Isi Piringmu Bisa Kendalikan Perubahan Iklim Jika Tak Jadi Limbah

Reading time: 2 menit
Bijak mengonsumsi makanan ikut menekan dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Tahukah kamu, kalau Indonesia menjadi negara peringkat kedua dunia yang menghasilkan limbah makanan? Hal ini harus menjadi peringatan buat seluruh masyarakat. Sebab untuk memproduksi suatu bahan pangan dan juga makanan ada emisi yang dihasilkan. Nah, jika makanan terbuang sia-sia dan tak bijak manusia konsumsi, jejak emisi yang ada makin mendorong kerentanan terjadinya perubahan iklim.

Selain itu, tanpa ada pengendalian perubahan iklim, bumi akan terimbas dampaknya. Kenaikan suhu bumi dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem menjadi tanda menguatnya perubahan iklim.

Sementara itu, mengkonsumsi sayur dan buah selain memberi nutrisi tubuh bisa menjadi cara konsumsi makanan berkelanjutan yang dapat melestarikan lingkungan. Sayangnya Indonesia menjadi negara kedua tertinggi penghasil limbah makanan. Negara urutan pertama Arab Saudi dan peringkat ketiga Amerika Serikat.

“Sayang banget ya bukan prestasi tingkatnya. Harusnya bisa kita gunakan untuk menjadi bahan refleksi,” kata CEO Founder Zero Waste Maurilla Sophianti Imron dalam webinar bertajuk Perlambat Perubahan Iklim Dimulai dari Isi Piringmu! di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Maurilla, hal tersebut bukan merupakan peringkat yang harus Indonesia banggakan. Namun harus menjadi kekhawatiran bersama. Pasalnya Indonesia menjadi peringkat kedua sebagai penyumbang limbah makanan. Dari data yang ada per orang bisa menghasilkan 300 kg dalam setahun. Jika terakumulasi kerugian secara ekonomi mencapai Rp 551 triliun.

Cegah Makanan Jadi Limbah untuk Perbaikan Gizi

Padahal lanjutnya, jika 300 kg makanan yang tak habis terkonsumsi ini bisa mencukupi kekurangan gizi yang masih ada di Indonesia. Apalagi hampir 40 % timbulan sampah berasal dari makanan. Bahkan 58 % di antaranya ada di tahap konsumsi.

Namun hingga saat ini, masih ada masyarakat Indonesia yang tidak menghabiskan makan dan membuangnya begitu saja. Selain itu sayur mayur dan buah-buahan yang petani hasilkan dan tak lolos kualitas di supermarket juga rentan menjadi sampah.

Hal tersebut terjadi karena masyarakat ingin kualitas yang sempurna. Padahal sayur mayur dan buah-buahan bukan kualitas premium masih bisa terolah dan menghasilkan sumber pangan yang bergizi.

Oleh sebab itu tambahnya, masyarakat harus mulai bijak dan mengurangi dari sumbernya. Masyarakat pun harus bijak memilih dan mengonsumsi makanan. Lalu menghabiskan makanannya.

“Apa yang kita ambil, harus kita habiskan,” tegas Maurilla.

Lalu jika ada makanan yang berlebih bisa masyarakat donasikan kepada food bank untuk bisa terdistribusi kepada masyarakat prasejahtera. Selain itu, makanan yang tak habis bisa masyarakat berikan ke hewan. Bisa pula sisa makanan menjadi kompos dari pada berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kita bisa pula memilih sayuran yang ingin kita makan, atau menanam sayuran tersebut. Lalu kita bisa mencampur sayuran tersebut dengan bahan makanan lain sehingga bisa menjadi stok seperti kaldu sayur,” paparnya.

Namun jika memilih untuk membuat limbah makanan menjadi kompos, bisa dengan membuat biopori yang dapat menutrisi tanah. “Harus dimaksimalkan jangan sampai terbuang ke TPA menjadi racun dan tidak terpakai benefit nutrisinya itu,” imbuhnya.

Penulis : Ihya Afayat

Top