BMKG : Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia

Reading time: 3 menit
Gelombang panas
Gelombang panas tidak melanda Indonesia. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi terkait gelombang panas melanda Indonesia yang ramai beredar di berbagai media sosial tidak benar. Kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa bukan kategori gelombang panas.

Informasi yang menyebar di media sosial dan Whatapps menyebut kini cuaca sangat panas, suhu pada siang hari bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat dalam pesan itu, harus menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

“Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih,” kata Urip dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10).

Hal tersebut mengacu pada kriteria Badan Meteorologi Dunia (WMO). Selain itu kelembapan udara yang tinggi menyertai terjadinya gelombang panas. Lalu suatu lokasi yang mengalami gelombang panas harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik.

“Misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut,” imbuhnya.

Urip menambahkan, apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak bukan sebagai gelombang panas.

Hidrasikan tubuh

Hidrasikan tubuh saat cuaca terik. Foto: Shutterstock

Hanya Gerak Semu Matahari

Lebih lanjut Urip menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat. Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

“Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari,” tegasnya.

Fenomena ini merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun. Akibatnya potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C.

Namun kata Urip, catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini. Atau masih berada dalam rentang variabilitasnya di bulan Oktober. Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Tak Alami Gelombang Panas

BMKG melihat pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari tepat di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gerakan ini dalam perjalanan menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September atau Oktober serta Februari atau Maret. Oleh sebab itu, puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Di samping itu, cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya siklon tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah, berawan dalam beberapa hari terakhir.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page