Tulus, Pelajaran Berharga Dari Gajah

Reading time: 2 menit
Tulus menyatakan prihatin dengan populasi gajah Sumatera yang kini menuju kepunahan. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

(Greeners) – Pada bulan April lalu, upaya pelestarian gajah sempat digagas oleh model ternama Nadya Hutagalung dengan program Let Elephants Be Elephant. Program ini untuk menyadarkan publik luas bahwa perdagangan gading gajah yang tinggi di kawasan Asia berimbas pada tingginya angka kematian gajah karena perburuan liar.

Ternyata, situasi ini juga menjadi perhatian bagi penyanyi solo, Tulus. Pria dengan perawakan tinggi besar ini mengungkapkan kalau dulu dirinya pernah dijuluki “gajah”. Rasa kesal sempat menghinggapi hatinya. Namun, setelah mengetahui perilaku gajah, ia justru membuat sebuah lagu berjudul “Gajah” berdasarkan pengalamannya itu.

“Gajah itu sosok makhluk yang penyayang dan setia. Kayaknya menyenangkan juga jadi gajah,” ujarnya sambil tertawa.

Pria bernama asli Muhammad Tulus ini menyatakan prihatin dengan populasi gajah Sumatera yang terus menyusut. Ia juga mengaku mengikuti isu gajah setelah menyelesaikan pembuatan video klip untuk lagunya yang berjudul “Gajah”.

“Untuk video musik “Gajah”, saya didukung oleh WWF Indonesia sehingga saya bisa mendapatkan tempat ke situs-situs atau tempat yang tidak boleh dikunjungi manusia sebelumnya,” ujar pria bersuara khas ini saat dijumpai usai mengadakan jumpa pers terkait konser tunggalnya bertajuk “Konser Gajah Tulus” beberapa waktu lalu.

Tulus bercerita bahwa selama satu bulan lebih, ia harus tinggal di barak di dalam hutan untuk mengerjakan video klipnya. Selama itu pula ia mengaku mendapat banyak pelajaran berharga tentang alam dan hewan yang berkeliaran di sana.

“Hubungan kita dengan makhluk (hewan liar, Red) yang kita pikir enggak ada pengaruhnya dengan kita, ternyata bisa menentukan bumi ini bisa jalan atau enggak,” ujarnya.

Pelantun lagu “Teman Hidup” ini pun menyatakan bahwa dirinya sangat terpukul ketika mengetahui bahwa populasi gajah Sumatera menuju kepunahan.

“Jumlah gajah di Sumatera tinggal empat ribu ekor di dunia dan itu mengkhawatirkan. Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membuat keadaan itu bisa menjadi lebih baik, saya akan lakukan,” katanya.

Tulus mengingatkan bahwa meskipun banyak orang tidak bersentuhan atau merasakan efek langsung dengan hewan-hewan yang hidup di alam liar seperti gajah, namun keberadaan makhluk tersebut turut menentukan keberlangsungan bumi.

“Kalau kita sayang sama mereka (hewan yang hidup di alam liar), mereka akan menjaga kita. Kalau kita ganggu mereka, mereka akan mengganggu balik. Saat mereka kalah, kita akan hancur pelan-pelan bersama alam,” pungkasnya.

(G08)

Top
You cannot copy content of this page