Perairan Kota Sorong Terkontaminasi Mikroplastik

Reading time: 2 menit
Prigi dari Tim ESN mengambil sampel air untuk uji mikroplastik. Foto: Tim ESN

Jakarta (Greeners) – Komunitas Generasi Peduli Sungai Klamono (G-PSK) berkolaborasi dengan Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN). Keduanya melakukan uji mikroplastik di Sungai Remu, Muara Sungai Remu Kota Sorong dan Sungai Klamono Distrik Lasafet Kabupaten Sorong, Senin (7/11).

Peneliti ESN Prigi Arisandi dalam keterangannya menyebut, berdasarkan uji mikroplastik, sungai Klamono dianggap masih bersih dari polusi mikroplastik dibandingkan sungai Remu.

“Kami melakukan pengambilan sampel air sebanyak 50 liter di Sungai Remu dan Klamono. Setelah diamati di bawah mikroskop portable ditemukan kadar mikroplastik 100-103 partikel mikroplastik di Sungai Remu Kota Sorong dan 4 partikel di Sungai Klamono,” katanya.

Indonesia memiliki roadmap pengurangan sampah plastik ke laut hingga 70 % pada tahun 2025. Namun hingga kini sampah-sampah dari sungai tak terkendali masuk ke perairan pesisir.

“Belum ada upaya serius pemerintah daerah untuk ikut mengurangi volume sampah plastik yang masuk ke laut” ungkap dia.

Sebagian besar jenis mikroplastik yang mencemari perairan Sorong adalah jenis fiber yang berasal dari limbah cair domestik.

Kondisi Perairan di Kota Sorong. Foto: Tim ESN

Pembuangan Sampah Buruk

Selain mengancam ekosistem perairan dan keanekaragaman hayati laut, kontaminasi mikroplastik ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Sorong yang kerap mengonsumsi ikan.

“Karena bentuk mikroplastik sama dengan plankton maka, ikan menganggap mikroplastik adalah makanan. Semakin banyak sampah plastik masuk ke laut semakin besar terbentuknya mikroplastik dan makin besar peluang ikan makan plastik,” tuturnya.

Koordinator (G-PSK) Doddy Aleman Wamblesa menyatakan, kondisi ini terjadi karena tidak adanya pengelolaan sampah dan penyediaan sarana tempat sampah yang memadai oleh pemerintah. Hal ini membuat masyarakat membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai atau mereka bakar.

Ia menyebut, sampah plastik yang tidak terkelola memenuhi saluran air dan bermuara ke Pantai Sorong.

“Yang sering saya dengar saling lempar kesalahan. Pemerintah bilang sampah di sungai karena masyarakat kurang sadar. Sedangkan masyarakat menyalahkan pemerintah karena tidak menyediakan sarana pengelolaan sampah yang layak,” Ungkap Dody, Alumnus Jurusan Teknik Geologi Universitas Cendrawasih Jayapura, Provinsi Papua ini.

Pengujian sampel air dengan mikroskop. Foto: Tim ESN

Plastik Sekali Pakai Picu Mikroplastik

Selain itu, masih masifnya penggunaan plastik sekali pakai menjadi penyebab permasalahan ini. Misalnya kresek, sedotan, sachet, hingga botol air minum sekali pakai dan popok. Mikroplastik ini identik dengan plankton dan ikan anggap sebagai makanannya.

Faktor lain yakni masih minimnya peran produsen dalam ikut mengolah sampahnya. Lalu masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah plastik.

GPSK dan ESN mendorong Pemkot Sorong memprioritaskan pengendalian sampah plastik yang masuk ke perairan.

Caranya melalui penyediaan sarana sampah di fasilitas umum maupun pemukiman di kelurahan. Kedua, harus ada sarana pengelolaan sampah pada tiap kelurahan dan distrik. Ketiga, membuat regulasi larangan atau pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Keempat, mendorong kelompok-kelompok masyarakat untuk ikut menjaga agar tidak ada warga yang membuang sampah plastik sembarangan. Terakhir, mendorong produsen seperti Unilever, Nestle, Wings, Indofood, Mayora, Coca Cola dan Santos ikut mengelola sampah bungkus plastik yang tercecer di Kota Sorong.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page