Suku Meranti-Merantian, Buahnya Seperti Baling-Baling

Reading time: 3 menit
meranti-merantian
Pohon keruing (Dipterocarpus) termasuk ke dalam suku meranti-merantian. Foto: wikemediacommons.org

Suku Dipterocarpaceae (meranti-merantian) terdiri atas pohon-pohon besar yang merupakan penyusun utama beberapa hutan tropika basah, terutama di dataran-dataran rendah kawasan tropis Asia.

Berdasarkan Prosiding Seminar Nasional Matematika, Sains, dan Teknologi oleh Budi Prasetyo (2013), di Kalimantan pernah teridentifikasi sebanyak 9 marga (genus), 268 jenis (spesies), dan 27 anak jenis meranti. Anggota suku Dipterocarpaceae dikenal dengan beragam penamaan lokal, seperti pada genus Meranti (Shorea), Keruing (Dipterocarpus), Resak (Vatica dan Cotylelobium), Mersawa (Anisoptera), Kapur (Dryobalanops), dan Merawan (Hopea).

Secara taksonomi tumbuhan suku meranti termasuk kelompok pepohonan dengan kayu keras dimana sebagian jenisnya tumbuh sangat perlahan, dengan kecambah yang cenderung menyukai naungan, dan menghasilkan kayu yang berat.

Kelompok tumbuhan anggota Dipterocarpaceae dicirikan oleh habitus berupa pohon, terdapat saluran resin pada empulur, kayu, dan kulit batang, sedangkan saluran musilase terkadang dijumpai pada korteks dan empulur; serta terdapat tanin. Di samping itu anggota Dipterocarpaceae juga memiliki daun tunggal, duduk daun berseling seringkali 2 deret, tepi rata, pertulangan menyirip. Bunga biseksual, simetri radial, tidak ada epikaliks. Daun mahkota berjumlah 5, imbricate dan convolute. Buah nut, hanya berisi 1 biji, dan biji tanpa endosperm (Budi Prasetyo, 2013).

Keunikan tersendiri dari suku meranti adalah tumbuhan ini menghasilkan buah bersayap dua, yang apabila disebarkan oleh angin maka buah tersebut akan melayang-layang dan berputar seperti baling-baling sebelum mendarat di lantai hutan.

meranti-merantian

Bentuk buah, daun, dan bunga meranti-merantian. Foto: wikemediacommons.org

Sebagian besar keluarga meranti memiliki nilai kualitas kayu yang sangat baik, keras, dan ringan. Contohnya pada pohon merawan (Hopea odorata Roxb.), potensi yang terdapat pada pohon ini ialah mereka dapat tumbuh pada habitat yang beragam dan mudah dibudidayakan.

Kayu yang dihasilkan pohon merawan pun memiliki kualitas tinggi sehingga sering dipakai untuk konstruksi bahan berat dan ringan, mebel, vinir dan banyak kegunaan lainnya. Tanaman ini juga banyak dipakai sebagai bantalan kereta api, juga sebagai tanaman hias dan penaung (dikutip dari penelitian Mulya Furqan (2010), Fakultas Kehutanan IPB).

Meskipun banyak potensi yang dimiliki oleh tumbuhan dari suku meranti, namun potensi tersebut sangat dekat dengan ancaman yang terjadi di lingkungan. Aktivitas illegal logging dan kebakaran hutan membuat beberapa anggota penting suku ini telah masuk kedalam International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist.

Seperti pada jenis Dryobalanops camphora Colebr atau dikenal dengan tumbuhan kapur. Keunggulan dari tumbuhan ini ialah dari satu batang pohonnya dapat menghasilkan beragam komoditi bernilai ekonomi tinggi seperti kapur barus (kamfer), balsam, damar, minyak atsiri, dan kayu. Keberadaan tumbuhan kapur pada saat ini menurut IUCN Redlist termasuk dalam status konservasi Critically Endangered atau kritis. Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum status punah.

Dampak tingginya harga dan permintaan kamfer, serta ketidaktahuan masyarakat setempat tentang pengetahuan bahwa di dalam batang pohon kapur tidak selamanya harus dapat ditemukan kristal kapur barus, menjadi pemicu terjadinya aktivitas penebangan.

Di samping aktivitas pembalakan liar dan kebakaran hutan, beberapa faktor internal yang mungkin menjadi penyebab merosotnya populasi tanaman ini diantaranya: a) struktur sayap di buah yang tidak efektif untuk disebarkan oleh angin sehingga sebarannya tidak jauh dari induknya, b) sistem pembungaan yang relatif cukup lama sehingga proses kelangsungan regenerasi berlangsung lama, c) jenis serangga yang membantu proses penyerbukan marga ini tidak mampu terbang jauh sehingga anakan yang tumbuh tidak jauh dari induknya, dan d) sistem pembuahan mast fruiting menyebabkan sedikit anakan yang mampu tumbuh (Budi Prasetyo, 2013).

meranti-merantian

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page