Tamashi Jiwa Sulap Serat Pisang Jadi Paper Lamp Minimalis

Reading time: 2 menit
Lampu kertas minimalis ini terbuat dari serat pisang. Foto: Inhabitat

Cahaya dari lampu berpendar selalu menarik perhatian. Namun, apa jadinya bila berasal dari bahan-bahan ramah lingkungan? Terinspirasi oleh desain craftmanship lampu kertas tradisional Jepang, Tamashi Jiwa membuat koleksi tersebut secara homemade dan diproduksi di Bali. Bahkan kilauan cahayanya berasal bahan serat pisang.

Paper lamp yang mampu membangkitkan perasaan mendekat ke alam ini buah rancangan arsitek Alexis Dornier. Awalnya, serat dari tanaman pisang ia masak menjadi bubur lalu ia cetak dan keringkan dan menghasilkan kertas.

Selanjutnya, kertas ia jahit untuk menghasilkan ‘sel’. Selanjutnya, bagian sel-sel ini ia isi dengan material wol poliuretan tembus pandang.

Karya Dornier ini mendapat pengaruh sangat kental dengan alam dan tradisi lokasi pengerjaannya di Bali. Seluruh bahan pembuatan paper lamp ini sepenuhnya berkelanjutan dan terbarukan. Serat pisang berasal dari tanaman pisang yang baru panen.

Sementara poliuretan berasal dari plastik daur ulang. Perpaduan bahan-bahan ini mampu menghadirkan nuansa indah sesuai yang desainer inginkan.

Lampu ini juga terinspirasi suasana alam Bali. Foto: Inhabitat

Paper Lamp Minimalis dan Elegan

Menariknya, keseluruhan desain bergaya minimalis, memiliki bentuk sederhana dan elegan. Selain itu kerangka pendukung lampu berwarna hitam, kontras dengan warna yang lebih terang dari kombinasi kertas-polietilen.

Meski berbahan ramah berkelanjutan dan terbarukan, paper lamp ini tahan lama. Selain itu, produk ini juga membawa cahaya kegembiraan bagi semua orang yang melihatnya.

“Suasana ruang menjadi menonjol oleh objek-objek yang menjadi jiwanya. Mereka seperti bintang di cakrawala,” ujar Dornier.

Memiliki karakter dari karya-karya sebelumnya termasuk Birdhouses resort dan Bond House, koleksi ini mencerminkan arsitektur tropis dan berhubungan antara manusia dan alam. Menarasikan monolog kelahiran, kemajuan dan keberadaan, Tamashi Jiwa dengan desain minimalnya mampu membangun dialog komunikasi dengan penggunanya.

“Sama seperti pikiran dan hati yang merupakan perpaduan tak terpisahkan yang membentuk kita manusia, Alexis membawa rasional dan intuitif menjadi satu potret,” kata juru bicara Tamashi Jiwa.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber :

Stirpad.com

Inhabitat.com

Top

You cannot copy content of this page