Mengenal Pompa Barsha dan Memasak Garam di Desa Kadahang

Reading time: 3 menit
Tim Ekspedisi Sumba 2015. Foto: dok. Ekspedisi Sumba 2015

Kadahang (Greeners) – Perjalanan tim Ekspedisi Sumba 2015 pada hari ke lima dan enam dimulai di Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di sini, Kedelapan orang tim ekspedisi tinggal bersama masyarakat Desa Kadahang dan merasakan bagaimana kegiatan mereka sehari-hari tanpa aliran listrik dan akses air bersih.

Martinus Ndappa Nganjar, Kepala Desa Kadahang mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kadahang hidup dengan cara berkebun. Kebanyakan, jenis yang bisa ditanam hanya jagung dan beberapa umbi-umbian. Oleh karena itu, dirinya dan beberapa penduduk yang peduli terhadap hidup masyarakat mulai melakukan pembinaan agar warga Desa bersedia untuk masuk kedalam kelompok tani dan mulai mempelajari cara bercocok tanam dengan menggunakan pupuk organik serta menanam lebih banyak jenis sayuran.

“Kita punya DAS (Daerah Aliran Sungai) yang luas, sekitar 70 hektar. Tapi karena kekurangan alat dan akses akan energi listrik jadi sangat sulit untuk dimaksimalkan dan itu baru dari sisi pekerjaan masyarakat. Beda dengan sisi kehidupan. Akses air bersih sangat sulit, ditambah penerangan masyarakat hanya menggunakan lampu pelita (obor minyak tanah),” tutur Martinus, Kadahang, Minggu (06/09).

Namun, keadaan menjadi berbeda semenjak dipasangnya pompa Barsha, pompa bikinan aQysta, sebuah perusahaan start up yang berbasis di Delft, Belanda yang berfokus pada pengembangan sistem irigasi menggunakan tenaga air. Martinus mengakui ada sedikit kemudahan yang didapatkan oleh masyarakat Desa Kadahang. Walau baru beberapa lahan saja, tapi sudah mampu mengairi lahan pertanian masyarakat setempat.

Selain itu, karena memanfaatkan tenaga air, pompa ini terhitung low-cost. Selama usia pemakaiannya, pompa ini mampu menghemat hingga 70% biaya pemakaian jika dibandingkan dengan pompa bertenaga diesel atau bensin. Pompa Barsha juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas rumah kaca seperti kalau memakai pompa berbahan bakar diesel atau listrik.

“Pompa ini berkapasitas maksimal 30 ribu liter air per hari, mampu mendorong tegak lurus hingga 15 meter. Dorongannya juga bisa mencapai dua kilometer dari turbin,” tambahnya.

Top
You cannot copy content of this page