Jakarta Habitat Bagi 13 Jenis Burung yang Dilindungi

Reading time: 2 menit
Bangau Bluwok. Foto: flickr.com

Jakarta (Greeners) – Jakarta ternyata masih menyimpan keanekaragaman hayati, baik disadari atau tidak oleh warganya. Dari sekian banyak keanekaragaman hayati tersebut, Ibukota Indonesia ini masih memiliki 13 jenis burung yang dilindungi oleh UU nomor 5 tahun 1990 dan PP nomor 7 tahun 1999.

Capture Nature Jakarta atau biasa disingkat dengan Cap(na)ture, melalui hasil pengamatannya mencatat terdapat 58 jenis burung, 28 jenis capung, 29 jenis kupu-kupu, 17 jenis herpetofauna, 8 jenis mamalia dan 7 jenis jamur. Dari 58 jenis burung tersebut, terdapat 13 jenis burung yang dilindungi oleh undang-undang.

“Berdasarkan status keterancamannya sendiri, ada satu jenis burung yang sangat terancam punah yaitu kakatua jambul kuning, satu jenis yang terancam punah yaitu bangau bluwok dan tiga jenis yang hampir terancam punah yaitu betet biasa, cerek jawa dan pecuk ular asia,” jelas Ahmad Baihaqi selaku koordinator dari Cap(na)ture Jakarta, Sabtu (14/11).

Pria yang akrab disapa Abay ini menyatakan, dari hasil pengamatan, terdapat juga jenis jamur yang sudah mulai langka di Jakarta, yaitu jamur tudung pengantin dan salah satu maskot Jakarta yang hampir punah akibat pembangunan proyek normalisasi Sungai Ciliwung, yaitu salak condet.

“Salak condet hanya bisa ditemukan di Balai Kembang, Jakarta Selatan dan Batu Ampar, Jakarta Timur karena dekat wilayah sungai,” katanya.

Sebagai informasi, kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati bertajuk Cap(na)ture Jakarta ini telah dituangkan dalam bentuk buku bertajuk “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota”. Buku ini dilengkapi dengan foto-foto dan keterangan yang sangat membantu untuk melakukan identifikasi.

Kegiatan ini juga diinisiasi oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Komunitas Peta Hijau Jakarta, serta komunitas peduli lingkungan lainnya seperti Biological Science Club (BScC), Indonesia Wildlife Photography (IWP) dan Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Buku ini diakui Abay belum memuat seluruh biodiversitas di ruang terbuka hijau Jakarta karena pengamatan belum difokuskan untuk seluruh biota di seluruh kawasan tersebut.

Penulis: Danny Kosasih

Top