Eyes of The Orangutan: Menguak Kelamnya Industri Pariwisata Orangutan

Reading time: 2 menit
Dokumenter ini menguak kepedihan dan eksploitasi orangutan. Foto: Redapes.org

Judul: Eyes of The Orangutan

Genre: Dokumenter

Tahun: 2016

Pada 30 Januari lalu, Indonesia baru saja memperingati Hari Primata Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat agar manusia bisa melestarikan dan hidup harmonis berdampingan dengan satwa primata Indonesia.

Kali ini Greeners mengulas film dokumenter yang cocok Sobat Greeners saksikan untuk lebih memahami keadaan primata tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Film dokumenter tersebut yakni Eyes of The Orangutan yang tayang pada tahun 2021 lalu.

Eyes of The Orangutan merupakan sebuah dokumenter karya jurnalis foto internasional Aaron Gekoski. Dokumenter ini menggambarkan tentang kehidupan orangutan yang manusia jual demi meraup pundi-pundi uang yang menggiurkan. Menjelaskan bagaimana tersiksanya salah satu primata ini menjadi bintang atraksi wisata satwa liar di berbagai negara.

Perjalanan ini bermula ketika Gekoski mengunjungi sebuah taman hiburan Ho Chi Minh di Vietnam. Ia menemukan orangutan jantan besar yang dikurung dalam kandang kecil berukuran 4×5 meter, tidak ada pohon untuk dipanjat, dan sarat dengan sorotan mata pengunjung.

Hal tersebut sejenak membuat Gekoski berpikir “jika kita bisa melakukan hal mengerikan ini pada salah satu satwa terdekat kita yakni orangutan, lalu bagaimana dengan satwa yang lain?”. Sejak saat itu ia memutuskan untuk memulai penyelidikan terhadap industri pariwisata orangutan dan mendokumentasikannya.

Eyes of The Orangutan: Kejamnya Industri Pariwisata Orangutan di Dunia

Dalam mengumpulkan dokumentasi Eyes of The Orangutan, Gekoski melakukan penyelidikan ke berbagai negara selama empat tahun lamanya. Selain Vietnam, dokumenter ini mengandung penyelidikan Gekoski terkait pariwisata orangutan di Thailand, Kamboja dan Indonesia.

Di Thailand dan Kamboja, ia melihat orangutan yang dipaksa melakukan pertunjukan tinju dengan sesamanya selama dua kali sehari. Serta orangutan lain yang dikurung pada kandang kotor di pusat perbelanjaan.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan negara kita Indonesia, pada salah satu kebun binatang di Bali, pengunjung dapat menyantap sarapan di hadapan orangutan yang kebun binatang sediakan. Padahal praktik ini banyak memiliki dampak negatif salah satunya penularan penyakit. Hal yang paling menyakitkan adalah, masih banyak dari kita yang masih menikmati pertunjukan tersebut dan seakan tidak tahu dengan fakta menyakitkan di baliknya.

Dalam perjalanan mereka, Gekoski dan tim banyak menyaksikan penyiksaan dan penderitaan orangutan di tempat-tempat wisata. Pada dokumenter ini Sobat Greeners juga bisa melihat bagaimana proses orangutan bisa berakhir di tempat wisata.

Berawal dari pencurian dari habitat asli dan penyelundupan ilegal melintasi perbatasan internasional. Hingga melalui proses pelatihan menggunakan teknik kejam dan kurungan dalam kandang selama sisa hidup mereka.

Borneo Orangutan Survival Foundation

Pada perjalanannya ke Indonesia, tidak hanya menemukan satwa orangutan yang tersiksa, Gekoski juga bertemu dengan organisasi Borneo Orangutan Survival Foundation. Ia melakukan perjalanan ke pusat penyelamatan di Nyaru Menteng, Kalimantan Indonesia. tempat orangutan yang diselamatkan dari perdagangan satwa liar illegal.

Sampai saat ini, Gekoski masih menjalin hubungan baik dengan BOS. Bahkan, pada pemutaran perdana Eyes of The Orangutan Agustus 2021 lalu pun semua hasilnya ia salurkan langsung ke Borneo Orangutan Survival untuk mendukung konservasi orangutan di Kalimantan.

Penulis: Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Sumber:

Situs Resmi Eyes of The Orangutan

Outside and Active

 

Top

You cannot copy content of this page