Pemkot Bogor dan Dietplastik Indonesia Perkuat Pengelolaan Sampah

Reading time: 2 menit
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim dan Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira menandatangani Kesepakatan Bersama. / Foto : Dietplastik Indonesia

Jakarta (Greeners) – Pemerintah Kota Bogor bersama Dietplastik Indonesia berkolaborasi dalam memperkuat pengelolaan sampah di Kota Bogor. Kolaborasi ini juga menjadi upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat kota.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim dan Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Upaya Mitigasi Perubahan Iklim melalui Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Kota Bogor pada Senin (7/9) di Balai Kota Bogor. Kerja sama ini akan berlangsung selama tiga tahun. Tujuan dari kerja sama ini untuk mengembangkan kebijakan, program, serta kegiatan pengelolaan sampah yang terpadu, sinergis, dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini mencakup beberapa hal. Pertama penguatan tata kelola dan regulasi pengelolaan sampah. Kedua pengembangan sistem pengurangan sampah plastik melalui penguatan ekosistem guna ulang (reuse). Ketiga pengembangan pengelolaan sampah organik termasuk inventarisasi emisi gas rumah kaca. Keempat peningkatan kapasitas sumber daya manusia, edukasi dan pelibatan masyarakat. Kelima pertukaran data dan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.

“Ini merupakan langkah yang penting untuk kebijakan pengelolaan sampah di Kota Bogor. Dimulai dengan pembatasan plastik sekali pakai, kebijakan ini diperkuat dengan penyediaan tempat kantong belanja di pasar tradisional. Kami berharap kerjasama ini bisa memberikan dampak positif untuk perkembangan lingkungan di Kota Bogor.” ujar Dedie melansir siaran pers.

Batasi Plastik Sekali Pakai

Kolaborasi Dietplastik dengan Pemerintah Kota Bogor ini bukan menjadi kali pertama. Tiza mengatakan bahwa pihaknya telah membersamai Pemerintah Kota Bogor sejak 2018. Awal kerja sama itu melalui kebijakan pembatasan plastik sekali pakai.

“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengangkut dan memindahkan sampah. Kita perlu mencegah sampah sejak dari sumbernya, mengurangi timbulan sampah, dan membangun sistem yang memungkinkan masyarakat menjalankan praktik pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” kata Tiza.

Ia menambahkan bahwa pada saat yang sama, masyarakat perlu melihat pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Terutama melalui pengelolaan sampah organik dan pengurangan emisi gas rumah kaca. “Karena itu, Kesepakatan Bersama ini menjadi momentum penting untuk memperkuat perubahan sistem pengelolaan sampah di Kota Bogor,” ujarnya.

Kelola Sampah Bersama Komunitas

Di Kota Bogor, upaya pengurangan sampah dari sumber juga telah menjadi bagian dari kolaborasi Dietplastik Indonesia dengan berbagai pihak. Hal ini termasuk melalui program Pasar Bebas Plastik Bogor dan Drop Tas Belanja Guna Ulang bersama Perumda Pasar Pakuan Jaya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat ekosistem pengurangan sampah dan guna ulang di Kota Bogor.

Tak hanya itu, kolaborasi ini juga akan memperkuat pembelajaran dari berbagai inisiatif yang telah berjalan di tingkat masyarakat. Salah satunya melalui Proyek FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions).

Proyek tersebut berkolaborasi dengan Kelompok Peduli Lingkungan di RW 10 Situ Gede. Proyek ini mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas untuk mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka sekaligus meningkatkan kualitas udara. Pengalaman di tingkat komunitas ini menjadi salah satu pembelajaran penting untuk memperkuat pendekatan pengelolaan sampah di tingkat kota.

Selain itu, momentum ini juga selaras dengan komitmen Pemerintah Kota Bogor terhadap Cities Methane Pledge, yang menempatkan pengurangan emisi metana dari sektor persampahan sebagai bagian dari agenda mitigasi perubahan iklim kota.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Top