53 Persen Sampah di Gunung Merupakan Sampah Plastik

Reading time: 3 menit
Konferensi pers hasil survei timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia. Survei ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Jambore Sapu Gunung Indonesia yang akan diadakan pada tanggal 30 April 2016 mendatang. Foto: greeners.co/Rizky Damayanti

Jakarta (Greeners) – Komunitas Sapu Gunung bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan mahasiswa pecinta alam melakukan survei jumah timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia sejak tanggal 11 hingga 24 April 2016.

Dari 15 titik tersebut, delapan titik yang telah disurvei menunjukkan terdapat 453 ton sampah yang dihasilkan oleh 150.688 orang pendaki per gunung setiap tahunnya atau sama dengan sekitar tiga kilogram sampah per pengunjung.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) Kementerian LHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, dari jumlah survei tersebut, sebanyak 53 persen atau setara dengan 250 ton sampah merupakan sampah plastik yang sulit terurai dan secara permanen berpotensi mencemari ekosistem taman nasional.

“Hasil survei ini menggambarkan kalau permasalahan sampah adalah hal yang perlu diwaspadai. Ini berkaitan dengan salah satu fungsi taman nasional sebagai destinasi wisata yang harus bersih dari sampah dan pemeliharaan serta pelestarian flora fauna endemiknya,” kata Tuti di Jakarta, Rabu (27/04).

Sebagai contoh, Taman Nasional Gunung Rinjani didatangi 36.500 pendaki per tahun. Setiap tahunnya, sekitar 160,24 ton sampah dihasilkan di taman nasional ini dan jumlah ini merupakan jumlah timbunan sampah terbanyak di antara delapan lokasi yang sudah disurvei.

Oneng Setyaharini, Asisten deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata pun mengakui, permasalahan sampah di lokasi wisata termasuk taman nasional memang masih membutuhkan banyak perhatian. Sesuai dengan indeks daya saing pariwisata tahun 2014, terang Oneng, Indonesia berada di peringkat 135 dari 141 negara dalam hal keberlanjutan lingkungannya.

Menurut Oneng, indeks lingkungan di taman nasional masih sangat rendah. Diperlukan tanggung jawab bersama untuk membenahi permasalahan ini karena, menurutnya, Kementerian Pariwisata sangat berkepentingan dalam menjaga kebersihan di destinasi wisata Indonesia, termasuk juga kawasan taman nasional.

“Bahkan ada program tata kelola destinasi pariwisata di tempat kita. Di Rinjani sudah ada lima tahun program ini tapi masih saja kita belum bisa menyelesaikan masalah sampah. Mungkin memang karena koordinasi dan sinergi antar kementerian masih sangat kurang,” terangnya.

Koordinator gerakan Sapu Gunung yang juga Pimpinan Redaksi Greeners.co, Syaiful rochman, mengatakan, saat ini masih belum banyak upaya pengurangan dan pengelolaan sampah yang dilakukan di destinasi wisata gunung. Untuk itu diperlukan adanya inventarisir dan monitoring timbulan sampah serta pengelolaan sampah di taman nasional.

Fakta yang menarik dari hasil survei tersebut, katanya, adalah tersedianya wadah atau tempat sampah di kawasan Taman Nasional dan gunung. Akibat dari disediakannya wadah sampah ini, membuat para pendaki membuang sampahnya di wadah sampah tersebut dan tidak membawanya turun.

“Kalau jarak dari wadah sampah tersebut sekitar 5 kilometer dari pos-pos pendakian, pengelola taman nasional sendiri akan kewalahan. Pasti dibutuhkan banyak orang dan tenaga serta biaya untuk membawa sampah tersebut. Oleh karena itu, jangan sediakan wadah sampah di dalam kawasan,” tegasnya.

Sebagai informasi, sebanyak 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia telah disurvei oleh komunitas Sapu Gunung bersama dengan KLHK dan mahasiswa pecinta alam.

Ke 15 lokasi tersebut yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro, Gunung Prau, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Halimun Salak, Gunung Sumbing, Gunung Papandayan, Gunung Bawakaraeng dan Gunung Halau Halau.

Dari 15 lokasi tersebut, ada delapan lokasi yang hasil surveinya telah keluar. Kedelapan lokasi tersebut yaitu Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro dan Gunung Prau.

Survei timbulan sampah di 10 Taman Nasional Gunung dan lima gunung di Indonesia merupakan rangkaian kegiatan dari Jambore Sapu Gunung Indonesia. Kegiatan ini diinisiasi oleh media lingkungan hidup Greeners.co bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Ditjen PSLB3 dan Ditjen KSDAE serta komunitas Sapu Gunung dan mahasiswa pecinta alam.

Diperkirakan kegiatan Jambore Sapu Gunung ini akan dihadiri 1.000 orang dari sekitar 300 komunitas pecinta alam dan komunitas outdoor Indonesia. Jambore Sapu Gunung Indonesia akan diresmikan pada tanggal 30 April 2016. Dalam acara tersebut akan dilakukan pembacaan Deklarasi Gunung Lestari dan Kode Etik Pecinta alam yang dipusatkan di area perkemahan Ranu Pani, Gunung Semeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kode etik ini merupakan hasil pertemuan dari forum mahasiswa pecinta alam (Mapala), siswa pecinta alam (Sispala) dan beberapa grup pecinta alam lainnya. Kode etik ini dicetuskan pertama kali dalam pertemuan akbar pecinta alam se-Indonesia, Gladian Nasional Pecinta Alam IV, pada tahun 1974.

“Mereka merumuskan bahwa harus adanya etika bagi para pecinta alam. Maka diciptakanlah kode etik itu di Ujung Pandang pada tahun 1974. Nanti kami ingin membacakannya kembali agar menggugah para pendaki muda untuk menjadi pendaki yang cinta dan peduli pada alam,” tutup Syaiful.

Penulis: Danny Kosasih

Top