Rotan, Tanaman Berduri Unggulan Industri Mebel

Reading time: 3 menit
mebel
Foto: flickr.com/photos/kentwang

Apabila kita tidak mempunyai barang yang berkualitas baik untuk dipakai, maka apa salahnya untuk memakai barang lain, meskipun kualitasnya kurang bagus. Seperti istilah pribahasa “Tiada Rotan, Akar pun jadi”.

Berdasarkan buku kamus pribahasa karangan J.S. Badudu (seorang guru besar dan pakar Bahasa Indonesia), arti kata “Rotan” pada pribahasa di atas dimaknai sebagai tanaman yang memiliki kegunaan dan kualitas yang baik. Kenyataannya pun sama dengan pemaknaan pada pribahasa tersebut, bahwa rotan memang merupakan tanaman berkualitas tinggi yang banyak dimanfaatkan masyarakat, terutama sebagai bahan baku dalam industri mebel dan kerajinan tangan.

Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia. Diperkirakan 80% bahan baku rotan di seluruh dunia dihasilkan oleh Indonesia, sisanya dihasilkan oleh negara lain seperti Filipina, Vietnam dan negara-negara Asia lainnya. Daerah penghasil rotan di Indonesia yaitu Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera hingga Papua (dikutip dari laman kemenperin.go.id).

Rotan merupakan tanaman merambat dari famili Palmae. Berdasarkan sumber yang dikutip dari Warta Ekspor (Edisi Juni 2013), nama tanaman ini sesungguhnya berasal dari bahasa melayu yaitu “raut” yang bermakna mengupas, menguliti, atau menghaluskan.

Tempat tumbuh rotan pada umumnya di daerah tanah berawa, tanah kering, hingga tanah pegunungan. Tanaman rotan hidup berumpun dan tumbuh menyebar di daerah perbukitan dan daerah pegunungan dengan ketinggian berkisar antara 300 – 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Semakin tinggi tempat tumbuh maka semakin jarang dijumpai jenis rotan.

mebel

Fota: jpg2 : flickr.com/photos/berniedup

Dalam kondisi alami, tanaman ini pada awalnya tumbuh secara menjalar di atas permukaan tanah kemudian berkembang dengan memanjat dan melilit batang pohon yang ada disekitarnya.

Batang tanaman ini tumbuh tegak ke arah atas sampai mencapai ketinggian sekitar 2 hingga 2,5 meter. Setelah mencapai ketinggian itu, batang rotan akan melengkung.

Mirip dengan tanaman bambu, batang rotan pun beruas-ruas dengan ukuran antara 15 – 30 cm dan memiliki diameter sebesar 2 – 8 cm. Dalam usia yang masih muda, batang rotan umumnya berwarna hijau, lalu mulai menguning seiring dengan meningkatnya kedewasaan tanaman ini untuk siap dipanen.

Batang tanaman rotan dilindungi oleh atribut berbentuk pelepah berduri yang cukup menyulitkan bagi para petani dan mampu melukai jika mereka kurang berhati-hati. Petani rotan biasanya membawa parang sepanjang 60 cm sebagai alat bantu untuk menebang, membersihkan duri, dan menguliti rotan agar batangnya bisa diambil.

Berdasarkan informasi yang didapat, ada beberapa keunikan rotan, diantaranya apabila batangnya ditebas maka akan mengeluarkan air. Teknik ini biasa digunakan oleh para petualang/penjelajah untuk bertahan hidup di alam bebas. Selain itu beberapa rotan mengeluarkan getah (resin) dari tangkai bunganya. Getah ini berwarna merah dan dikenal di perdagangan sebagai ‘dragon’s blood’ atau darah naga. Umumnya resin dipakai untuk mewarnai gitar atau biola.

Ternyata rotan juga menjadi makanan favorit bagi satwa badak Sumatera. Warga suku Mandailing di Sumatera Utara juga mengonsumsi pucuk rotan muda sebagai lalapan yang mereka sebut pakkat. Selain itu, rotan dipakai sebagai ikat pinggang oleh para perempuan suku Wemale. Wemale adalah salah satu kelompok etnik tertua yang berasal dari Pulau Seram, Provinsi Maluku.

Komoditi rotan merupakan bahan baku industri yang tergolong materi ramah lingkungan, sehingga produk hasil industri olahan rotan secara langsung juga merupakan produk yang ramah lingkungan ‘green product’.

Indonesia merupakan salah satu negara beruntung karena memiliki begitu banyak varietas rotan di hutan-hutannya yang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk pengembangan industri dalam negeri serta penambah devisa negara. Beberapa rotan asal Indonesia yang memiliki kualitas unggulan seperti rotan batang, rotan lambang, rotan umbul, rotan tohiti, rotan susu dan rotan merah.

mebel

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page