Nadine Chandrawinata, Pariwisata Jangan Sampai Ganggu Ekosistem Laut

Reading time: 2 menit
Nadine Chandrawinata. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Jakarta (Greeners) – Laut merupakan ruang dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa dan menyimpan potensi yang besar. Keindahan laut tak jarang memukau sebagian orang untuk mengeksplorasinya lebih jauh, termasuk bagi dunia pariwisata.

Putri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata pun sepakat bahwa keindahan laut dapat menjadi magnet bagi para wisatawan untuk datang dan menikmati pariwisata laut. Namun, ia tidak setuju bila pariwisata laut malah mengganggu ekosistem laut. Hal ini tercermin dari perilaku wisatawan dan agen wisata yang justru mengabaikan keberlangsungan satwa yang hidup di laut.

“Jangan sampai mengubah rantai makanan. Jangan sampai itu terjadi. Semuanya harus bijak,” ujar Nadine ketika ditemui pada acara peluncuran panduan wisata laut yang diadakan oleh WWF Indonesia di Jakarta pada Kamis (5/11) sore.

Nadine mengatakan bahwa terumbu karang sebagai salah satu potensi laut dapat terancam oleh masifnya pariwisata laut yang tidak ramah lingkungan. Ia menyontohkan, kegiatan diving dan snorkling untuk menikmati panorama bahwa laut seringkali justru menggunakan terumbu karang sebagai pijakan.

Menggunakan terumbu karang sebagai pijakan ini, lanjut Nadine, dapat mengakibatkan terumbu karang patah atau rusak. Sementara, untuk tumbuh mencapai satu sentimeter saja, terumbu karang membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

“Kita harus sadar di bawah itu ada terumbu karang. Kita harus tahu bagaimana caranya dekat sama karang tapi enggak merusak,” ujar perempuan yang aktif menyelam ini.

Selain itu, ia juga menyoroti penangkaran hiu dan lumba-lumba yang dilakukan beberapa pihak untuk menarik wisatawan. Hal itu, menurutnya, tidak dapat dibenarkan karena menjauhkan hewan-hewan tersebut dari habitat aslinya.

Ia juga berharap adanya sinergi antara pemerintah dan agen wisata untuk memelihara keberlangsungan alam dan kelestarian ekosistem laut. Menurutnya, pihak agen wisata seringkali acuh terhadap perilaku wisatawan yang merusak lingkungan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya kontrol dari pemerintah daerah setempat. Baginya, kelestarian ekosistem laut harus tetap dijaga agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

“Sosialisasi (tentang pelestarian ekosistem laut) itu penting sekali dan wisatawannya pun balik dari situ jadi tambah pintar juga,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

Top
You cannot copy content of this page