Sisa Benang Olah Kain Sisa Pabrik Jadi Mode Berkelanjutan

Reading time: 3 menit
Mode Sisa Benang
Sisa Benang mengusung konsep mode berkelanjutan (Sustainable Fashion) dalam produknya. Foto: instagram @sisabenang

Sobat Greeners, apakah kalian tahu latar belakang pakaian yang sedang kalian kenakan? Mulai dari bahan apa yang dipakai, bagaimana proses pembuatannya, hingga siapa yang membuat? Dengan paham hal tersebut, kita terbantu untuk lebih menghargai pakaian yang kita kenakan. Terlebih ketika pakaian tersebut memberi dampak positif bagi sosial maupun lingkungan.

Hal itu juga sejalan dengan yang dilakukan oleh Tubagus Syailendra Wangsadisastra dan Kea Dela Rosa. Mereka menciptakan produk bernama Sisa Benang untuk memenuhi kebutuhan sandang manusia. Namun, yang berbeda, mereka mengusung visi-visi utama seperti eco fashion, slow fashion, dan ethical fashion pada produknya.

Sisa Benang Menerapkan Mode Berkelanjutan (Sustainable Fashion)

Sisa Benang merupakan merek pakaian yang terbentuk pada Juni 2020. Pada mulanya, mereka melihat sampah garmen masih terabaikan. Bahkan menjadi salah satu penyumbang sampah yang cukup besar ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Dari hal tersebut, kemudian tim Sisa Benang memanfaatkan material sisa pabrik tadi sebagai bahan dasar utama produk-produknya. Sebelum kain-kain sisa terbuang, mereka mengolahnya kembali menjadi pakaian bernilai jual dan layak pakai.

Tubagus menyebut, cara itu mereka gunakan untuk memberikan rasa nyaman pada konsumen. Selain turut menjaga lingkungan, ia mengatakan konsep mengolah kembali bahan tak terpakai juga meningkatkan kesadaran konsumen akan konsep mode berkelanjutan. “Kita ingin raising awareness juga lewat campaign dari Sisa Benang,” ucapnya.

Pada proses produksinya, Sisa Benang bekerja sama dengan masyarakat di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. Warga yang terdiri dari ibu-ibu kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tersebut memiliki keterampilan menjahit. Tubagus menyebut, proses pengerjaan produk juga memakai konsep etis yang berarti mengedepankan hak maupun kesejahteraan pekerjanya.

“Kita mengedepankan slow fashion juga. Kalau pabrik besar pakai mesin dan produksi massal, kita di sini ingin empower warga lokal,” ujarnya.

Mode Sisa Benang

Jenis produk Sisa Benang. Foto: instagram @sisabenang

Karena hanya menggunakan bahan kain sisa pabrik, produk-produk dari Sisa Benang menjadi sangat terbatas. Mereka hanya memproduksi sesuai dengan jumlah kain yang tersedia. Menurut Tubagus, mereka paling banyak memproduksi 15 potong baju untuk satu model koleksi pakaian. Meski hanya memproduksi pakaian wanita, jenis juga beragam mulai dari masker, outer, gaun (dress), kemeja, hingga celana.

Seiring perjalanannya, Tubagus dan Kea melihat pakaian sebagai alat untuk mempresentasikan gaya hidup setiap orang. Maka mereka berharap lewat produknya, konsumen akan mengadopsi konsep gaya hidup yang selaras dengan alam.

“Kita berharap orang-orang juga representing hal-hal yang impactful. Ngga cuma sebatas gaya hidup, tapi ada dampak yang bisa dikasih ke lingkungan atau masyarakat,” katanya.

Merangkul Konsumen Anak Muda

Karena mempunyai misi untuk memberikan edukasi, Sisa Benang memilih sasaran konsumen dari kalangan generasi muda. Mereka berusaha menjangkau kalangan tersebut dengan berbagai cara. Sebab, generasi muda memiliki peran dan tanggung jawab yang begitu besar bagi lingkungan.

Sisa Benang pun mematok harga yang sesuai dengan segmentasi mereka. Kendati tak mengambil banyak laba, kata Tubagus, yang terpenting label pakaian miliknya bisa memberikan dampak positif dan mencapai tujuan. 

“Kalau kita bikin brand sustainable fashion hanya untuk menengah ke atas, yang ada nggak semua teredukasi. Visi misi kita nggak tersampaikan dan nggak massive juga,” ucapnya.

Selain itu, Sisa Benang hanya fokus menjual produk mereka di media sosial Instagram. Platform tersebut, menurutnya menjadi tempat yang ideal untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan konsumen. Sisa Benang juga mempunyai panggilan khusus untuk para pelanggannya, yaitu Tim Sisa.

Mode Sisa Benang

Hasil produk Sisa Benang yang terbuat dari bahan sisa kain pabrik. Foto: instagram @sisabenang

Program Tanam Satu Pohon untuk Penjualan Tiap Baju

Terdapat dua hal besar yang menjadi fokus utama Sisa Benang, yakni fesyen dan lingkungan. Di bidang lingkungan, label pakaian ini mempunyai program menanam satu pohon mangrove untuk tiap potong baju yang terjual. Kegiatan menanam tersebut mereka lakukan di wilayah pesisir, Jawa Tengah. Sisa Benang juga bekerja sama dengan organisasi Lindungi Hutan dalam kampanye tanam satu tumbuh seribu.

“Jadi memang ada aspek sirkular dari produksi sisa kain yang tidak terpakai. Dikelola lagi oleh orang-orang yang memang membutuhkan, ada aspek kesetaraan. Kemudian dari sisi penjualan juga give back lagi nih dari ekonomi ke lingkungan,” ucapnya.

Sadar akan peran konsumen yang besar terhadap penanaman pohon mangrove, Sisa Benang pun memberikan penghargaan berupa green card. Isinya berupa informasi mengenai satu pohon mangrove yang akan ditanam ketika konsumen telah membeli satu produk dari Sisa Benang.

Penulis: Zahra Shafira

Baca juga: Fast Fashion Perlu Segera Kita Tinggalkan

Baca juga: Produk Ramah Lingkungan, 15 Merek Ini Usung Mode Berkelanjutan!

Top
You cannot copy content of this page