Antisipasi Polio, Genjot Vaksinasi dan Perbaikan Sanitasi

Reading time: 2 menit
Perkuat cakupan vaksinasi untuk menekan merebaknya kembali polio. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut, saat ini dunia kembali diingatkan untuk meningkatkan ketertinggalan cakupan vaksinasi penyakit polio. Selain itu juga diikuti peningkatan perbaikan sanitasi di Indonesia.

Ini menyusul status darurat polio atau Acute paralytic poliomyelitis di New York, AS yang menyebabkan satu kasus mengalami kelumpuhan. Meski sampai saat ini hanya satu kasus terkonfirmasi, kejadian ini merupakan kali pertama dalam lebih dari satu dekade.

Dicky menyebut, setiap negara, termasuk Indonesia harus segera merespon tanggap dan cepat untuk mencegah potensi wabah penularan penyakit ini. Terlebih, pandemi Covid-19 memicu terhambatnya imunisasi.

“Setiap negara segera merespons, agar potensi wabah lain bisa dicegah. Potensi KLB penyakit ini dan yang lain seperti difteri, campak, penyakit lain yang bisa dicegah dengan imunisasi segera dikejar. Sebab akibat pandemi yang membuat cakupan imunisasi menurun, maka penyakit itu bisa timbul lagi.

Makanya harus segera lakukan imunisasi dasar pada anak,” katanya kepada Greeners, Senin (12/9).
Seseorang yang terpapar virus polio bisa saja tak mengalami gejala, seperti kelumpuhan dan menunjukkan gejala flu seperti halnya virus-virus lain. Hal ini, sambung Dicky justru berbahaya karena tak masyarakat sadari sejak awal.

Cegah Meluasnya Penularan Polio

Ia menyebut, penularan virus ini tak sekadar melalui tinja, tapi juga percikan air liur. “Pada beberapa kasus yang secara imunitas baik, hilang satu minggu gejalanya, tapi tetap bisa menginfeksi orang. Bukan saja lewat kotoran tinja, misalnya tapi juga bisa lewat percikan saat terinfeksi bersin atau batuk,” ucapnya.

Oleh karena itu, Dicky menekankan pentingnya deteksi atau surveilans untuk mencegah penularan. Selain itu, ia mendorong percepatan cakupan imunisasi dan vaksinasi di Indonesia. Capaian imunisasi dasar lengkap, terutama anak-anak yakni minimal 95 %. “Harus imunisasi dasar lengkap, untuk polio sebanyak empat kali,” imbuh dia.

Saat awal pandemi 2020 lalu, sambung dia Indonesia oleh WHO masuk dalam risiko penularan tinggi karena cakupan imunisasi dan vaksinasi yang rendah. Sebanyak 50 % persen kabupaten kota dan 23 provinsi dalam risiko tinggi.

Dicky menambahkan, pentingnya peningkatan sanitasi untuk mencegah penularan virus polio melalui tinja. Seperti memastikan, terutama di daerah-daerah sudah tak ada lagi defekasi terbuka di ruang publik. Upaya pembersihan tangki secara rutin minimal satu kali dalam lima tahun juga harus dilakukan. “Sehingga limbah tinja tak mencemari lingkungan dan sumber air sekitar,” tegasnya.

Dicky mengungkapkan, virus polio masuk ke tubuh melalui mulut, turun dari tenggorokan ke saluran cerna, kemudian berkembang biak di usus. Khusus untuk menekan potensi penularan melalui air liur, ia menyebut agar makanan dan minuman tersaji baik dan tertutup.

8,6 Juta Rumah Tangga Masih BAB Sembarangan

Data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan, masih ada sebanyak 8,6 juta rumah tangga yang anggota keluarganya masih mempraktikkan buang air besar (BAB) sembarangan per Januari 2020. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012 lalu juga menempatkan Indonesia berada di posisi kedua dengan penduduk BAB sembarangan kedua dunia.

Dicky menyebut, edukasi dan sosialisasi terkait pola hidup bersih dan sehat sangat perlu termasuk memastikan tak lagi BAB sembarangan. “Selain berpotensi menyebarkan virus polio juga penyakit-penyakit lain seperti diare karena sanitasi yang buruk. Oleh karena itu pemerintah harus mempercepat edukasi pada mereka,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top