Krakakoa, Menjaga Batas Tanam Kakao dengan Platform Pelacakan

Reading time: 3 menit
Petani Krakakoa
Seorang petani sedang memotong buah kakao yang telah masak. Foto: Krakakoa

Siapa dari kita yang tidak mengenal cokelat? Salah satu bahan makanan untuk beragam kudapan dan minuman yang menggugah selera. Apalagi ketika hari Valentine, para penggemar cokelat kerap membeli dan memberikannya kepada orang-orang tersayang. Namun, tahukah kamu kalau ternyata perkebunan kakao, bahan baku cokelat, tak lepas dari masalah lingkungan? Salah satunya, yakni perambahan atau pembukaan lahan baru untuk memproduksi kakao.

Melansir worldwildlife.org, praktik perkebunan kakao biasanya membuka hutan tropis untuk menanam pohon kakao baru daripada menggunakan kembali lahan yang sama. Praktik itu telah mendorong deforestasi besar-besaran di Afrika Barat. Bahkan diperkirakan 70 persen deforestasi yang terjadi di negara tersebut berhubungan dengan perkebunan kakao.

Aplikasi FarmXtension

Aplikasi FarmXtension yang memetakan wilayah produksi kakao. Foto: Krakakoa

Memanfaatkan Platform yang Membantu Menjaga Batas Lahan Perkebunan

Melihat permasalahan ini, salah satu perusahaan cokelat di Indonesia, yakni Krakakoa, berupaya agar kejadian serupa tidak terjadi di Indonesia. Krakakoa bekerja sama dengan Koltiva, salah satu perusahaan teknologi pertanian terintegrasi yang terbentuk sejak 2013. Perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayanan perangkat lunak ini juga menyediakan platform bagi pengusaha cokelat. Misalnya untuk melacak produksi dan petani kakao, serta lahan yang digunakan dalam menggarap kakao.

Direktur Utama dan Pendiri Krakakoa, Sabrina Mustopo, bercerita bahwa platform yang mereka gunakan memakai sistem berbasis awan (cloud-based system) untuk proses pelacakan. Dengan teknologi tersebut, kata dia, Krakakoa dapat mengetahui berapa banyak hasil biji cokelat di pabrik. Tak hanya itu, petani yang menjual biji cokelat ke pabrik dapat terdata, berapa harga yang petani terima, di mana lokasi kebun petani dan berada di batas taman nasional atau tidak.

“Kita juga menggunakan GPS (sistem pemosisi global) untuk memetakan lokasi kebun petani, memastikan (lahan) tidak masuk ke taman nasional atau tanah konservasi. Kita menggunakan teknologi untuk memberikan kepastian bahwa biji yang kita beli dari sustainable sources,” ujar Sabrina saat wawancara dengan Greeners, pada Jumat, (23/07/2021).

Sistem ini juga membantu Krakakoa melihat luasan kebun petani melalui fitur yang mirip seperti peta Sistem Pemosisi Global (GPS). Sabrina mengatakan, dari sana Krakakoa dapat mengetahui estimasi produksi kakao dari lahan yang ada.  Sistem tersebut juga mampu mendeteksi jika terdapat petani yang menjual kakao lebih dari produksi semestinya.

“Kita tahu mungkin sumbernya bukan dari kebun mereka sendiri. Jadi, dari mana biji cokelat ini? Kita bisa cross-check langsung dengan petani. Memang semua nggak ada yang seratus persen fully sustainable, tapi memberikan satu level transparansi yang sebelumnya susah didapatkan,” kata Sabrina.

Aplikasi FarmXtension

Aplikasi FarmXtension yang digunakan Krakakoa untuk menelusuri produksi kakao di wilayahnya. Foto: Krakakoa

Dua Aplikasi Penting: FarmXtension dan FarmGate

Impact Associate Krakakoa, Yarika Do Melo, menyampaikan bahwa saat ini lembaganya menggunakan platform manajemen rantai pasok komoditas kakao buatan Koltiva yang bernama CocoaTrace. Di dalamnya terdapat dua aplikasi, yakni FarmXtension dan FarmGate. Yarika menjelaskan, FarmXtension berguna untuk membantu penyuluh pertanian Krakakoa dalam mendata petani dan lahannya. Sementara itu, FarmGate dapat merekam data transaksi rantai pasok kakao.

“Kedua aplikasi ini sangat penting untuk sustainability. Kita bisa tau tingkat pendapatan petani, data kebun, dan praktik-praktik sustainable apa yang bisa kita lakukan. Juga bisa memastikan kalau lahan petani tidak ada di dalam restricted areas (seperti taman nasional),” ujar Yarika pada Senin (26/07/2021).

Ia juga menuturkan bahwa aplikasi ini mampu memantau produk yang diizinkan untuk digunakan dalam pertanian organik (agricultural-inputs). Misalnya, pupuk dan pestisida, menghitung emisi stok karbon (carbon stock emissions), hingga keanekaragaman hayati di sekitarnya. Tak hanya itu, data yang dimiliki juga sering kali dibutuhkan dalam sertifikasi organik dan aliansi hutan hujan (Rainforest Alliance), sebuah badan sertifikasi yang mengusung konsep pertanian lestari.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Baca juga: Peduli Hutan, Produsen Coklat Terbesar di Dunia Ini Gunakan Kakao Berkelanjutan

Baca juga: Kakao, Berbagi Kasih Sayang dengan Kelezatannya

Top