Anomali Suhu Agustus 2022 Tertinggi Ke-5, 2016 Tetap Tahun Terpanas

Reading time: 2 menit
Efek Fenomena Suhu Panas, Musim Hujan Alami Kemunduran Hingga Bulan November
Ilustrasi kondisi cuaca panas. Foto : Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap anomali suhu udara di Indonesia pada Agustus 2022 memiliki nilai anomali tertinggi ke-5 sepanjang periode pengamatan sejak tahun 1981.

Suhu udara Indonesia rata-rata pada bulan Agustus 2022 menunjukkan anomali positif dengan nilai sebesar 0,35 derajat Celcius.

Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim BMKG Kadarsah menyatakan, berdasarkan data dari 87 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara bulan Agustus periode 1991- 2000 Indonesia yaitu sebesar 26,46 derajat Celcius. Dalam range normal 20,9 derajat Celcius – 28,3 derajat Celcius. Sementara suhu rata-rata Agustus 2022 sebesar 26,81 derajat Celcius.

“Anomali suhu udara Indonesia pada bulan Agustus 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi kelima sepanjang periode data pengamatan sejak tahun 1981,” katanya kepada Greeners, Jumat (9/9).

Lebih jauh, ia menyebut penyebab tingginya suhu udara ini yaitu pengaruh global berupa pemanasan global. Selain itu, ada pula pengaruh lokal yang salah satunya yaitu anomali suhu muka laut di wilayah Indonesia. Umumnya menunjukkan kondisi hangat hingga netral (-0,25 hingga +2,0) derajat Celcius.

“Indikasi kenaikan tersebut menunjukkan pengaruh perubahan iklim terus terjadi,” ucapnya.

Secara kewilayahan, anomali suhu udara rata-rata per stasiun pada bulan Agustus 2022 umumnya menunjukkan nilai anomali positif (lebih tinggi dari rata-rata klimatologisnya) di seluruh wilayah Indonesia.

Anomali Suhu Tertinggi Terpantau di Pulau Jawa dan Indonesia Timur

Anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Kaharuddin, Sumbawa dan Stasiun Meteorologi Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur, sebesar 1,2 derajat Celcius. Sementara, anomali minimum tercatat di Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri, Palu (sebesar -0,7 derajat Celcius).

Perbedaan (selisih) suhu udara rata-rata bulan Agustus 2022 dengan bulan Juli 2022 yang diperoleh dari 85 stasiun pengamatan BMKG di Indonesia umumnya menunjukkan penurunan suhu (nilai negatif) di wilayah Pulau Sumatra dan sebagian barat pulau Kalimantan. Sementara peningkatan suhu (nilai positif) terjadi di wilayah Pulau Jawa sampai ke Indonesia Timur.

Peningkatan suhu terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Eltari – Kupang (sebesar 1,3 derajat Celcius), sedangkan penurunan suhu terbesar tercatat di Stasiun Meteorologi Kualanamu – Deli Serdang (sebesar -0,6 derajat Celcius).

Kenaikan suhu peneliti sebut dampak dari perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Tahun 2016 Terpanas

Meski begitu, BMKG menyebut, tahun 2016 merupakan tahun terpanas. Nilai anomalinya sebesar 0,8 derajat Celcius sepanjang periode pengamatan tahun 1981 hingga 2020. Sementara, tahun 2021 sendiri menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0,4 derajat Celcius.

Pada tahun 2020 dan 2019 berada di peringkat kedua dan ketiga. Nilai anomalinya sebesar 0,7 derajat Celcius dan 0,6 derajat Celcius.

Sebagai perbandingan, informasi suhu rata-rata global yang World Meteorological Organization (WMO) rilis di laporan terakhirnya pada awal Desember 2020 juga menempatkan tahun 2016 sebagai tahun terpanas (peringkat pertama).

Anomali suhu udara rata-rata perstasiun pada tahun 2021 dari 89 stasiun pengamatan BMKG di Indonesia hampir seluruhnya menunjukkan nilai anomali positif. Hanya sebagian kecil yang memiliki nilai anomali negatif.

Anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani, Jayapura (sebesar 1,4 derajat Celcius). Sedangkan anomali minimum tercatat di Stasiun Meteorologi Dumatubun Tual, Maluku Tenggara (sebesar -0,3 derajat Celcius).

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top