DamoGO dan Dapur Gendong Ajak Masyarakat Peduli Limbah Pangan

Reading time: 2 menit
DamoGo olah makanan imperfect
DamoGo membuktikan imperfect produce bisa jadi makanan sehat dan kurangi limbah pangan. Foto: DamoGo Indonesia

Food Sustainability Index 2017 menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang limbah pangan terbesar kedua di dunia. Rata-rata, setiap orang di negara ini menghasilkan 300 kilogram limbah pangan setiap harinya.

Prihatin terhadap kondisi tersebut, startup lokal asal Yogyakarta, DamoGO, berinisiatif untuk menciptakan suatu aksi yang dapat mengurangi timbunan limbah pangan di Indonesia.

Pada 29 September lalu, bertepatan dengan Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Limbah Pangan, DamoGO berkolaborasi dengan Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Yogyakarta untuk mengadakan aksi berbagi makan siang kepada buruh gendong perempuan dan kelompok minoritas lainnya yang tersebar beberapa penjuru Yogyakarta.

Bertajuk “A Plate of Love: Sepiring Nasi untuk Buruh Gendong Perempuan”, aksi ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi dalam rantai pasok pangan. Selain itu, aksi ini juga bertujuan untuk mengajak masyarakat agar semakin peduli terhadap limbah pangan dan ketahanan pangan di Indonesia.

Untuk melakukan aksi berbagi makan siang tersebut, DamoGO memanfaatkan bahan pangan layak yang mereka peroleh secara langsung dari petani. Adapun bahan pangan yang mereka gunakan yaitu hasil panen yang tidak lulus standar ritel atau pasar karena memiliki tampilan fisik yang tidak sempurna (imperfect produce) dan berpotensi menjadi limbah.

DamoGo dan Dapur Gendong

DamoGo dan Dapur Gendong ajak masyarakat kurangi limbah pangan. Foto: DamoGo Indonesia

Buktikan Imperfect Produce Layak Konsumsi

Melalui aksi tersebut, DamoGO dan Dapur Umum Buruh Gendong membuktikan kepada masyarakat bahwa produk pangan imperfect produce sesungguhnya masih layak untuk kita konsumsi. Meskipun imperfect produce tidak memiliki bentuk fisik yang sempurna, produk tersebut masih memiliki kualitas intrinsik yang baik dan dapat bersaing dengan produk di pasaran.

Sayangnya, kebanyakan masyarakat menganggap bahwa produk yang tidak sempurna secara fisik juga memiliki kualitas intrinsik yang tidak baik.

Melalui tangan dingin DamoGO dan Dapur Umum Buruh Gendong, hasil panen yang “gagal” dapat diolah kembali menjadi 210 porsi makanan. Makanan tersebut mereka distribusikan ke Pasar Giwangan, Pasar Gamping, Pasar Kranggan dan Pasar Beringharjo.

“Semoga acara ini dapat masyarakat artikan sebagai salah satu aksi nyata untuk mengurangi permasalahan limbah pangan. Selain itu, kami juga berharap acara ini dapat meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia,” kata Penanggung jawab acara ini Gabriella.

Sebagai informasi, DamoGO merupakan startup teknologi yang berfokus tehadap pengoptimalan rantai pasokan makanan untuk menyelesaikan masalah limbah makanan. Adapun misi dari startup tersebut yakni untuk membangun ekosistem agri-pangan yang berkelanjutan, dari pertanian ke dapur dan lebih jauh lagi. DamoGO sendiri merupakan pemenang pertama di kategori Green-Tech pada Kompetisi Startup Global Tahun 2020.

Untuk mengurangi jumlah limbah pangan di Indonesia dan dunia, Sobat Greeners juga dapat turut berpartisipasi lho! Cukup ikuti tips-tips ini dan Sobat Greeners pun telah berkontribusi dalam upaya pengurangan limbah pangan.

Penulis: Anggi R. Firdhani dan DamoGO

Top
You cannot copy content of this page