calendar
Kamis, 16 Agustus 2018
Pencarian
jengkol
Jengkol (Pithecellobium jiringa). Foto: wikimedia commons

Jengkol, Manfaatnya Mengalahkan Baunya!

Flora

Pernah dengar tumbuhan dengan nama ilmiah Pithecellobium jiringa atau nama sinonimnya yaitu A. Jiringa, Pithecellobium lobatum Benth, dan Archindendron pauciflorum? Kalau tidak asing lagi dengan namanya, maka sudah dipastikan kamu adalah penggemar berat tanaman ini.

Pithecellobium jiringa dikenal sebagai tumbuhan jengkol, merupakan tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara dengan ukuran pohon yang tinggi yaitu ± 20 m, tegak bulat berkayu, licin, percabangan simpodial, cokelat kotor. Jengkol atau jering termasuk dalam famili Fabaceae (suku biji-bijian).

Daun tanaman ini tergolong daun majemuk, lonjong, berhadapan, panjang 10-20 cm, lebar 5- 15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,1-1 cm, warna hijau tua. Bentuk buah bulat pipih berwarna coklat kehitaman. Bijinya berkeping dua dan berakar tunggang.

Jengkol sudah menjadi makanan favorit orang Indonesia. Biasanya usai makan jengkol, nafas dan urin mengeluarkan bau tak sedap. Lalu, apa penyebab munculnya bau tersebut? Dilansir pada laman food.detik.com, ahli gizi Leona Victoria Djajadi menjelaskan bahwa di dalam jengkol ada djenkolic acid atau asam jengkolat yang mengandung sulfur. Kandungan ini yang memunculkan bau tak sedap. Ia juga mengingatkan asam jengkolat memiliki beberapa efek samping jika dimakan berlebihan seperti menyebabkan kencing darah, pusing, dan muntah.

Mengutip dari berbagai sumber, ada beberapa cara ampuh untuk menghilangkan bau jengkol yang membandel di mulut, diantaranya dengan mengonsumsi mentimun, mengunyah segenggam beras (berasnya tidak perlu dimakan, setelah dikunyah halus, beras tersebut kemudian dibuang), mengunyah permen karet atau permen mint, mengunyah garam atau bubuk kopi hitam, minum air putih atau teh hijau.

jengkol

Tanaman jengkol bisa mengkonservasi air di tempat ia ditanam. Foto: wikimedia commons

Namun, di luar baunya yang cukup menyengat, potensi dan manfaat jengkol ternyata luar biasa. Buahnya mengandung karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, vitamin C, fosfor, kalsium, zat besi, alkaloid, steroid, glikosida, tanin, flavonoid dan saponin (Eka, A, 2007). Saponin sendiri berfungsi sebagai pelindung gangguan hama tumbuhan itu sendiri dan lingkungannya (Depkes RI, 1994). Adapun kandungan yang terdapat pada 100 gram jengkol yaitu 80 mg vitamin C, 23,3 mg protein, 4,7 mg zat besi, 140 mg kalsium, dan 166,7 mg fosfor (Setiono, 2011).

Ekstrak kulit jengkol (EKJ) diketahui mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, glikosida dan steroid/triterpenoid yang berperan sebagai antibakteri, antibiotik, antiradang, dan antioksidan (Nurussakinah, 2010). Senyawa tanin pada kulit jengkol juga berfungsi sebagai obat luka bakar yang dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil.

Selain itu, di Malaysia, EKJ dijadikan sebagai pewarna ungu pada sutra. EKJ juga bisa digunakan sebagai pencuci rambut. Di Kalimantan, daun dan kulit kayunya digunakan untuk mewarnai anyaman hitam. Selain itu kayu dari pohon tanaman ini dapat digunakan untuk membuat peti mati dan sebagai kayu bakar.

Kini, pemanfaatan jengkol sudah lebih luas lagi dengan dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. Berdasarkan jurnal Teknologi Kimia Unimal (2016), biomassa yang berasal dari limbah hasil pertanian dan kehutanan merupakan bahan yang tidak bernilai guna tetapi dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif, yaitu dengan mengubahnya menjadi suatu bahan bakar padat yang disebut biobriket atau briket bioarang.

Kebutuhan energi yang terus meningkat dan ketersediaaan bahan bakar yang menipis memaksa manusia untuk mencari sumber bahan bakar alternatif. Limbah kulit jengkol berpotensi menjadi salah satu biomassa alternatif yang keberadaanya belum dimanfaatkan secara optimal.

jengkol

Penulis: Sarah R. Megumi

Top