Sontekan dari Denmark: 10 Contoh Penerapan Ekonomi Sirkular

Reading time: 4 menit
Contoh Ekonomi Sirkular Denmark
Sontekan dari Denmark: 10 Contoh Penerapan Ekonomi Sirkular. Foto: Shutterstock.

Ketika membeli barang, kita sering kali menemukan kemasan plastik, styrofoam atau bahan lainnya yang sulit hancur. Kemudian akan ada saatnya produk yang kita beli habis dan tidak terpakai lagi.  Sampahnya akan menjadi bom waktu yang kelak akan memenuhi bumi. Untuk mencegah hal itu terjadi, gagasan ekonomi sirkular tercipta. Kali ini, Greeners menyadur inspirasi ekonomi sirkular yang dilakukan perusahaan di Denmark.

Menyadur dari State of Green, sumber daya yang terbatas dan perkiraan akan meningkatnya populasi global menjadi 9 miliar pada tahun 2050, menghasilkan pergeseran dari model ekonomi linier ke ekonomi sirkular. Sistem yang tadinya terus menerus menimbulkan limbah, berubah menjadi pemanfaatan seluruh sumber daya, karena adanya nilai ekonomi pada semua bahan yang terpakai.

Berikut adalah 10 contoh solusi untuk menciptakan ekonomi sirkular, yang bisa menjadi strategi bisnis yang baik untuk membuka pasar baru, mendorong pemikiran inovatif, dan menghemat biaya produksi.

10 Contoh Solusi Ekonomi Sirkular dari Denmark

1. Simbiosis Kalundborg – Simbiosis Industri Pertama di Dunia

Cara kerja simbiosis ini adalah produk sampingan atau produk sisa dari satu perusahaan menjadi sumber daya yang berguna bagi perusahaan lain. Simbiosis ini menggabungkan logika dari ekosistem alam dengan dasar pemikiran sistem ekonomi. Melalui kolaborasi lokal, perusahaan publik dan swasta membeli dan menjual produk sisa antara satu sama lain, mendapatkan keuntungan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan. Pola ini telah ada sejak 40 tahun lalu dan salah satu simbiosis industri yang paling terkenal di dunia.

Adanya simbiosis ini berkaitan dengan pembentukan pusat simbiosis pertama dan satu-satunya di dunia, yang bekerja untuk mengidentifikasi dan memfasilitasi simbiosis industri baru di Denmark. Kalundborg mencakup perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia dan juga perusahaan-perusahaan kecil. Manfaatnya penggunaan siklus ini yaitu, pengurangan biaya, menghasilkan emisi yang lebih sedikit, pertumbuhan perusahaan dengan kebutuhan sumber daya yang lebih sedikit, perusahaan lebih kompetitif, serta semakin tangguhnya masyarakat dan perusahaan.

2. Vigga, Konsep Langganan Baju Bayi dukung Ekonomi Sirkular di Denmark

VIGGA lahir sebagai suatu siklus. Idenya untuk menciptakan cara baru dalam konsumsi, berdasarkan pembagian dan peredaran produk berkualitas tinggi. Melalui konsep ini, VIGGA menawarkan pakaian anak berkualitas tinggi, dengan produksi yang baik, dan harga yang menarik. Cara kerjanya adalah, pelanggan membayar biaya langganan bulanan dan mendapatkan 20 pakaian untuk anak mereka. Kemudian, pakaian yang sudah kecil untuk anak mereka yang bertumbuh, akan diganti dengan set pakaian baru yang satu ukuran lebih besar. Setelah pemeriksaan kualitas, pakaian yang sudah kembali dari pelanggan akan dicuci secara profesional. Selanjutnya, pakaian tersebut dikirim ke bayi lain, sehingga terjadi sebuah siklus. Konsep ini mendorong produksi perusahaan tekstil dengan kualitas setinggi mungkin. Semakin tinggi kualitasnya, semakin banyak anak dapat menggunakan pakaian yang sama dan semakin tinggi keuntungannya. Limbah tekstil bisa berkurang 70-85%.

Contoh Ekonomi Sirkular Denmark

Warga Denmark biasakan nebeng sebagai bentuk ekonomi sirkular. Foto: Shutterstock.

3. Warga Denmark Gemar Nebeng demi Ekonomi Sirkular

Kursi mobil kosong berdampak negatif pada lingkungan. Jika 1 mobil isinya hanya 1 atau 2 orang saja, maka sangat in-efisien bagi pemilik mobil. Platform GoMore menawarkan layanan yang memungkinkan pengemudi mengundang orang berkendara dalam perjalanannya. Hal ini mampu mengurangi jumlah mobil di jalanan, tentunya efektif untuk pemulihan lingkungan.

4. Daur Ulang Rumput Sintetis

Re-match menggunakan teknologi mutakhir yang sudah paten, untuk memisahkan rumput sintetis yang aus menjadi komponen mentah dan bersih, yang bisa di daur ulang di industri lainnya. Olahan rumput sintetis ini bisa menjadi karet, pasir, dan serat plastik. Teknologi ini sangat efektif sehingga hampir 100% komponen dapat digunakan kembali. Ada lebih dari 40.000 ton rumput sintetis basah yang sudah usang setiap tahunnya, sehingga nantinya dapat berguna untuk lapangan sepak bola baru di seluruh dunia.

5. Pengembangan Botol Bir yang Dapat Terurai secara Hayati

Salah satu tantangan yang menjadi fokus Carlsberg adalah pengemasan, karena sekitar 45% emisi CO2 mereka berasal dari pengemasan produk. Ia bermitra dengan ecoXpac, Dana Inovasi Denmark dan Universitas Teknik Denmark untuk mengembangkan botol bir pertama di dunia yang dapat terurai secara hayati, yang terbuat dari serat kayu. Botolnya seringan botol PET dan berbasis nabati.

Baca juga: Mengintip Gerakan Ekonomi Sirkular Warga di Pulau Komodo

6. Potensi dalam Produksi Tepung Kentang

Koperasi pengolahan kentang Denmark, KMC, yang memproduksi berbagai bahan tepung kentang untuk industri makanan. Mereka telah menjadi pelopor dalam memurnikan sisa produksi tepung kentang. Pada tahun 2005, KMC mulai mengubah sisa serat kentang menjadi bahan tambahan makanan kaya protein. Pemisahan dan pemurnian dari produksi tepung kentang membantu memaksimalkan setiap kentang untuk keuntungan ekonomi petani, sedangkan penggunaan serat kentang memungkinkan industri makanan secara efisien meningkatkan nilai gizi produknya.

7. Menggunakan Kembali Batu Bata Lama

Gamle Mursten adalah perusahaan produksi teknologi bersih berskala besar yang bisa mendaur ulang limbah bangunan tanpa bahan kimia apapun. Setelah mengumpulkan batu bata lama, kemudian dibersihkan dengan teknologi getaran. Lalu ada pemeriksaan manual satu per satu hingga akhirnya robot menata tumpukan batu bata sebelum dikirim ke lokasi baru. Hal ini menghemat lebih dari 95% energi.

8. Daur Ulang Bekas Porselen dan Sampah Peralatan Sanitasi

Pusat daur ulang Denmark mengirim limbah konstruksi ke RGS90, sebuah perusahaan spesialis pemrosesan, pemilahan, penghancuran, dan daur ulang produk limbah. Di sini, semua bahan yang tidak terpakai akan dihancurkan sebelum nantinya dikirim ke fasilitas produksi ROCKWOOL, untuk didaur ulang.

9. Pompa Hemat Energi untuk Ekonomi Sirkular

Pompa adalah salah satu perangkat yang memainkan peran penting dalam industri. Perusahaan susu, tempat pembuatan bir, rumah jagal, produksi tekstil dan kimia, pembangkit listrik, pengiriman dan lain-lain membutuhkannya. Lebih dari 2/3 pompa yang terpasang saat ini tidak efisiden dan menggunakan energi hingga 60%. Selain itu, sebagian besar pompa yang terpasang juga berjalan terus menerus pada kecepatan maksimumnya. Mengganti pompa yang tidak efisien menghasilkan penghematan yang signifikan, mengurangi pemborosan energi. Di pabrik karet Yokohama, Jepang, Grundfos mematikan pompa utama yang mengalirkan air untuk mendinginkan jalur produksi pabrik. Hal ini memungkinkan perusahaan secara drastis mengurangi biaya energi lebih dari 50% dan memangkas emisi CO2.

10. Efisiensi Produksi Daging

Danish Crown, salah satu produsen daging babi terbesar di dunia secara kooperatif milik petani Denmark. Fokusnya tidak hanya memproduksi daging, tetapi juga efisiensi sumber daya seperti pembiakkan hewan, optimalisasi pakan, daur ulang nutrisi, pemanfaatan aliran sungai, dan lain-lain.

Beberapa negara sudah mulai memaksimalkan ekonomi sirkular. Kita bisa mengamati, meniru, dan memodifikasi ide dan penerapan sistem ini, serta mulai mempraktikkannya dalam bisnis kita, perlahan tapi pasti. Sudah siap dengan perubahan?

Sumber: 

State of Green

Penulis: Agnes Marpaung.

Top
You cannot copy content of this page