Jakarta (Greeners) – Sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan peluang El Nino akan menguat pada akhir 2026. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi ini perlu diantisipasi melalui pemantauan laut dan atmosfer secara berkelanjutan.
Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto mengatakan bahwa berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Nino. Salah satu indikator utamanya adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut pasifik. Hal ini berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur.
Sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer menunjukkan kecenderungan berkembangnya fenomena El Nino pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026. Kondisi ini perlu diantisipasi melalui pemantauan laut dan atmosfer secara berkelanjutan. Tujuannya untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak iklim yang mungkin terjadi di Indonesia.
“Data observasi dan model menunjukkan adanya akumulasi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik. Bersamaan dengan itu, gelombang Kelvin mulai mendorong massa air hangat dari Pasifik Barat menuju Pasifik Timur. Ini merupakan salah satu ciri perkembangan El Nino,” kata Dwi melansir Berita BRIN, Jumat (5/6).
Menurut Dwi, perubahan tersebut dapat diamati melalui suhu bawah permukaan laut, tinggi muka laut, hingga pola angin di kawasan tropis Pasifik. Berbagai model prediksi iklim internasional juga memperlihatkan kecenderungan yang sama.
“Indonesia memiliki posisi penting dalam sistem iklim global. Sebab, berada di kawasan western Pacific warm pool, wilayah dengan suhu permukaan laut tropis terhangat di dunia. Selain itu, Indonesia merupakan jalur Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia,” tambahnya.
Dengan demikian, kata dia, perubahan kondisi laut di wilayah Indonesia dapat menjadi indikator penting untuk memahami perkembangan El Nino. Pemantauan suhu laut, dinamika Arlindo, maupun pergeseran pusat konveksi atmosfer di kawasan maritim Indonesia dinilai dapat membantu mendeteksi perubahan iklim sejak dini.
Dampak El Nino
Sementara itu, Dwi mengingatkan bahwa dampak El Nino terhadap Indonesia, tidak hanya ditentukan oleh kondisi di Samudra Pasifik. Interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berperan besar dalam menentukan tingkat keparahan dampaknya.
“Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Nino. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi,” ujarnya.
Dwi menambahkan bahwa sejumlah model prediksi saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El Nino pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat hingga sangat kuat. Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak dini. Di antaranya melalui pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan, yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi mengatakan bahwa pemahaman terhadap perkembangan El Nino menjadi penting. Sebab fenomena tersebut berpotensi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari sumber daya air hingga sektor kelautan.
“Forum ilmiah menjadi sarana penting untuk memperkuat kapasitas pengetahuan sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam menghadapi dinamika iklim yang terus berkembang,” kata A’an.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































