Komunitas DJI Phantom Indonesia, Tiga Hobi Dalam Satu Phantom

Reading time: 3 menit
Foto: dok. Komunitas DJI Phantom Indonesia

Jakarta (Greeners) – Di Indonesia, mesin terbang Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau lebih dikenal dengan sebutan drone, kini semakin banyak pemanfaatannya. Penggunaan mesin terbang tanpa awak (nirawak) tersebut bukan lagi hanya sebatas hobi. Beberapa media nasional dan juga Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya sudah menggunakan mesin ini untuk memantau kemacetan hingga banjir di Ibukota.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah drone semakin populer. Di kalangan militer, drone dikenal sebagai ”mesin pembunuh” karena memiliki serangan yang mematikan dan daya jelajah sangat luas. Presiden Joko Widodo bahkan sempat mewacanakan pengoperasian drone sebagai alat untuk menjaga pertahanan ekonomi maupun keamanan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari mengawasi praktik pencurian ikan hingga kayu.

Salah satu komunitas drone di Indonesia adalah komunitas DJI Phantom Indonesia. Mereka lebih menggemari pesawat jenis Phantom (sebutan untuk pesawat empat rotor atau quadcopter yang dikembangkan oleh perusahaan asal China DJI Innovations) untuk dikoleksi.

Agung Setiawan, salah satu anggota dari DJI Phantom Indonesia yang ditemui oleh Greeners pada acara Mega Bazzar 2015 di Jakarta Convention Center, mengatakan kalau pengoperasian drone hampir sama dengan perangkat radio control lainnya. Bedanya ada pada pemanfaatannya, drone model ini lebih stabil sehingga memungkinkan untuk mengabadikan gambar atau video.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Komunitas yang terbentuk pada 11 Mei 2014 ini diakui Agung telah melakukan banyak eksperimen dan mengasilkan gambar dan video yang luar biasa. Bahkan, tambahnya, pada Lebaran tahun lalu, National Traffic Management Center (NTMC) Korlantas Polri menggunakan Phantom untuk memantau lalu-lintas dari udara. Drone tersebut digunakan untuk mengamati rute arus mudik yang mengalami kemacetan, khususnya yang tidak bisa terpantau oleh petugas di lapangan.

“Saat ini fungsi drone sudah sangat beragam. Mulai profesional untuk mengabadikan event, perusahaan pertambangan untuk melihat lahan, juga media lokal untuk kebutuhan liputan,” kata pria yang berprofesi sebagai Disc Jockey ini.

Menurut Agung, Phantom bisa terbang selama 15 menit-20 menit untuk sekali terbang dengan jarak hingga 1,6 kilometer dan ketinggian 400 meter. Tak jarang pula, katanya, pesawat tersebut dijual sepaket dengan mounting (dudukan) action camera seperti GoPro yang di desain ringan, kompak, dan memiliki lensa lebar.

”Bisa dibilang drone ini menggabungkan tiga hobi sekaligus, radio control, videografi, dan fotografi,” katanya.

Foto: dok. Komunitas DJI Phantom Indonesia

Hasil foto udara dengan memanfaatkan drone. Foto: dok. Komunitas DJI Phantom Indonesia

Lebih jauh Agung mengatakan para petani di luar negeri juga memanfaatkan mesin terbang ini untuk memantau lahan pertanian mereka. Di Indonesia sendiri, lanjutnya, penggunaan Drone bisa dimanfaatkan oleh pihak pemerintah.

“Kementerian Pekerjaan Umum bisa menggunakan Drone untuk memantau jalan-jalan rusak atau proyek yang tidak terjangkau. Kementerian Lingkungan Hidup juga bisa menggunakannya untuk memantau titik api di Riau misalnya,” katanya.

Dibentuknya komunitas ini, kata Agung, juga dimaksudkan agar para pengguna atau pehobi drone bisa lebih berhati-hati dan tidak sembarangan dalam menerbangkan pesawat ini. DJI Phantom Indonesia menyarankan bagi pemula yang baru mencoba drone untuk berlatih dilapangan terbuka, bermain rendah, dan berlatih orientasi sesering mungkin sebelum terbang lebih tinggi. Sebab, selain bisa merusak drone saat crash terjadi, juga bisa membahayakan orang lain di sekitarnya.

“Karena itulah komunitas DJI Phantom Indonesia ini dibentuk agar para drone pilot bisa berbagi pengalaman dan mengasah kemampuannya,” pungkasnya.

(G09)

Top