Kristalisasi Sampah Medis, Tawarkan Solusi Daur Ulang Masker

Reading time: 3 menit
sampah masker
Kristalisasi Sampah Medis, Solusi Daur Ulang Masker. Foto: Shutterstock.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sunit Hendrana, mengembangkan metode kristalisasi untuk sampah medis. Metode ini menjadi salah satu langkah untuk mulai mendaur ulang sampah Alat Pelindung Diri (APD) yang menggunung di era pandemi Covid-19.

Di tengah upaya mengatasi pandemi Covid-19, masyarakat kini menghadapi permasalahan baru, yaitu isu pencemaran lingkungan akibat meningkatnya sampah medis.

Selama pandemi, plastik banyak terpakai sebagai bahan pembuatan APD berupa masker kesehatan, tutup kepala, sarung tangan, dan sebagainya. Perlengkapan ini merupakan bentuk pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19.

Namun, hal ini menyebabkan peningkatan sampah plastik di lingkungan; sehingga berpotensi mencemari perairan dengan mikro plastik.

“Semenjak masa pandemi, penggunaan masker medis pada masyarakat umum semakin meningkat, sehingga perlu antisipasi terhadap limbah masker medis,” ungkap Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono dalam laman LIPI.

Metode Kristalisasi Tanpa Shear and Stress Hasilkan Kristal Plastik yang Lebih Baik 

Agus menyebut saat ini Pusat Penelitian Kimia LIPI telah mengembangkan berbagai metode untuk mendaur ulang masker medis, dengan metode kristalisasi.

“Metode ini terbilang mudah diterapkan untuk berbagai jenis plastik bahan baku APD. Kualitas produk hasil daur ulang terjamin tetap tinggi, karena tidak terdegradasi oleh pemanasan,” ujar Agus.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana mengungkapkan, bahan sampah medis yang sangat ringan karena mengandung lebih dari satu bahan plastik atau polimer sulit didaur ulang dengan minimnya metode daur ulang yang ada.

Menurutnya, metode pengolahan sampah plastik yang ada selama ini meliputi pembakaran daur ulang dengan cara pelelehan kembali untuk membentuk granula atau pelet.

Metode ini pun, menurut Sunit, terkendala proses pengumpulan dan pra pemilahan yang tidak mudah, serta kemungkinan ada syarat untuk melakukan sterilisasi sebelum melakukan langkah-langkah daur ulang.

“Metode kristalisasi memungkinkan terjadinya degradasi yang sangat rendah karena tidak adanya shear dan stress seperti pada proses daur ulang biasa. Hal ini menghasilkan plastik kristal yang dapat digunakan lagi dengan kualitas sangat baik,” jelas Sunit kepada Greeners (18/2/2021).

Plastik yang dapat melalui proses kristalisasi ini adalah polipropilena, polyethylene atau polyolefin, polivinil klorida, polystyrene, polimetil metakrilat, dan polikarbonat.

“Kecuali ada satu sebenarnya, itu bisa juga kita gunakan tetapi kita tidak merekomendasikan. Misalnya benda-benda plastik medis yang berasal dari polietilena tereftalat (PET), itu karena pelarut yang digunakan cukup toxic, jadi handling nya cukup rumit,” tuturnya.

Keunggulan Metode Kristalisasi Sampah Medis

Keunggulan menggunakan metode kristalisasi ini antara lain:

  • menghasilkan plastik daur ulang berupa serbuk;
  • minim kerusakan struktur dan memiliki kemurnian produk daur ulang yang tinggi sehingga dapat berguna kembali untuk keperluan yang sama;
  • serta dapat dikembangkan sehingga sterilisasinya dapat dilakukan in-situ dalam rangkaian proses daur ulang;
  • mampu memisahkan kandungan logam yang mungkin terdapat dalam plastik medis.
masker medis

Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana mengungkapkan, bahan sampah medis yang sangat ringan karena mengandung lebih dari satu bahan plastik atau polimer sulit didaur ulang, dengan minimnya metode daur ulang yang ada. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Peneliti LIPI Ungkap Kendala dalam Daur Ulang Sampah Medis

Tahapan Kristalisasi Sampah Medis

Proses ini membutuhkan beberapa langkah. Pertama pemotongan sampah medis seperti masker, kemudian melarutkannya ke sebuah reaktor.

“Reaktor ini untuk melarutkan, misalnya dari masker ini suhunya kira-kira 120 sampai 130.”

Setelah larut, tahap berikutnya adalah mencampurkannya dengan anti pelarutnya atau non solvent.

“Nah, nanti kita akan menghasilkan serbuk plastik yang berada dalam larutan. Kemudian, karena itu bentuknya antara serbuk dan cairan, dengan cara penyaringan pun juga kita akan mudah mendapatkan plastik.”

Serbuk itu kemudian melewati proses pengeringan dan menghasilkan produk dari plastik daur ulang dengan metode rekristalisasi.

Ia menambahkan, pelarut dapat mereka gunakan lagi dengan cara destilasi.

“Jadi alat-alat yang digunakan tentu saja reaktor pelarutan, reaktor pencampuran dan ada juga penyaringannya. Kemudian juga tentu saja alat destilasi untuk memisahkan dari pada anti pelarut dan pelarut yang tercampur tersebut,” terang Sunit.

“Makanya proses ini kita namakan rekristalisasi karena kita menghasilkan produk yang murni yaitu 99% murni; maka bisa kita gunakan dengan untuk keperluan yang serupa (pembuatan APD),” kata Sunit.

Proses rekristalisasi yang mereka hasilkan juga menghasilkan serbuk plastik yang bebas virus. Sebab prosesnya akan merusak struktur virus sehingga ketika masuk tubuh sudah tidak aktif.

“Misalnya membilasnya dengan isopropil alkohol 70% sesuai dengan rekomendasi dari WHO, dan ini bisa kita destilasi lagi. Kita gunakan lagi untuk proses yang serupa,” ujarnya.

Ia berharap hasil penelitian yang telah terdaftar dalam paten ini (No. P00202010633) segera terlaksana penerapannya dan berguna dalam menyelesaikan masalah sampah medis akibat pandemi yang tengah terjadi.

Penulis: Agnes Marpaung

Sumber:

Instagram LIPI

Website LIPI

Top
You cannot copy content of this page