Hitung Emisi Pribadi, Langkah Awal Menambal Krisis Iklim

Reading time: 3 menit
Langkah Hijau: Hitung Emisi Pribadi, Langkah Awal Menambal Krisis Iklim
Hitung Emisi Pribadi, Langkah Awal Menambal Krisis Iklim. Foto: Shutterstock .

World Resources Institute (WRI) Indonesia mencatat 97 persen ilmuwan iklim dunia sepakat bahwa masalah krisis iklim akibat dari kegiatan manusia. Salah satunya melalui kontribusi gas emisi dan polusi hasil dari kegiatan sehari-hari, misalnya dari pilihan moda transportasi. Sebanyak 24 persen emisi bersumber dari sektor transportasi. Dari persentase tersebut 72 persennya berasal dari transportasi darat. Inisiatif Langkah Hijau  berupaya menambal kerusakan ini, mulai dengan menghitung jumlah emisi masing-masing individu.

Jakarta (Greeners) – Direktur WRI Indonesia, Nirata Samadhi menyebut selain sumber masalah iklim, manusia juga merupakan  solusi atas masalah tersebut. Aktivias masyarakat sangat penting untuk menjaga keberlangsungan lingkungan. Menurut Nirata, masyarkat harus memiliki kesadaran untuk menghitung pengeluaran emisi dan polusinya. Ketika warga telah mengetahui jumlah emisi yang mereka hasilkan, lanjut Nirata, kemudian akan ada langkah penyeimbang, misalnya dengan menanam pohon.

“Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menghitung pengeluaran emisi dan polusi dari kegiatan sehari-hari kita, dimulai dari transportasi darat, setelah itu baru seseorang bisa mengurangi dampak emisi yang dihasilkan dengan menanam pohon. Sebab pohon merupakan salah satu solusi termudah dan efektif untuk menyerap karbon dari atmosfer,” ujar Nirata dalam konferensi pers virtual terkait Inisiatif Offsetting Carbon, Sabtu (28/11/2020).

Bentuk Kesadaran Masyarakat untuk Jaga Lingkungan

Nirata menyampaikan pihaknya terlibat dalam sebuah inisiatif kolaborasi bersama Benih Baik dan Grab Indonesia. Insiatif bernama Langkah Hijau ini menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui informasi terkait emisi yang masyarakat umum hasilkan. Inisiatif dalam bentuk carbon offsetting ini merupakan salah satu bentuk edukasi agar masyarakat mau berdonasi untuk kegiatan penanaman pohon.

Sebagai lembaga riset, lanjut Nirata, WRI menyediakan langkah ilmiah dalam kalkulator emisi dan data pohon. Pihaknya memfasilitasi agar donasi bisa langsung tersalur kepada mitra menanam pohon. WRI juga akan memonitor pohon yang sudah ditanam berdasarkan fakta dan kaidah keilmuan.

“Langkah Hijau berusaha membangun penyederhanaan informasi untuk membuat orang sadar dan bergerak atas dasar informasi yang dimilikinya,” jelas Nirata.

President of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata menjelaskan inisiatif Langkah Hijau dalam bentuk carbon offsetting mengajak masyarakat Indonesia bergabung dalam rangka menciptakan dunia yang lebih baik. Inisiatif yang dimulai pada 28 November 2020 ini akan berkelanjutan hingga tahun 2021 dan terdiri dari fitur carbon calculator,  crowdfunding, dan kampanye media sosial. Ridzki lalu merinci keempat jenis fitur Langkah Hijau.

Inisiatif Langkah Hijau

1. Carbon Calculator

Carbon Calculator merupakan fitur bagi pengguna Grab untuk menghitung sendiri donasi carbon offsetting mereka. Nantinya, jejak karbon tersebut akan terkonversi menjadi bentuk donasi. Benih Baik akan menjadi wadah penyaluran donasi kepada mitra penanaman pohon yang WRI Indonesia fasilitasi. Target dari donasi tersebut sebanyak Rp 500 juta dari pengguna. Jumlah ini sepenuhnya untuk penanaman pohon.

2. Crowdfunding

Crowdfunding adalah fitur bagi pengguna Grab Indonesia dapat melalui widget donasi Langkah Hijau dalam aplikasi Grab. Widget ini akan terintegrasi ke halaman khusus Benih Baik agar pengguna dapat melakukan donasi. 

3. Donasi Sosial Media

Selain melalui donasi langsung, seluruh masyarakat juga dapat melakukan donasi melalui media sosial. Masyarakat dapat melakukan posting di Twitter dengan tagar #LangkahHijau dan mention ke akun resmi @GrabID sebanyak mungkin. Setiap posting akan dikonversi menjadi donasi sebesar Rp 1.000  dari Grab yang akan dikumpulkan hingga bernilai maksimal  Rp 100 juta, yang juga akan digabungkan dengan donasi dari pengguna aplikasi Grab. 

“Keseluruhan donasi senilai Rp 600 juta yang dihasilkan melalui inisiatif Grab Carbon Offsetting ini, akan diwujudkan untuk penanaman pohon di taman kota dan lokasi lainnya yang akan diimplementasikan di tahun 2021,” ucap Ridzki.

langkah hijau

Sebanyak 24 persen emisi bersumber dari sektor transportasi. Dari persentase tersebut 72 persennya berasal dari transportasi darat. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Pilkada Serentak 2020: Aktivis Garis Bawahi Sektor Lingkungan

Langkah Hijau Tawarkan Solusi Menekan Emisi Karbon Pasca Pandemi

Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi menyebut sejak pandemi Covid-19, praktis terjadi penyesuaian aktivitas masyarakat termasuk di sektor perhubungan. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas udara yang menghambat laju pemanasan global. Meski begitu, upaya penurunan emisi dari transportasi harus tetap berlangsung.

Menhub menyebut keterlibatan dunia usaha sangat penting untuk menjaga keberlangsungan lingkungan. Dia menilai inisiatif para pengusaha jasa transportasi sangat penting. Menurutnya, program Langkah Hijau dari Grab baik dalam menyediakan transportasi ramah lingkungan maupun carbon offsetting sangat penting sebagai salah satu solusi menekan emisi karbon pasca pandemi Covid-19 berakhir.

“Kita harus ingat bahwa kondisi seperti sekarang tidak berlangsung selamanya. Kita harus berinovasi seperti Grab dengan program Langkah Hijau agar ketika pandemi berakhir, treatment masyarakat kembali normal dan kita punya solusi untuk mengurangi jejak karbon yang dihasilkan selama ini,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Ma’rup

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page