LIPI Ciptakan Mi Non Gluten dari Ikan Cakalang

Reading time: 3 menit
mie ikan cakalang
Mie Cakri. Foto: greeners.co/Sarah R. Megumi

Greeners – Ikan merupakan bahan pangan dengan kandungan asam amino esensial yang lengkap dan diperlukan bagi tubuh. Sumber protein ini dapat diolah dalam berbagai bentuk produk pangan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan dan mengonsumsi ikan.  

Dr. Christina Litaay, M.Si peneliti dari Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI) berinovasi membuat mi sagu dari ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) yang dinamakan ‘Mie Cakri’. Mie Cakri merupakan singkatan dari mi cakalang Christina. 

Saat diwawancarai Greeners dalam acara Indonesia Science Expo (ISE) 2018 pada November lalu, Christina mengatakan bahwa ide ini sudah muncul sejak tahun 2012. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi ikan mendorong Christina untuk berinovasi menciptakan produk pangan yang memanfaatkan ikan sebagai bahan utamanya. 

“Kita ingin mencegah masalah stunting. Stunting itu disebabkan oleh kurangnya protein hewani. Kurangnya protein hewani juga mempengaruhi kecerdasan otak. Jarang kan anak-anak itu mau makan ikan. Alasan tidak mau makan ikan beragam; ada yang karena alergi, takut cacingan, kurang suka mungkin dari baunya, sehingga hal ini (menciptakan Mie Cakri, Red.) yang kita pikirkan,” ujarnya.

Menurutnya mi yang beredar di pasaran merupakan mi kering dengan bahan baku utama adalah tepung terigu, sedangkan Mie Cakri terbuat dari campuran tepung ikan dan tepung sagu. “Kita memilih pati sagu karena ia non gluten. Pangan non gluten itu cocok untuk anak-anak autis, orang yang terkena diabetes, dan baik untuk usus. Pangan lokal sebenarnya bukan cuma sagu, bisa dari singkong ataupun jagung. Semua bisa kita diversifikasi menggunakan pangan lokal,” kata Christina.

Selain tepung sagu, Christina menggunakan tepung ikan yang terbuat dari ikan cakalang. Ikan cakalang ini ia ambil dari Desa Latuhalat Kota Ambon-Maluku. Bahan pendukung lainnya meliputi air, asam asetat 3%, natrium bikarbonat 0,8%, N-heksan, selenium, H2SO4 pekat, NaOH, akuades, H3BO3, HCl, dan indikator Brom Cresol Green-Methyl Red berwarna merah muda.

“Ikan cakalang sendiri digemari oleh masyarakat bukan cuma di Maluku tapi di Indonesia. Cakalang merupakan hasil perikanan yang sangat melimpah dan memiliki protein yang sangat tinggi sedangkan pati sagu merupakan pangan lokal dari Maluku yang proteinnya kecil sekitar 0,27%, sehingga kita memfortifikasi dengan ikan cakalang. Tepung ikan cakalang memiliki protein 82,86%,” ungkap Christina.

mie ikan cakalang

Christina Litaay, peneliti dari Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI). Ia membuat mi sagu dari ikan cakalang yang dinamakan ‘mie cakri’. Foto: greeners.co/Sarah R. Megumi

Mie Cakri dapat diolah sesuai selera. Mi ini memiliki harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan mi yang terbuat dari tepung terigu. Sekilas penampakan mi ini tidak berbeda jauh dengan mi terigu, namun bila dilihat lebih seksama mi ini memiliki warna yang lebih mengilap dan teksturnya keras saat belum diolah.

“Kita ingin mengajak anak-anak gemar makan ikan tetapi dikemas dalam bentuk makanan yang banyak disukai seperti mi. Mi yang kita pakai adalah mi dari pati sagu. Dengan adanya fortifikasi ikan cakalang di dalam mi sagu, maka dengan sendirinya konsumen sudah mengkonsumsi ikan,” kata Christina.

Christina menjelaskan bahwa cara memasak mie cakri tidak berbeda dengan mie instan umumnya. Penyajiannya pun tidak memerlukan waktu lama, hanya perlu direbus 7 sampai 9 menit. Uniknya bila mi ini disantap tidak terasa bau ikannya. “Sebelumnya tepung ikan itu sudah kita proses dengan menghilangkan sebagian lemak, sehingga proteinnya meningkat dan pada saat dikonsumsi itu tidak terasa bau amis,” ungkap Christina.

Saat ini produki Mie Cakri belum dipasarkan secara luas karena masih dalam tahap uji coba lanjutan. Meski demikian, adanya inovasi ini diharapkan dapat membuka potensi usaha kecil menengah (UKM).

“Ikan-ikan yang ditangkap itu bukan hanya dijual segarnya saja tapi bisa diolah menggunakan teknologi canggih. Hasil olahan memakai teknologi canggih tersebut nantinya dapat meningkatkan ekonomi nelayan. Selama ini nelayan dalam taraf kemiskinan padahal sebenarnya mereka memiliki kesempatan untuk sejahtera. Ini yang kita bangun untuk masyarakat-masyarakat pesisir pantai,” pungkasnya.

Penulis: Sarah R. Megumi

Top