Gerakan #MakanTanpaSisa Targetkan Kelola 14 Ton Sampah Makanan

Reading time: 2 menit
Sampah makanan
Pola konsumsi tidak tepat hasilkan sampah makanan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Sampah makanan masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Komposisinya pun lebih besar dari jenis sampah lainnya. Gerakan #MakanTanpaSisa menjadi salah satu cara meningkatkan kesadaran masyarakat mengurangi dan mengelola sampah tersebut. 

Gerakan ini buah ide dari PT Bank DBS Indonesia (DBS) berkolaborasi dengan PT Waste4Change Alam Indonesia (Waste4Change).

Baru-baru ini Festival #MakanTanpaSisa bertema “Kurangi & Kelola Sampah Makanan untuk Jaga Masa Depan”  mereka gelar di Perumahan Vida Bekasi. Festival ini menargetkan pengelolaan 14 ton sampah makanan.

Bappenas dan Waste4Change, Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia tahun 2021 mengkaji timbulan sampah makanan. Sampah tersebut mendominasi sekitar 44 % sampah nasional yaitu setara 23-48 juta ton sampah per tahun.

Sementara itu, bulan Juli 2022, dari total 2.000 kepala keluarga yang menghuni Perumahan Vida Bekasi, menghasilkan sekitar 47,5 ton timbulan sampah organik.

Jika tidak dikelola dengan optimal, timbulan sampah ini dapat menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan tindakan kolaboratif dari berbagai pihak untuk mewujudkan pengelolaan sampah makanan yang bertanggung jawab.

Ubah Perilaku Warga Terhadap Sampah Makanan

Dalam keterangannya, Head of Group Strategic Marketing & Communications Bank DBS Indonesia, Mona Monika berharap, kolaborasi dengan Waste4Change dan Vida Bekasi dapat berdampak positif dan signifikan bagi perubahan perilaku warga Vida. Sehingga mereka konsisten mengompos sebagian sampah organik yang mereka hasilkan.

“Hal ini sejalan dengan semangat kami untuk mengedukasi masyarakat mengompos sisa makanan. Sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir agar dapat mewujudkan zero to landfill,” ucapnya.

Head of Strategic Services Waste4Change Adhitya Prayoga menyatakan, di tahun 2021, Indonesia ditetapkan sebagai kontributor sampah makanan terbesar di dunia.

Food waste setiap tahun jumlahnya hampir selalu mendominasi total sampah nasional. Program #MakanTanpaSisa ini harapannya pesannya dapat tersampaikan ke masyarakat luas. Sampah organik seperti sisa makanan dan dapur, harus semaksimal mungkin dikelola sejak dari hulu,” tuturnya.

Gerakan pengelolaan sampah makanan warga Perumahan Vida Bekasi. Foto: Waste4Change

Tanpa Pengurangan akan Jadi Persoalan Besar

Gerakan #MakanTanpaSisa menjadi bagian dari kampanye Towards Zero Waste Food dan wujud komitmen dari salah satu pilar sustainability Bank DBS yaitu Creating Social Impact Beyond Banking yang mereka inisiasi sejak tahun 2020.

Tahun ini, Bank DBS Indonesia menargetkan menyelamatkan sampah ini sebesar 26 ton melalui berbagai kegiatan. Di antaranya kerja sama dengan Waste4Change sebagai salah satu wirausaha sosial yang DBS Foundation naungi.

Program #MakanTanpaSisa nantinya akan berjalan selama tiga bulan dengan berisikan tiga kegiatan. Sejumlah kegiatan itu yakni Festival #MakanTanpaSisa, Composting Challenge dan Campaign Edukasi.

Waste4Change sebagai perusahaan penyedia layanan pengelolaan sampah yang holistik mendukung upaya berbagai pihak dalam mewujudkan Indonesia bebas sampah.

Material Waste4Change mengelola sampah organik melalui dua cara, di antaranya membuat kompos. Lalu Larva BSF yang bisa menjadi pakan alami ternak dan ikan karena proteinnya yang tinggi serta dapat diproduksi secara lokal, dekat dengan sumber limbah.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page