Diversifikasi Pangan untuk Menekan Ketergantungan Beras

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Beras telah lama menjadi komoditas pangan yang paling pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, beras pun akhirnya menjadi “food habit” sehingga masyarakat beranggapan bahwa belum dikatakan makan kalau belum makan nasi.

Berdasarkan hasil sensus pertanian pada tahun 2013 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS), ternyata impor pangan Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2003 impor pangan senilai USD 3,34 miliar, tahun 2013 nilainya sudah mencapai USD 14,9 miliar atau naik lebih dari 400% dalam kurun waktu 10 tahun.

Bahkan tahun 2013, Vietnam telah menjadi pemasok terbesar beras impor Indonesia dengan jumlah beras 171.286 ton atau senilai USD 97,3 juta. Impor beras dari Vietnam ini juga menyumbang 36,3% dari total impor beras Indonesia pada tahun 2013.

Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, pakar gizi dan keamanan pangan dari Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), menyatakan bahwa konsumsi beras penduduk Indonesia adalah yang tertinggi di dunia dengan data konsumsi beras Indonesia yang rata-rata mencapai 139 kilogram per kapita per tahun. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, Indonesia masih harus melakukan impor.

“Sebaiknya konsumsi beras ini dikurangi karena dengan jumlah penduduk sebanyak 241 juta jiwa, maka total konsumsi beras yang dibutuhkan itu berarti 33,54 juta ton per tahun.,” terangnya, Jakarta, Jumat (13/03).

Terkait diversifikasi pangan, Prof. Ahmad yang juga Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia ini juga menyampaikan, hingga kini sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa diversifikasi pangan adalah pengalihan pola makan yang tadinya mengonsumsi makanan pokok beras menjadi non beras.

Padahal menurutnya, arti dari diversifikasi pangan itu sendiri adalah penganekaragaman pangan yang berarti dalam satu minggu masyarakat tidak harus mengonsumsi nasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

“Kebutuhan karbohidrat harian itu dapat ditemui dari sumber makanan lain selain beras, seperti jagung, sagu, singkong dan lain lain,” ujarnya.

Selain itu, untuk menerapkan program diversifikasi pangan, masyarakat juga bisa memulainya pada anak-anak dengan menerapkan bahwa makan bukan berarti harus makan nasi, tetapi makan sesuai dengan konsumsi makanan bergizi, beragam dan berimbang.

“Pola seperti ini akan dapat menghapus anggapan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat bahwa makan itu ya nasi, dan belum makan jika belum makan nasi,” kata Ahmad.

Senada dengan Ahmad, Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko juga mengamini bahwa ada banyak sumber pangan yang sebenarnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat selain beras. Menurut Tejo, Indonesia memiliki lebih dari 77 sumber karbohidrat yang baik dan mampu menggantikan beras.

“Kenapa harus beras kalau sumber karbohidrat lainnya masih banyak untuk dikonsumsi?” katanya.

Sekadar informasi, indikator besarnya kebutuhan beras di Indonesia bisa dilihat di Pasar Induk Cipinang (PIC) atau Jakarta Food Station (JFS) sebagai badan usaha milik daerah (BUMD) yang berada di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setidaknya Indonesia memerlukan beras 2.500 ton bahkan sampai 3.000 ton untuk mencukupi kebutuhan masyarakat khususnya pada saat masa-masa sensitif dan hari-hari besar nasional.

Penulis: Danny Kosasih

Top