Dorong Transportasi Berkelanjutan di 6 Kota Besar untuk Kurangi Polusi

Reading time: 2 menit
Transportasi umum yang memadai dan layak akan mampu mengurangi emisi kendaraan bermotor. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kementerian PPN Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong transportasi berkelanjutan di enam kota besar di Indonesia. Saat ini sektor transportasi masih menyumbang emisi dan pencemaran udara.

Direktur Transportasi Kementerian PPN Bappenas, Ikhwan Hakim mengatakan, pengembangan transportasi berkelanjutan ini akan fokus dilakukan di enam kota metropolitan di antaranya Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Semarang, dan Makassar.

“Pendekatan sudah sesuai, kita fokus pada enam kota metropolitan dengan tiga strategi. Kelembagaan pun dibangun juga, urban mobility plan didukung, dan skema pendanaannya disiapkan,” kata Ikhwan dalam Webinar Diseminasi Hasil Studi Dampak Polusi Udara Dari Sektor Transportasi terhadap Kesehatan di Indonesia, Senin (24/7).

Saat ini transportasi berbahan bakar fosil memperburuk kualitas udara di Indonesia. Perlu adanya kebijakan transportasi umum untuk mengurangi polusi dan emisi.

Laporan World Air Quality Report dari IQAir menyebut, kualitas udara di sejumlah kota besar Indonesia tergolong buruk. IQAir mengukur berdasarkan konsentrasi particulate matter (PM) 2.5 di udara.

Partikel ini salah satunya berasal dari asap kendaraan bermotor yang menyumbang banyak polutan. Tahun 2022 kendaraan bermotor pun mengalami peningkatan hingga mencapai 163 juta unit. Sepeda motor mendominasi hampir 81 %. Hal ini juga menjadi faktor penurunan pengguna public transport di Jabodetabek.

Dalam hal ini, pelaku daerah memiliki andil yang besar untuk menyiapkan mobility plan dan kematangan kelembagaan.

Tiga Kebijakan Transportasi Berkelanjutan

Sementara itu, ada tiga kebijakan yang dirumuskan dalam rencana mobilitas berkelanjutan. Kebijakan tersebut terdiri dari avoid, shift, dan improve.

Kebijakan avoid untuk mengurangi energi dari aktivitas perjalanan. Simulasi kebijakan ini berupa pengembangan berorientasi transit dan remote working. Kemudian, kebijakan shift yaitu menggeser pola kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Lalu kebijakan improve dengan memanfaatkan teknologi terbaru misalnya menggunakan kendaraan listrik atau berbasis energi baru terbarukan (EBT). Cara ini bisa meningkatkan efisiensi energi dan pengurangan pengeluaran karbon.

Bappenas juga merancang rencana mobilitas seperti pengembangan koridor-koridor angkutan umum dalam rangka meningkatkan penggunaannya dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Transportasi publik ramah lingkungan perlu didorong. Foto: Shutterstock

Pencemaran Udara Ancam Kesehatan

Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Budi Haryanto berpendapat, pendekatan kepada sektor transportasi untuk mengurangi polusi dan memperbaiki kualitas udara keputusan tepat.

“Kita melihat sumber polusi udara yang terbesar dari transportasi kontribusinya 35 % sampai 55 %,” ungkap Budi.

Ia menambahkan, tanpa sadar, manusia saat ini sedang menghirup udara yang telah tercemar sehingga berbagai macam polutan bisa masuk ke dalam paru-paru.

Jika pencemaran udara belum teratasi tegasnya, manusia bisa dengan cepat terserang penyakit seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), batuk, pilek, radang tenggorokan, dan penyakit kronis lainnya. Bahkan bisa menyebabkan kematian pada usia dini.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Top