), dan Beringin (Ficus sp). Yogi, koordinator program Bird Conservation Society (Bicons) menegaskan ”umumnya koak malam berada di sepanjang jalan Ganesha, hal ini disebabkan oleh iklim dari lingkungan sekitar ITB itu sesuai dengan habitat burung koak“.

Berdasarkan wikipedia.org, Koak dewasa merupakan burung malam yang hidup di daerah basah atau rawa, memiliki ukuran tubuh hampir sama dengan Ayam, panjangnya 64 cm dan beratnya 800 gram. Perkembangbiakannya juga tergolong cepat, di dalam satu sarang, burung Koak bisa menghasilkan 3-8 telur dan jarang gagal menetas, dalam setahun bisa sampai empat kali menetasnya.

Animaldiversity.ummz.umich.edu menambahkan bahwa burung Koak atau dalam istilah asing Black-crowned Night Heron (bangau malam bermahkota hitam) mempunyai bulu dengan dominan berwarna putih, mata merah, dan berleher pendek. Burung ini pada umumnya mencari makan ketika hari sudah gelap. Hal ini dilakukan agar tidak berebut dengan burung sejenis lain yang juga mencari makan. Ikan kecil, katak, tikus kecil, dan beberapa jenis serangga merupakan makanan kegemarannya. Yogi yang saat itu ditemui di taman Ganesha menuturkan bahwa burung-burung ini mencari makan saat maghrib tiba, tidak tanggung-tanggung, ikan-ikan  sungai di daerah Rancaekek pun -sekitar 20 km ke arah timur Bandung- menjadi incarannya. Tidak ayal jika kita akan menemukan remahan ikan-ikan di sekitar taman itu.

Pada 26/11/2005 BICONS sempat melakukan perhitungan terhadap burung ini, tercatat 1.312 ekor terbang dari sarangnya menuju tempat pencarian makan mereka. Jumlah tersebut belum termasuk burung yang tetap berada di pohon untuk menjaga sarang dan bayi-bayinya yang belum mampu terbang. Di tahun yang sama 10/12, organisasi pemerhati burung ini kembali melakukan perhitungan, dan tercatat 1.147 ekor Koak terbang meninggalkan sarangnya.

Top
You cannot copy content of this page