Ancaman Krisis Pangan, Gali Potensi Keanekaragaman Hayati

Reading time: 2 menit
Masyarakat Papua panen sagu yang menjadi salah satu sumber pangan mereka. Sagu diversifikasi untuk atasi krisis pangan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Keanekaragaman hayati Indonesia berpotensi menjadi sumber pangan di masa depan. Ini menjadi pilihan tepat karena ancaman krisis pangan di dunia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta untuk siap-siap menghadapi ancaman krisis pangan imbas pandemi dan perang Ukraina-Rusia. Ia ingin masyarakat mengambil kesempatan tersebut untuk mengembangkan diversifikasi secara mandiri dengan pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini tak produktif.

Pakar Keanekaragaman Hayati Endang Sukara mengatakan, sejauh ini umat manusia di seluruh dunia bergantung hanya pada beberapa jenis spesies sumber pangan. Jenis itu Food and Agriculture Organization (FAO) tentukan. Terdapat sekitar 21 jenis spesies bahan pangan yang FAO rumuskan, seperti jagung, beras, kedelai dan kentang.

Selain terbatas, tanaman-tanaman tersebut juga juga mengalami kerentanan terhadap perubahan iklim. Endang menyebut, ancaman perubahan iklim khususnya pada tumbuhan pangan sangat tinggi. Kenaikan suhu, muka air laut, kekeringan, kenaikan sanitisitas akan berdampak besar pada sumber pangan ini.

“Spesies-spesies yang kita anggap sebagai sumber pangan mungkin akan terdampak berat oleh perubahan iklim. Di mana kita sudah tidak bisa menanam padi dan jagung,” katanya kepada Greeners, Jumat (10/6).

Perubahan Iklim Menghantui Krisis Pangan

Perubahan iklim, di satu sisi menjadi ancaman yang selalu menghantui sumber dan krisis pangan. Oleh sebab itu, Indonesia harus memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayatinya, khususnya spesies-spesies yang resisten terhadap perubahan iklim.

Misalnya, potensi lontar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lontar tak sekadar menghasilkan nira, tapi dapat menjadi sumber pangan alternatif. Endang menyebut, lontar memiliki kandungan pati sebagai pengganti karbohidrat.

Tumbuhan lain yang tahan terhadap perubahan iklim dan berpotensi sebagai bahan pangan di masa depan yaitu sagu. Indonesia memiliki kurang lebih 3 juta hektar lahan sagu di Papua. Kandungan patinya yang tinggi sangat berpeluang sebagai diversifikasi pangan.

“Permasalahannya saat ini sagu masih berupa hutan sagu, belum dijadikan plantation. Justru yang terjadi saat ini lahan sagu dikonversi menjadi lahan beras dan kelapa sawit. Ini sangat disayangkan karena kita akan rugi besar,” tegas Endang.

Sagu, sambung Endang juga tahan terhadap kadar garam yang tinggi hingga rendaman banjir. Tak ayal jika negara tetangga seperti Malaysia meski memiliki keterbatasan lahan, mereka telah mengembangkan perkebunan sagu.

Spesies lain yang juga berpotensi sebagai sumber pangan yaitu nipah dan nyiur melambai. “Dengan kekayaan beberapa spesies itu mestinya Indonesia bisa menyediakan pangan tidak hanya untuk bangsanya tapi untuk bangsa-bangsa di dunia,” tegasnya.

Riset Sumber Pangan dari Keanekaragaman Hayati

Mengingat keanekaragaman hayati yang berpotensi sebagai sumber pangan sangat tinggi, Endang menekankan pentingnya riset sumber pangan lain.

“Selama ini FAO mendanai riset-riset untuk tumbuhan padi, jagung dalam 21 spesies rumusannya itu. Tapi mungkin kita lupa melihat sumber pangan lain yang sangat berpotensi padahal menjadi makanan tradisional masyarakat adat,” imbuhnya.

Ia juga menyatakan, Indonesia belum cukup menggali program riset untuk sumber pangan untuk antisipasi krisis pangan. Padahal di tengah ancaman perubahan iklim akan semakin banyak keanekaragaman hayati yang punah.

Misalnya, hingga kini belum ada yang meneliti sumber pangan manusia ke depan mengacu pada apa yang orang utan makan. Sementara itu ada prediksi orang utan akan punah di tahun 2035.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top