Belajar Gaya Hidup Slow Living dari Kabin Kebun

Reading time: 2 menit
Belajar Gaya Hidup Slow Living dari Kabin Kebun
Belajar gaya hidup slow living dari Kabin Kebun. Foto: Instagram Kabin Kebun.

Dalam live instagram bersama Burgreens Bandung, Ukke Kokasih, founder Kabin Kebun pun juga praktisi gaya hidup slow living di Indonesia, membagikan berbagai pengalaman dan ceritanya dalam menjalankan slow living.

“Slow living sebetulnya adalah satu perlawanan terhadap notion bahwa yang cepat itu yang terbaik. Jadi kita justru melakukan perlawanan terhadap gagasan faster is better. Kami mempertanyakan itu. Bagaimana kita mencoba memberi arti dan penuh kesadaran terhadap proses,” tutur Ukke dalam live instagram pada Kamis (05/11/2020).

Berkesadaran Penuh, Mantra Utama Slow Living

Ukke mengutarakan, praktik slow living sendiri bukanlah tujuan melainkan proses mengapresiasi perjalanan yang dilakukannya. Dia melanjutkan, gaya hidup ini memungkikan kita menikmati kegiatan dan pengalaman yang kita hadapi saat ini dengan berkesadaran penuh.

Ukke mulai menerapkan gaya hidup ini dalam tataran keluarganya. Ukke dan keluarganya mempertanyakan ulang gaya hidup yang serba cepat. Menurut mereka, kehidupan yang serba cepat dan berpikir ‘cepat itu baik’ ini membuat orang kemudian kehilangan kesempatannnya untuk memaknai proses. Memaknai proses yang dia maksud yakni dengan mencoba hidup dalam sebuah momentum dan memberikannya arti.

“Misal kita sedang cuci piring, kita sudah lupa, airnya dari mana? Itu salah satu bentuk berkesadaran. Bagaimana kemudian kita tahu kita sedang cuci piring. Kita lihat airnya. Airnya bening, dari mana kok bisa air bening kayak begini? Kemudian bersyukur. Kita masih bisa cuci piring,” contoh Ukke.

Turut berkomentar tentang slow living, co-owner Burgreens Bandung, Raditya Waching, mengutarakan a seringkali kita membayangkan masa depan. Bayangan masa depan membuat kita melewatkan hidup di momen ini.

“Kalau setiap hari kita membayangkan suatu hari nanti, justru kita lagi gak berkesadaran, kita gak menikmati yang sekarang,” ujar Raditya dalam live instagram yang sama.

Baca juga: Sylendra Power Fokus Tawarkan Baterai untuk Pemanfaatan EBT

Pensiun di Desa, Dukung Gaya Hidup Pelan

Selain itu, Ukke juga menyoroti praktik penggunaan sumber daya alam oleh manusia yang lebih banyak mengambil daripada memberi.

“Sekian lama hidup ini, kayaknya kita kerjanya cuma ngambil-ngambil-ngambil dari alam. Bahkan dari lingkungan sekitar kita juga. Jadi, kita bisa dianggap memiliki privilege. Kita punya obligasi untuk mengembalikan sesuatu itu. Sesuatu yang kita ambil,” kata Ukke.

Ukke melanjutkan, segala macam kebangkrutan ekonomi, lingkungan, budaya, dan pendidikan, berhubungan dengan perebutan sumber daya alam. Menurutnya, perseturuan dengan alam memacu berbagai konflik tersebut.

Dari hasil pantauannya, Ukke menilai keluarganya membutuhkan sebuah gaya hidup yang mampu melawan kebangkrutan. Tujuanya melawan tatanan ekonomi dan gaya hidup masyarakat kebanyakan. Dia pun memulainya dengan pindah ke desa, menciptakan Kabin Kebun. Kabin Kebun merupakan sebuah prakarsa yang mendorong Ukke untuk membangun rumah dan isinya, memelihara kebun, mengelola dan memanfaatkan sampah, sebagai bentuk gaya hidup slow living.

“Kita juga pernah diskusi di dalam keluarga. Kita ingin mencoba gaya hidup baru, pindah ke desa. Kemudian kita kayak pensiun gitu. Kebetulan umurnya juga umur pensiun. Jadi kita pindah dalam rangka mencari koneksi yang lebih baik (dengan alam),” cerita Ukke.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Top
You cannot copy content of this page