Wirausaha Anak Muda Miliki Kesadaran Lingkungan Tinggi

Reading time: 2 menit
Wirausaha anak muda dorong pergerakan roda ekonomi. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Di tengah masih adanya kesenjangan anak muda di perkotaan dan perdesaan, peran mereka sangat besar mendorong usaha ekonomi kreatif. Bahkan tak sekadar meraih profit tapi juga berpikir jauh dan lebih berkesadaran lingkungan.

Country Head of Corporate Affairs, Citi Indonesia Puni A. Anjungsari menyatakan, masih ada kesenjangan yang cukup lebar antara pemuda-pemuda di kota maupun di daerah.

“Masalahnya selama ini 60 persen penduduk dunia justru ingin tinggal di kota. Ini tentu menyebabkan kesenjangan di daerah,” katanya dalam Youth Colab National Dialogue di Jakarta, Rabu (26/10).

Oleh sebab itu penting menumbuhkan ekosistem wirausaha di lokasi-lokasi yang potensi anak mudanya sangat besar. Pasalnya, anak-anak muda daerah tak sekadar berpotensi mengurangi pengangguran, tapi juga mampu menggerakkan perekonomian di daerah.

Bahkan usaha para anak muda lebih terdepan mengusung kesadaran lingkungan. “Kita banyak sekali mengelola bumi secara tak berkelanjutan dan akhirnya anak mudalah yang menanggung dampaknya. Dari ancaman ini maka timbullah kesadaran mencari solusi,” imbuhnya.

Menurutnya penting kolaborasi pemuda, komunitas dan pemerintah untuk membentuk solusi inovatif akan ide-ide wirausaha yang berkelanjutan.

Indeks Pembangunan Pemuda Belum Capai Target

Data terbaru, dalam tujuh tahun terakhir Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) belum mencapai target.
Direktur Keluarga Perempuan Anak Pemuda dan Olahraga, Kementerian PPN/Bappenas Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan, investasi pembangunan generasi muda tak bisa diabaikan dalam perencanaan pembangunan nasional.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, generasi milenial (usia 24-39 tahun) sebesar 25,87 persen dan generasi Z (usia 8-23 tahun) sebesar 27,94 persen mendominasi penduduk Indonesia.

Puncak bonus demografi pada tahun 2028-2031 hendaknya menjadi momentum untuk memanfaatkan potensi generasi muda secara optimal. Sehingga perlu peningkatan kapasitas yang memadai.

Namun sayangnya, hingga saat ini IPP sebagai alat ukur pembangunan pemuda masih jauh dari target. Target capaian IPP tahun 2024 yaitu sebesar 57,67 sedangkan tahun 2021 mencapai 53,33.

“Sebenarnya tahun 2021 lalu sudah meningkat dibanding tahun 2020 yaitu 51,00 dan 2019 yaitu 52,61 tapi masih belum mencapai target yang kita tetapkan,” tuturnya.

IPP terdiri atas berbagai sektor mulai dari domain dasar, yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja. Selain itu juga partisipasi, kepemimpinan serta gender dan diskriminasi.

Woro mengungkap, terdapat tren kenaikan angka pada domain kesehatan dan kesejahteraan, gender dan diskriminasi. Sedangkan untuk capaian domain pendidikan mengalami stagnasi.

“Tahun 2021 lalu 1 dari 4 pemuda tidak bekerja, tidak ke sekolah maupun tidak mengikuti kursus. Kemudian 14 dari 100 angkatan kerja pemuda tak terserap dalam pasar kerja,” katanya.

Inovasi membuat daur ulang limbah plastik lebih bernilai. Foto: Shutterstock

Anak Muda Harus Aktif Berwirausaha

Sementara Analisis Kebijakan Utama Kementerian Pemuda dan Olahraga mendorong anak muda terlibat aktif dalam gerakan masif kewirausahaan secara mandiri.

Ia mengungkap, berbagai hal seperti anggaran, kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan program menjadi tantangan yang harus diperbaiki.

“Ada masalah bahwa kemampuan daerah satu sama lain ini berbeda. Oleh karena itu perlu upaya bersama peningkatan kapasitas kelembagaan dan tata kelola di level daerah,” ungkapnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page