Studi: Penerapan Praktik Guna Ulang Bisa Bangkitkan Ekonomi

Reading time: 3 menit
Studi Daya Makara Universitas Indonesia (UI) menunjukkan, penerapan praktik guna ulang mampu membangkitkan ekonomi. Foto: Dietplastik Indonesia
Studi Daya Makara Universitas Indonesia (UI) menunjukkan, penerapan praktik guna ulang mampu membangkitkan ekonomi. Foto: Dietplastik Indonesia

Jakarta (Greeners) – Perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia menjadi salah satu dampak yang perlu antisipasi dari pengurangan ultilasi sachet dan pouch plastik. Studi Daya Makara Universitas Indonesia (UI) menunjukkan, solusi penerapan praktik guna ulang mampu mengompensasi perlambatan tersebut melalui bangkitan ekonomi baru dari aktivitas bisnis guna ulang.

Berdasarkan hasil analisis input-output, Indonesia akan kehilangan nilai tambah ekonomi baru. Kehilangan itu mencapai Rp21 juta untuk setiap satu ton penurunan permintaan akhir sachet dan pouch. Namun, solusi praktik guna ulang bisa mengompensasi perlambatan ekonomi yang muncul dari penurunan tersebut senilai Rp23 juta per ton sampah.

Solusi guna ulang dapat berpotensi memberikan kontribusi nilai ekonomi bersih sampai dengan Rp1,5 triliun pada tahun 2030. Namun, dengan syarat sistem guna ulang bisa memiliki standardisasi dan infrastruktur yang memadai serta dukungan kebijakan pemerintah.

Terciptanya aktivitas bisnis guna ulang ini tidak hanya membangkitkan ekonomi di Indonesia. Ada keuntungan sosial yang masyarakat rasakan dari penurunan jumlah plastik yang lepas ke alam.

BACA JUGA: Praktik Guna Ulang Solusi Kurangi Sampah Plastik dan Krisis Iklim

Head of Sustainable Development Research Cluster Daya Makara UI, Bisuk Abraham Sisungkunon mengatakan ada sentimen positif untuk berpartisipasi di dalam solusi guna ulang. Berdasarkan hasil survei, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kesediaan masyarakat Jabodetabek untuk berpartisipasi dalam model return dan refill.

“Ketersediaan pusat penukaran kemasan atau pusat isi ulang di retail modern, seperti pasar swalayan dan mal, menurunkan tingkat penolakan dari masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi guna ulang,” kata Bisuk di Jakarta, Kamis (28/3).

Bisuk menambahkan, responden yang menunjukkan kesediaan tinggi untuk berpartisipasi pada solusi guna ulang banyak termotivasi oleh perlindungan lingkungan. Kemudian, bagi individu yang tidak minat mempraktikkan guna ulang, mereka menganggap sachet dan pouch masih menjadi produk yang praktis.

Studi Daya Makara Universitas Indonesia (UI) menunjukkan, penerapan praktik guna ulang mampu membangkitkan ekonomi. <yoastmark class=

Guna Ulang Produk Non Pangan Menjadi Pilihan

Sementara itu, masyarakat Jabodetabek cenderung merasa lebih nyaman apabila solusi guna ulang mereka mulai dari produk non pangan. Misalnya, cairan pencuci piring, deterjen, pelicin pakaian, sabun mandi, dan sampo.

“Cairan pencuci piring serta deterjen, pelembut, dan pelicin pakaian menjadi dua tipe produk dengan tingkat penerimaan tertinggi untuk didistribusikan oleh operator solusi guna ulang,” kata Bisuk.

Selain itu, perlu pemberian insentif kepada konsumen dalam adopsi guna ulang. Hal itu bertujuan supaya konsumen termotivasi melakukan kebiasaan ini. Responden menilai, cashback atau potongan harga pada pembelian produk berikutnya sebagai bentuk insentif dari operator solusi guna ulang yang mereka rasa paling menarik.

Operator Guna Ulang Perlu Perhatikan Banyak Aspek

Mengadopsi solusi guna ulang di kalangan masyarakat tidaklah mudah bagi operator atau para pebisnis guna ulang. Ada banyak aspek yang perlu mereka perhatikan. Mulai dari aspek higienitas hingga keamanan produk sangat penting untuk mereka jaga.

“Dari aspek higienitas, ketika produk berpindah dari bulk ke yang kecil, apakah bisa menjamin kebersihannya?” tambah Bisuk.

Kemudian, kemasan guna ulang juga perlu operator perhatikan. Misalnya, kemasan perlu didesain sedimikian rupa sehingga tidak berdampak negatif pada penjualan ataupun popularitas dari produk.

Sulit Mendaur Ulang Kemasan Sachet dan Pouch

Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira mengatakan sulit mendaur ulang sampah sachet dan pouch. Sebab, materialnya sangat kecil dan berlapis-lapis (multilayer).

“Studi ini bermula saat kami terusik dengan sampah sachet dan pouch yang enggak bisa didaur ulang dan kami sering menemukan sampah ini berserakan,” ujar Tiza.

Menurut Tiza, guna ulang menjadi solusi tepat untuk menggantikan sachet dan pouch. Namun, sachet dan pouch masih menjadi pilihan masyarakat karena memiliki harga yang murah.

BACA JUGA: Isi dan Guna Ulang Solusi Tepat Kurangi Plastik

“Padahal, biaya eskternal dari sachet itu ada biaya dampak lingkungan hidup, dampak kesehatan, dan perubahan iklim. Namun, itu enggak tercermin dari harga sachet dan ternyata itu lebih mahal. Studi ini menemukan bahwa biaya eksternal mencapai Rp1,7 triliun per tahunnya,” imbuh Tiza.

Studi ini merupakan hasil kerja sama Daya Makara UI, Dietplastik Indonesia, Indonesian Center Environmental Law (ICEL), dan Greenpeace Indonesia. Setelah proses riset berjalan selama satu tahun, studi “Dampak Lingkungan dan Sosial Dari Pemanfaatan Sachet dan Pouch Serta Ekspansi Solusi Guna Ulang di Jabodetabek” berhasil mereka rilis pada tahun 2024.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top