Pakis Haji, Tanaman Hias Unik yang Makin Langka

Reading time: 2 menit
Pakis Haji tanaman penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Foto: Shutterstock

Pakis haji, aji, atau sikas merupakan kelompok tumbuhan berbiji terbuka yang berasal dari Indonesia. Mereka adalah satu-satunya marga dalam keluarga Cycadaceae, dengan jumlah anggota setidaknya mencapai 130 spesies.

Bagi pecinta tanaman hias, nama Cycas rumphii atau pakis haji mungkin sudah tidak asing lagi terdengar. Tumbuhan ini jamak diperjualbelikan karena memiliki tampilan yang indah.

C. rumphii sendiri merupakan satu dari tiga spesies Cycas yang paling sering dibudidayakan. Nama spesiesnya diambil dari peneliti asal Jerman, Georg Eberhard Rumpf, pada abad 18.

Rumpf atau Rumphius adalah orang pertama yang meneliti tanaman tersebut di Kepulauan Maluku. Ini merupakan daerah asal sikas, yang kini telah terdistribusi ke berbagai negara.

Morfologi dan Ciri-Ciri Tanaman Pakis Haji

Tanaman pakis haji bisa mudah awam kenali. Tumbuhan satu ini umumnya berkembang biak setinggi 6 meter, serta terdapat biji terbuka di antara daun-daun penyusun runjungnya.

Daun-daun tersebut berbiak pada bagian ujung batang. Ini tergolong sebagai daun majemuk menyirip dengan panjang mencapai 2,5 meter, serta mempunyai 50-150 pasang anak daun.

Akibat susunan anak daunnya tersebut, banyak orang yang menyamaratakan antara pakis haji dan palem. Padahal, secara klasifikasi keduanya memiliki kekerabatan yang cukup jauh.

Kelompok Cycas memiliki bunga berumah dua, sehingga biasanya terdapat bagian tanaman jantan dan betina. Ukuran bunga bisa mencapai 50 cm, berbentuk cone atau kerucut-elips.

Bagian bunga jantan bisa kita tandai dari tangkainya yang pendek. Mereka mempunyai biji berbentuk ovoid-elips, berwarna oranye-cokelat, dengan ukuran antara 3-6 cm x 2,5-5 cm.

Habitat dan Distribusi Tanaman Pakis Haji

Benua Asia merupakan pusat distribusi Cycas terbesar di dunia. Berbagai spesiesnya dapat kita temukan di Vietnam, China, Thailand, Indonesia, Papua Nugini, Filipina, serta Malaysia.

Di Tanah Air, jenis C. rumphii terdistribusi mulai dari kawasan Papua sampai Sulawesi Utara. Sedangkan di wilayah barat, ia dapat kita temukan di selatan Borneo dan utara Pulau Jawa.

Habitat asli pakis haji berada di area hutan dengan tingkat kelembapan tinggi. Tanaman ini tidak membutuhkan sinar matahari banyak, sehingga cukup sesuai dijadikan flora penghias.

Sayangnya, populasi C. rumphii sendiri ahli sinyalir makin menipis. Ini merupakan hasil dari komersialisasi flora (diburu secara besar-besaran) serta alih fungsi hutan atau deforestasi.

Melansir IUCN Red List, kini status konservasi pakis haji berada pada level hampir terancam. Tren populasinya terus menurun, dengan jumlah individu berkisar 10.000-12.000 tanaman.

Kegunaan dan Manfaat Tanaman Pakis Haji

C. rumphii termasuk ke dalam kelompok tanaman purba yang masih tersisa hingga saat ini. Pertama kali muncul sekitar 100 juta tahun yang lalu, bertepatan dengan masa mesozoikum.

Sejak dahulu kala, tanaman pakis haji memang dikenal sebagai flora penghias pekarangan dan kebun. Ia memiliki tampilan yang indah, bahkan bisa dijadikan sebagai peneduh taman.

Tidak cuma itu, sebagian masyarakat juga mengonsumsi pati yang tersedia pada batangnya. Bagian ini masyarakat olah menjadi berbagai menu sayuran karena mengandung nutrisi yang tinggi.

Bahkan dalam jurnal ilmiah Universitas Lampung, dapat diketahui bahwa spesies C. rumphii berguna sebagai racun. Ini digunakan oleh masyarakat Dayak Bakumpai, Desa Simpang Arja.

Di luar manfaat dan kegunaannya, pakis haji merupakan tanaman penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, kita wajib menjaga kelestarian populasi dan habitatnya.

Taksonomi Spesies Tanaman Cycas Rumphii

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page