Konser Satu Indonesia, Guruh Pun Turut Dukung Tolak Reklamasi Bali

Reading time: 2 menit
"Konser Satu Indonesia: Salute to Guruh Sukarnoputra" digelar pada Rabu (26/11/2014) malam. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Jakarta (Greeners) – Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra atau yang lebih dikenal sebagai Guruh Sukarnoputra sudah banyak melahirkan karya yang mengangkat budaya dan kesenian Indonesia. Konsistensi pada kesenian dan budaya Indonesia itulah yang membuat nama putra dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno, ini dikenal hingga ke mancanegara.

Untuk mengapresiasi karya-karyanya, komposer kenamaan Indonesia, Erwin Gutawa dan penata artistik Jay Subiakto menggelar “Konser Satu Indonesia: Salute to Guruh Sukarnoputra”. Konser yang berlangsung di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Jakarta pada 26 November 2014, lusa malam tersebut diisi oleh musisi, penyanyi, dan penari yang membawakan karya Guruh. Raisa, Nowela, Tulus, Superman Is Dead, RAN, dan The Overtunes adalah beberapa diantaranya.

Erwin Gutawa (memegang mic) dan Jay Subiakto (kiri depan) bersama para artis yang turut mengisi "Konser Satu Indonesia: Salute to Guruh Sukarnoputra". Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Erwin Gutawa (memegang mic) dan Jay Subiakto (kiri depan) bersama para artis yang turut mengisi “Konser Satu Indonesia: Salute to Guruh Sukarnoputra”. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Sepanjang konser berdurasi lebih kurang dua jam tersebut, penampilan grup band punk asal Bali, Superman Is Dead (SID) tampil berbeda. Band dengan tiga orang personel ini membuka penampilan mereka dengan lagu ciptaan Guruh yang berjudul “Bali Kembali.”

Penabuh drum SID, I Gede Aris Astina atau akrab disapa Jerinx, mengaku langsung setuju ketika ditawari untuk membawakan lagu “Bali Kembali” oleh Erwin Gutawa. Mewakili rekan-rekannya, pemuda asal Bali ini bahkan menyatakan bahwa lagu tersebut memang sudah seharusnya mereka bawakan karena kondisi Bali saat ini tergambar sesuai dengan lirik tersebut.

“Bali sudah mulai kehilangan rohnya, mulai kehilangan inner beauty-nya karena digerus oleh industri yang sangat pasif dan buta itu,” katanya.

Lagu yang pernah populer di tahun 1985-an tersebut dirasa sangat relevan dengan kondisi politik yang tengah terjadi di Bali, tepatnya di Teluk Benoa. Di wilayah itu sedang bergulir penolakan rencana reklamasi lahan seluas 800 hektare yang akan di lakukan oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional. Padahal, sebelumnya Teluk Benoa telah resmi dinyatakan sebagai kawasan konservasi.

Atas penampilan mereka malam itu, Jerinx berharap pesan sosial yang mereka suarakan menuai lebih banyak lagi dukungan.

“Mudah-mudahan kolaborasi bersama tadi bisa membuka lebih banyak lagi mata hati masyarakat Indonesia jikaBali sedang memerlukan bantuan kita semua untuk kembali lagi cantik seperti sedia kala,” pungkasnya.

Guruh Sukarnoputra. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Guruh Sukarnoputra. Foto: greeners.co/Renty Hutahaean

Guruh Sukarnoputra yang ditemui usai konser menyatakan dirinya tidak keberatan dengan penampilan SID tersebut. Ia bahkan menyatakan turut mendukung gerakan tolak reklamasi di Bali.

“Saya senang, Superman Is Dead juga membawakannya dengan baik. Pesan-pesan politik yang disampaikan juga saya setuju. Pesan reklamasi di Benoa itu, saya juga pendapatnya sama bahwa saya juga tidak setuju dengan reklamasi itu,” ungkap Guruh.

(G08)

Top
You cannot copy content of this page