Shellbank Aplikasi untuk Memutus Perdagangan Penyu Ilegal

Reading time: 2 menit
Perdagangan ilegal mengancam penyu di alam. Foto: WWF

Jakarta (Greeners) – Demi menjaga kelestarian penyu, World Wild Fund for Nature (WWF-International) meluncurkan platform aplikasi penelusuran pertama di dunia. Platform berbasis data global DNA penyu ini bernama Shellbank.

Peluncuran tersebut bertepatan pada Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Terancam Punah (CITES) ke-19 baru-baru ini di Panama. Pada konvensi ini, negara-negara anggota sepakat mengadopsi resolusi yang mendukung kelestarian penyu.

“ShellBank adalah sebuah inovasi dalam upaya global untuk mendeteksi, memutuskan, dan melindungi penyu dari perdagangan ilegal,” kata Pimpinan Konservasi Penyu Global, WWF Internasional Christine Madden Hof dalam keterangannya.

Alat ini memberikan informasi serta akses pada basis data DNA global untuk melacak penyu dan bagian-bagiannya mulai dari penjualan hingga ke sumbernya. Alat ini juga cukup kuat untuk membantu aparat penegak hukum.

Resolusi baru CITES mendesak pemerintah berkomitmen menanggulangi perdagangan penyu ilegal dalam agenda jangka panjang. Selain itu juga memberikan seruan dan imbauan memperkuat penegakan hukum melalui pelacakan DNA dan penggunaan forensik yang lebih baik.

Kepunahan Penyu

Saat ini enam dari tujuh spesies penyu di dunia terancam punah. Meskipun ada pelarangan global oleh CITES sejak tahun 1977, pengambilan yang tidak berkelanjutan, perdagangan penyu, telur penyu, daging dan bagian-bagian penyu secara ilegal masih tetap ada.

Belum lagi bermunculan pasar gelap. Selama 30 tahun terakhir, setidaknya 1,1 juta penyu (tidak termasuk produk karapas dan telur) dieksploitasi ilegal di 65 negara. Perkiraannya sebanyak 22 persennya masuk dalam perdagangan internasional.

Sebagai pusat pemanfaatan dan perdagangan penyu di Asia Pasifik, pada tahun 2015 hingga 2019 ada lebih dari 1.800 penyu hidup dan 1.200 penyu mati. Selain itu, 1.900 keping karapas dan perhiasan, ribuan kilogram daging dan puluhan ribu telur pihak berwenang di Indonesia, Malaysia dan Vietnam cegat dan sita.

ShellBank memutus perdagangan gelap ini dengan menghubungkan titik-titik antara pemburu gelap, pedagang dan penegak hukum menggunakan DNA penyu.

Kepunahan jadi salah satu ancaman penyu akibat perdagangan ilegal. Foto: WWF

Aplikasi dari Kerja Sama Lintas Organisasi

Koordinator genetika spesies, WWF Internasional Michael Jensen menjelaskan, Shellbank dapat menelusuri, melacak, dan melindungi penyu. DNA dari produk yang disita akan dicocokkan seperti telur atau pernak-pernik karapas penyu dengan referensi basis data yang sekarang terbangun.

Tak hanya itu, ShellBank juga dapat mengidentifikasi titik perburuan dan mengidentifikasi populasi penyu yang paling berisiko.

Referensi basis data tersebut terdiri dari data genetik yang dikumpulkan dari sarang dan tempat penyu mencari makan, serta penyu yang ditangkap ataupun terdampar. Ketika semua penyu betina kembali ke tempat penetasannya untuk berkembang biak dan bertelur, penanda genetik ibu turunkan ke anak. Sehingga terdapat keunikan pada setiap daerah sarangnya.

Penanda unik ini dapat tim analisis menggunakan DNA dan akan mereka unggah ke dalam basis data global ShellBank.

ShellBank adalah proyek multikolaborasi dari banyak organisasi. Proyek ini WWF pimpin melalui kemitraan dengan Australian Museum Research Institute, NOAA Fisheries Southwest Fisheries Science Center, dan TRACE Wildlife Forensics Network.

Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia Imam Musthofa Zainudin menyatakan, semua jenis penyu di Indonesia merupakan biota laut yang Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa lindungi.

“Untuk itu, kami mendukung pemberantasan perdagangan ilegal terhadap semua spesies laut yang dilindungi,” kata dia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page